Beirut, MINA – Ribuan warga Lebanon turun ke jalan di ibu kota Beirut untuk menolak rencana negosiasi antara pemerintah Lebanon dan Israel, di tengah meningkatnya konflik dan ketidakpercayaan publik terhadap upaya diplomasi tersebut.
Aksi demonstrasi tersebut diwarnai dengan pengibaran bendera dan seruan perlawanan terhadap Israel. Para pengunjuk rasa menilai negosiasi hanya akan menguntungkan pihak Israel dan tidak membawa keadilan bagi rakyat Lebanon yang selama ini terdampak serangan militer.
Penolakan ini muncul setelah adanya wacana pembukaan dialog langsung antara kedua negara, yang dipicu oleh situasi konflik berkepanjangan di wilayah perbatasan.
Al-Mayadeen melaporkan, Senin (13/4) sejumlah warga menilai langkah tersebut tidak relevan selama serangan dan pendudukan masih berlangsung.
Baca Juga: Studi di Jerman: Hampir Separuh Pemuda Muslim Miliki Pandangan Islamis
Kelompok Hezbollah dan sejumlah tokoh politik di Lebanon juga menyatakan penolakan terhadap negosiasi langsung dengan Israel. Mereka menegaskan bahwa prasyarat utama adalah penghentian agresi serta penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Dalam beberapa pekan terakhir, konflik antara Israel dan Lebanon semakin meningkat, dengan serangan udara yang menewaskan ratusan orang dan menyebabkan kerusakan luas di berbagai wilayah.
Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan dan memicu gelombang pengungsian besar-besaran.
Penolakan publik terhadap negosiasi mencerminkan krisis kepercayaan terhadap proses diplomasi, terutama di tengah tekanan militer yang masih berlangsung. []
Baca Juga: Meski Perundingan Buntu, Pakistan Desak AS dan Iran Pertahankan Gencatan Senjata
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic