Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS Akui Pertahanan Udara Tak Mampu Menahan Seluruh Serangan Iran

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Kamis, 5 Maret 2026 - 21:27 WIB

Kamis, 5 Maret 2026 - 21:27 WIB

13 Views ㅤ

Menteri Perang AS Pete Hegseth (foto: IG)

Washington, MINA – Amerika Serikat mengakui sistem pertahanan udaranya tidak sepenuhnya mampu menahan setiap serangan drone Iran di tengah eskalasi perang dengan Israel dan sekutu AS.

Pengakuan ini disampaikan pejabat militer Washington dalam pengarahan tertutup kepada anggota Kongres, menyoroti tantangan baru menjaga keamanan wilayah udara di Timur Tengah. Anadolu melaporkan, Kamis (5/3).

Pejabat militer AS, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, menyampaikan bahwa drone tipe Shahed buatan Iran memiliki karakteristik terbang rendah dan lambat, sehingga sulit dideteksi radar.

Beberapa drone bahkan mampu menembus pertahanan udara AS tanpa terintersep, meskipun sistem canggih seperti Patriot dan THAAD telah diterapkan.

Baca Juga: Abdul El-Sayed dari Demokrat Jadi Muslim Pertama yang Terpilih Masuk Senat AS

Masalah ini diperparah oleh jumlah drone Iran yang terus bertambah dan biaya produksinya yang rendah. Drone Shahed hanya menelan biaya puluhan ribu dolar per unit, jauh lebih murah dibanding biaya roket intercept yang mencapai jutaan dolar.

Kondisi ini memunculkan ketidakseimbangan biaya dan tantangan strategis bagi AS dalam menjaga wilayah udara dan melindungi sekutu.

Senator Mark Kelly dan sejumlah anggota Kongres memperingatkan bahwa persediaan amunisi sistem pertahanan udara AS terbatas. Mereka menekankan pentingnya strategi bertahan yang efisien untuk menghadapi serangan massal UAV Iran yang dapat menimbulkan kerusakan besar jika tidak ditangkal secara tepat.

Ancaman drone Iran tidak hanya dirasakan oleh AS. Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat beberapa rudal jelajah dan drone yang masuk wilayahnya. Kejadian ini menunjukkan dampak luas serangan UAV Iran terhadap keamanan regional, termasuk jalur energi dan perdagangan global.

Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS

Beberapa analis menilai strategi Iran dengan menggunakan drone murah namun efektif merupakan bentuk perang asimetris. Dengan memaksimalkan jumlah drone Shahed, Tehran dapat menekan AS dan sekutu tanpa harus menghadapi konfrontasi langsung yang lebih mahal dan berisiko tinggi.

Pengakuan keterbatasan pertahanan udara AS muncul di tengah eskalasi perang yang dimulai pada 28 Februari 2026. Serangan udara koalisi AS–Israel terhadap fasilitas militer Iran dibalas Teheran dengan gelombang rudal dan serangan drone ke wilayah Israel serta pangkalan sekutu AS di Teluk, menimbulkan kekhawatiran konflik berkepanjangan di kawasan.

Kondisi ini menegaskan kompleksitas situasi di Timur Tengah. Selain risiko militer, perang Iran–AS–Israel juga berdampak ekonomi, geopolitik, dan stabilitas energi global.  []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru

Rekomendasi untuk Anda

Dunia Islam
Dunia Islam
Dunia Islam
Internasional
Dunia Islam