New York, MINA — Raja Yordania Abdullah II mengatakan komunitas internasional selama puluhan tahun lebih memilih mengelola konflik Palestina-Israel daripada menyelesaikannya. Pernyataan itu disampaikan dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Selasa (22/9).
Menurut Abdullah, berbagai pelanggaran yang semula dianggap sementara akhirnya berubah menjadi kondisi permanen dan kemudian menjadi kebijakan. Ia menilai situasi tersebut turut memperburuk persoalan Palestina dan menghambat penyelesaian politik yang berkelanjutan. Anadolu melaporkan.
Abdullah secara khusus menyoroti kondisi di Tepi Barat yang diduduki. Ia menyebut perluasan permukiman, kekerasan dan pemindahan warga Palestina sebagai bagian dari kebijakan yang menurutnya bertujuan mendorong warga Palestina meninggalkan tanah mereka.
Dalam pidatonya, Raja Abdullah juga mengatakan pemindahan paksa warga Palestina di Tepi Barat merupakan kejahatan perang. Ia menilai perkembangan di wilayah tersebut bukan sekadar peningkatan ketegangan, melainkan perubahan mendasar yang membutuhkan perhatian internasional.
Baca Juga: Türkiye dan Pakistan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Saudi
Terkait Gaza, Abdullah mengatakan sedikitnya 300 anak Palestina tewas dalam 300 hari pertama periode gencatan senjata yang disebutnya, sementara rumah sakit lapangan Yordania juga menjadi sasaran. Ia juga menyebut warga Palestina kini menghadapi kehancuran infrastruktur sipil dan pembatasan wilayah yang mereka tempati.
Abdullah menyerukan penyelesaian konflik berdasarkan hukum internasional dan menegaskan Yordania akan tetap mendukung rakyat Palestina, termasuk melalui dukungan terhadap UNRWA. Ia juga memperingatkan bahwa perkembangan di Tepi Barat dan kebijakan Israel di kawasan, termasuk Suriah, memiliki dampak lebih luas terhadap keamanan regional. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Berakhirnya Misi Militer AS, Irak Hadapi Tekanan Fragmentasi Internal
















Mina Indonesia
Mina Arabic