Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menunggu yang Halal Tidak Pernah Merugikan

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 27 Juni 2026 - 07:05 WIB

Sabtu, 27 Juni 2026 - 07:05 WIB

39 Views ㅤ

Ilustrasi Pernikahan (foto: Ist)

DI ZAMAN ketika segala sesuatu serba instan, kesabaran menjadi sesuatu yang terasa mahal. Media sosial setiap hari menampilkan kisah-kisah romantis, foto pasangan, ungkapan cinta, dan berbagai bentuk kemesraan yang membuat banyak anak muda Muslim merasa tertinggal jika belum memiliki pasangan. Tidak sedikit yang akhirnya memilih jalan pacaran karena takut dianggap tidak laku, takut kesepian, atau khawatir jodohnya direbut orang lain. Padahal ketakutan itu sering kali lahir bukan dari kenyataan, melainkan dari bisikan hawa nafsu dan tekanan lingkungan.

Islam mengajarkan sesuatu yang berbeda. Allah tidak pernah memerintahkan hamba-Nya untuk tergesa-gesa dalam urusan yang besar, termasuk memilih pasangan hidup. Sebaliknya, Allah mengajarkan kesabaran, doa, ikhtiar, dan tawakal. Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat di atas mengingatkan bahwa penilaian manusia sering kali hanya berdasarkan apa yang tampak di depan mata, sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup hingga akhirnya.

Fenomena pacaran di kalangan generasi muda Muslim hari ini menunjukkan satu kenyataan yang menyedihkan. Banyak hubungan dimulai dengan penuh harapan, tetapi berakhir dengan kekecewaan. Banyak yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menjalin hubungan, namun akhirnya berpisah ketika pernikahan sudah di depan mata.

Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang

Tidak sedikit yang kehilangan semangat belajar, kehilangan fokus bekerja, bahkan kehilangan harga diri karena hubungan yang sejak awal tidak dibangun di atas fondasi yang benar. Air mata yang mereka sembunyikan sering kali jauh lebih banyak daripada senyum yang mereka tampilkan kepada dunia.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa menjaga kehormatan adalah bagian dari kemuliaan seorang mukmin. Beliau bersabda, “Barang siapa menjaga kehormatan dirinya, niscaya Allah akan menjaganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengandung janji yang sangat besar. Ketika seorang hamba meninggalkan sesuatu yang dilarang karena takut kepada Allah, ia sebenarnya tidak sedang kehilangan. Ia sedang dijaga oleh Allah dari luka-luka yang mungkin belum ia lihat.

Para ulama salaf juga memberikan nasihat yang sangat dalam tentang kesabaran. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat untuk aku obati selain niatku.” Perkataan ini menunjukkan bahwa perjuangan terbesar seorang mukmin sering kali terjadi di dalam hati. Menahan diri dari sesuatu yang diinginkan bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan. Kesabaran bukan berarti pasif, melainkan kemampuan untuk tetap taat ketika hawa nafsu mengajak kepada jalan yang lebih mudah.

Menunggu yang halal bukan berarti hanya duduk menanti takdir. Menunggu adalah masa untuk memperbaiki diri. Saat belum memiliki pasangan, seseorang memiliki kesempatan memperbaiki ibadahnya, memperluas ilmunya, memperbaiki akhlaknya, menguatkan ekonomi, berbakti kepada orang tua, dan menyiapkan diri menjadi pasangan yang bertanggung jawab. Bukankah kita sering berharap mendapatkan pasangan yang saleh atau salehah? Maka pertanyaan yang lebih penting adalah, sudahkah kita berusaha menjadi pribadi yang layak untuk pasangan seperti itu?

Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi

Allah juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar. Firman-Nya, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan sabar di sisi Allah hingga pahalanya tidak disebutkan dengan hitungan tertentu. Ini adalah janji yang tidak pernah diingkari oleh Allah.

Banyak orang yang hari ini hidup bahagia dalam rumah tangga yang penuh keberkahan memulai kisahnya bukan dengan pacaran, tetapi dengan menjaga diri. Mereka mungkin pernah merasa kesepian. Mereka mungkin pernah menahan air mata karena melihat teman-temannya telah memiliki pasangan.

mereka memilih percaya kepada janji Allah daripada mengikuti dorongan sesaat. Ketika waktunya tiba, Allah mempertemukan mereka melalui jalan yang baik, disaksikan keluarga, dipenuhi doa, dan diberkahi oleh akad yang halal. Kebahagiaan seperti ini bukan sekadar tentang memiliki pasangan, tetapi tentang ketenangan yang lahir karena menaati Allah.

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Tidaklah Allah mengambil sesuatu dari seorang hamba, lalu ia bersabar, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.” Nasihat ini mengajarkan bahwa setiap pengorbanan dalam ketaatan tidak pernah sia-sia. Mungkin kita kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan sesaat, tetapi Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih berkah.

Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah

Karena itu, jangan takut jika hari ini engkau masih menunggu. Jangan merasa rugi karena belum memiliki pasangan. Jangan iri kepada mereka yang tampak bahagia di media sosial, sebab kita tidak pernah benar-benar mengetahui isi kehidupan mereka. Tugas kita bukan berlomba-lomba mendahului takdir, tetapi mempersiapkan diri menyambut takdir dengan cara yang diridhai Allah.

Teruslah berdoa, berikhtiar, memperbaiki diri, dan menjaga hati. Apa yang ditinggalkan karena Allah tidak akan menjadi kerugian. Apa yang dijaga karena Allah tidak akan menjadi penyesalan. Dan ketika saat yang telah Allah tetapkan itu tiba, engkau akan memahami bahwa kesabaran tidak pernah sia-sia, menunggu yang halal tidak pernah merugikan, dan semua benar-benar akan indah pada waktunya.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah

Rekomendasi untuk Anda

Khadijah
Artikel
Tausiyah
Tausiyah
Tausiyah