ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya bagi Allah, yang telah memberi kita kesempatan merasakan ibadah sepanjang bulan suci Ramadhan. Bulan ibadah berpuasa, menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, hawa nafsu, dan akhirnya menyambut Idul Fitri, hari kemenangan sejati.
Kini, saat ini hari ini merilah kita tengok kembali hati kita sendiri. Hati yang sepanjang bulan suci Ramadhan ditempat dengan amalan hingga bersih, tapi diam-diam kini mulai terkena noda penyakit hati.
Jika kita telah berupaya puasa Ramadhan sebulan penuh, berusaha untuk rutin shalat berjamaah dan shalat Tarawih, tapi setiap kali kita mendengar tentang keberhasilan orang lain, lalu hati kita kok terasa sesak. Itu adalah iri, penyakit hati yang diam-diam merusak amal. Seharusnya kita ikut bersyukur dan bahkan mendoakan semoga Allah jaga kebaikan orang tersebut. Kalau masih belum seperti itu, bermakna masih ada sesuatu yang mengotori hati kita. Kita khawatir justru Allah tidak berkenan pada kita. Sebab toh semua terjadi atas izin Allah.
Terkait dengan puasa Ramadhan, Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam sabdanya:
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari, Muslim).
Demikian pula ketika kita sepanjang bulan suci Ramadhan menahan lapar, menahan haus, tapi kalau masih ada rasa iri hati pada kesuksesan atau karunia yang Allah berikan pada orang lain. Maka, patut kita mengingat kembali puasa Ramadhan kita. Bahwa puasa sejatinya adalah puasa hati, puasa lisan dan puasa perbuatan dari hal-hal yang merusak amal. Jika hati masih mengandung iri, dengki, atau dendam, puasa kita belum berdampak. Padahal tujuan utama puasa Ramadhan adalah berdampak pada ketakwaan perilaku setiap hari. (QS Al-Baqarah: 183).
Demikian juga misalnya, ketika anak kecil atau cucu kecil kita menumpahkan air minum di gelas hingga gelas itu terjatuh dan pecah. Lalu kita marahi anak kecil sampai menangis, atau kita cubit, sampai anak itu tertindas secara psikologis. Karena tidak mampu melawan kemarahan kita. Pertanyaannya, “Apakah gelas pecah itu kembali utus seperti semula? Atau tetap pecah?” Bagaimana kalau kita ucapkan kata-kata yang lebih bermakna buat anak kecil. “Nggak apa-apa sayang, sebentar kita bersihin ya, sayang pindah ke sana ya, supaya nggak terkena pecahan gelas.” Enak toh? Pecahan gelas kita rapikan, anak kecil kita tenagkan, amarah kita kendalikan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Itulah dampak puasa Ramadhan yang semestinya. Ini berlaku saat kita menghadapi keluarga kita tercinta, staf kita, rekanan kita. Tegas ya, tapi tidak emosional. Kesalahan tentu tidak dibiarkan. Tapi diarahkan tanpa perlu meledak-ledak seperti rudal balistik.
Rasulullah ﷺ mengingatkan akan hakikat puasa Ramadhan dalam sabdanya, “Puasa adalah perisai ….” (HR. Bukhari dan Muslim).
Saudaraku, setiap kali kita menahan diri dari amarah, hati kita terlatih, sabar terbentuk, dan damai mengalir perlahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya:
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Thaha: 131).
Hati yang fitri adalah hati yang bersih dari iri dan dengki, bersyukur atas nikmat Allah, dan mendoakan kebaikan bagi semua.
Karena itu, Idul Fitri bukan tentang makanan lezat atau pakaian baru. Kemenangan sejati Idul Fitri adalah hati yang kembali suci menuju Ridha ilahi.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Marilah kita latih terus jiwa kita untuk bisa memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, untuk tidak iri melihat kebahagiaan orang lain, dan untuk tetap tenang dan bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada siapapun. Serta memiliki jiwa gemar memberi kepada orang yang tidak meminta apalagi yang meminta kepada kita.
Kalau ini kita biasakan. Maka insya-Allah hati kita ringan, damai, dan lapang. Hingga setiap ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” bukan sekadar kata-kata, tapi menjadi janji pengingat hati. Bahwa “Aku akan menjaga hatiku tetap fitri.”
Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah puasa Ramadhan kita. Puasa yang dapat menjaga hati kita bersih, amalan yang ikhlas, dan merasa bahagia manakala bisa membuat orang lain bahagia, dalam hal yang diridhai Allah
Semoga kita diberi kekuatan dari Allah untuk tetap merawat hati seperti kita merawat cahaya paling berharga. Hatibyang bersih dari iri, dengki, dan amarah yang menodai cahaya hati. Hati yang fitri adalah harta paling berharga yang kita bawa dari Ramadan menuju hari-hari berikutnya.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
















Mina Indonesia
Mina Arabic