Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemilu Israel: Netanyahu Gagal, Jalanan Menuntut “Bibi Masuk Penjara”

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 29 Oktober 2026 - 06:51 WIB

Kamis, 29 Oktober 2026 - 06:51 WIB

38 Views ㅤ

Spanduk Pemilu Israel. (Foto: Iranintl)

Tel Aviv, MINA — Pemilu Israel telah usai, tetapi pemenangnya belum ditemukan.

Sampai Rabu malam, 28 Oktober 2026, penghitungan suara telah mencapai lebih dari 84,5%. Hasilnya bukan kemenangan, melainkan kebuntuan yang lebih memalukan daripada kekalahan.

Dengan penghitungan tersebut, blok kanan yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya meraih 54 kursi, terpaut 7 kursi dari ambang batas mayoritas 61 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang.

Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot meraih 49 kursi, dan partai Arab mencapai rekor tertinggi dengan 17 kursi.

Baca Juga: Jumlah Perempuan Palestina di Penjara Israel Capai 88 Orang

Angka-angka ini menyatakan satu fakta yang tak terbantahkan: Likud masih menjadi partai terbesar, tetapi Netanyahu telah kehilangan kemampuan untuk mengendalikan parlemen.

61 Kursi: Ilusi yang Tak Terjangkau

Dalam sistem proporsional murni dengan fragmentasi partai yang ekstrem, selisih 7 kursi ibarat jurang yang tidak terjembatani. Bahkan jika semua partai kecil bergabung, blok kanan tetap tidak dapat menyentuh ambang batas tersebut.

Yang lebih ironis adalah, “penentu” yang menentukan siapa yang bisa membentuk pemerintahan justru adalah partai Arab, partai yang selama ini dicap “anti-Zionis” oleh Netanyahu dan sekutunya.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Hebron Setelah 10 Hari Serangan Militer

Blok oposisi, meskipun secara matematis memiliki peluang (49 + 17 = 66 kursi, melebihi 61), terikat oleh sumpah politik yang menolak bekerja sama dengan partai Arab.

Paradoks Partai Arab

Inilah inti paling dramatis dari pemilu ini. Tingkat partisipasi pemilih Arab-Israel melonjak secara historis, mendorong perolehan kursi partai Arab ke rekor tertinggi dalam sejarah.

Pemilih Arab menyumbang sekitar 20% dari populasi Israel, dan kali ini tingkat partisipasi mereka mendekati 80%, jauh melampaui pemilu sebelumnya.

Baca Juga: Israel Lanjutkan Serangan di Gaza, Lima Warga Palestina Syahid 

Secara matematis, jika kursi blok oposisi (49) ditambahkan dengan kursi partai Arab (17), totalnya mencapai 66 kursi, jauh melebihi ambang batas 61 kursi. Namun kenyataannya, Eisenkot tidak berani berkoalisi dengan partai Arab. Netanyahu pun tidak mau.

Kubu Netanyahu bahkan sudah jelas menolak membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai Arab, bahkan menyebut mereka “anti-Zionis”.

Sisi Eisenkot lebih rumit. Ia sendiri menyatakan akan “melakukan segala daya upaya untuk membentuk pemerintahan”. Tetapi mitra utamanya, Bennett dan Lieberman, dengan tegas menolak duduk setara di meja perundingan dengan partai Arab.

Analisis dari Swiss Radio and Television (SRF) menunjukkan bahwa baik kubu pro-Netanyahu maupun anti-Netanyahu sama-sama menekankan keinginan untuk “diperintah oleh mayoritas Zionis”, yaitu tanpa partai Arab.

Baca Juga: Pasukan Israel Mundur dari Al-Khalil Usai Sepuluh Hari Lakukan Pengepungan

Akibatnya, kunci yang dipegang partai Arab tidak ada yang berani mengambilnya. Netanyahu lebih memilih mengunci diri dalam kebuntuan daripada menerima kebaikan yang ia anggap memalukan ini.

Jalanan Berteriak: “Bibi Harus Masuk Penjara”

Jangan hanya melihat angka. Lihat juga jalanan.

Tiga hari sebelum pemilu, ribuan orang berunjuk rasa di Tel Aviv. Ini bukan protes biasa, ini adalah “pengadilan” terhadap Netanyahu.

Baca Juga: Liga Arab Kutuk Penyiksaan Sistematis terhadap Tahanan Asal Gaza di Penjara Israel

Kelompok Dewan Oktober yang terdiri dari keluarga korban dan keluarga sandera 7 Oktober mengorganisir demonstrasi ini. Tuntutan intinya hanya satu: bentuk komisi investigasi nasional, selidiki kelalaian 7 Oktober, Netanyahu harus bertanggung jawab.

Bahkan lebih awal dari itu, pada September, demonstran telah berunjuk rasa di luar Knesset dengan spanduk bertuliskan “Jangan biarkan Netanyahu menyabotase pemilu”.

Ada pula yang mengenakan pakaian tahanan oranye dengan tulisan “Bibi harus masuk penjara”.

“Kami membutuhkan pemerintah yang peduli pada warganya. Kami harus tahu apa yang menyebabkan pembantaian 7 Oktober,” kata Sigal Manzuri, ibu dari dua korban tewas dalam serangan 7 Oktober, di depan massa demonstran.

Baca Juga: Operasi Militer Israel di Al-Khalil Masuk Hari ke-10, Pelanggaran Terus Meningkat

Seorang demonstran bernama Eilat Geyer mengatakan kepada kantor berita Anadolu, “Kami khawatir dia (Netanyahu) akan melakukan apa saja untuk membalikkan hasil pemilu. Dia bahkan mungkin melancarkan perang untuk menyatakan keadaan darurat, sehingga kita tidak bisa menyelenggarakan pemilu.”

Sentimen anti-Netanyahu ini telah terakumulasi selama bertahun-tahun, dan pemilu kali ini menjadi katarsisnya. Tetapi ironisnya, bahkan dengan kemarahan sebesar ini, blok kanan masih bisa mendapatkan 54 kursi.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat Israel sangat terbelah: sebagian orang membencinya sampai ingin mengirimnya ke penjara, sebagian lagi menganggapnya sebagai satu-satunya orang yang mampu “menjaga keamanan”.

Negosiasi yang Lebih Memalukan dari Pemilu

Baca Juga: Jelang Musim Dingin, PBB Peringatkan Krisis Pengungsian Gaza

Netanyahu dengan partainya Likud dianggap masih partai terbesar di Israel. Tapi ia sama sekali tidak menang. Raihan sementara 54 kursi berarti ia bahkan tidak bisa menyentuh ambang batas pintu masuk pemerintahan.

Eisenkot memiliki peluang secara elektoral, tetapi terikat oleh tali politik yang tidak bisa ia lepaskan. Partai Arab dengan 17 kursi telah menjadi “penentu” dalam sejarah, tetapi penentu ini tidak ada yang berani gunakan.

Walaupun tentu, kedua kubu tetap pada pendiriannya, menolak pendirian Negara Palestina. Hanya kubu Netanyahu yang dikenal dengan dukungan dari kelompok ekstrem kanan, yang menggunakan cara paling represif dalam menjajah Palestina.

Dalam beberapa pekan ke depan, Israel akan menyaksikan negosiasi pembentukan koalisi yang lebih panjang dan lebih memalukan daripada pemilu itu sendiri.

Baca Juga: Sembilan Warga Palestina Syahid dalam Serangan Terbaru Israel di Gaza

Dan Netanyahu, yang terjepit di antara demo rakyat dan kursi parlemen, mungkin sedang menunggu bukan mahkota perdana menteri, melainkan surat panggilan pengadilan berikutnya.

61 kursi, bagi Netanyahu, hanyalah ilusi. Netanyahu telah gagal. sementara jalanan terus menuntut ia dimasukkan ke penjara! []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Eisenkot Janji akan Segera Manfaatkan Mayoritas di Knesset ‘Lawan Pemerintahan 7 Oktober’

Rekomendasi untuk Anda