Bekasi, MINA — Educator dan researcher sekaligus Founder Sidr School dan Sidr Productions asal Dubai, Uni Emirates Arab (UEA) Dr. Nousheen Zakaria mengapresiasi praktik pendidikan berbasis iman dan Al-Qur’an di Silaturahim Islamic School (SIS) dan Insan Mandiri Cibubur (IMC), Bekasi.
Dalam kunjungannya, Kamis (8/10), Dr Nouheen melihat langsung proses pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan keterampilan menghadapi perkembangan zaman di sekolah itu. Agenda kunjungan didampingi langsung segenap jajaran pimpinan Yayasan Insan Mandiri.
Dalam kunjungan tersebut, Dr. Nousheen mengikuti school tour di TK–SD SIS hingga SMP–SMA IMC dan melihat sejumlah program pendidikan, di antaranya pembelajaran Al-Qur’an dan karakter, pendidikan inklusi, Literasi Baitul Maqdis, Project Based on Qur’an (PBQ), kehidupan full-day dan boarding, serta Desain Cita-Cita sebagai program pengembangan arah pendidikan dan masa depan siswa.
Program Literasi Baitul Maqdis menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Dr. Nousheen. Ia menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari program tersebut lebih lanjut karena belum pernah melihat sekolah yang secara khusus memasukkan Literasi Baitul Maqdis dalam pembelajaran. Siswa juga mempresentasikan sejumlah karya, termasuk maket kompleks Baitul Maqdis dan proyek Pembelajaran Berbasis Al-Qur’an (PBQ).
Baca Juga: Karhutla Belum Berstatus Bencana Nasional, Menko Polkam sebut Indonesia Masih Sanggup
Dr. Nousheen turut mengapresiasi pendidikan inklusi di SD SIS serta program Sisterhood yang membekali siswa dengan keterampilan hidup, seperti memasak dan menyetrika.
Menurutnya, kemampuan mengurus kebutuhan sehari-hari dan membangun kemandirian penting bagi siswa, terutama ketika mereka harus tinggal di asrama atau jauh dari keluarga.
Dalam sesi bertajuk “Reimagining Islamic Education: Preparing Future-Ready Muslim Learners”, Dr. Nousheen menekankan bahwa iman dan identitas harus tetap menjadi fondasi utama generasi Muslim di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi digital, banjir informasi, tekanan sosial, individualisme dan materialisme.
Menurutnya, sekolah juga perlu mengembangkan akhlak, kemampuan berpikir dan kreativitas, ketangguhan emosional, kebijaksanaan digital, serta kemampuan berkolaborasi dan melayani umat.
Baca Juga: Kiai Cholil Nafis Serukan Boikot Ceramah Alwi Assegaf, Ini Pemicunya
Ia menilai perkembangan AI tidak menghilangkan peran guru, tetapi mendorong perubahan peran guru menjadi fasilitator, mentor dan perancang pengalaman belajar.
Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, namun hubungan manusiawi antara guru dan siswa tetap tidak dapat digantikan.
Kunjungan tersebut juga membuka peluang pertukaran sumber belajar, termasuk rencana pengiriman buku pembelajaran Al-Qur’an dan buku cerita anak dari Dr. Nousheen kepada SIS–IMC. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hari Santri 2026 Usung Tema ‘Santri Menguatkan Negeri’, Kemenag Rilis Logo dan 10 Agenda
















Mina Indonesia
Mina Arabic