Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Umat Bisa Bermula dari Krisis Kader

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Senin, 17 Agustus 2026 - 12:30 WIB

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:30 WIB

37 Views ㅤ

ADA krisis yang sering tidak terlihat, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya daripada krisis ekonomi, politik, bahkan krisis pangan. Itulah krisis kader. Ketika sebuah umat tidak lagi serius menyiapkan generasi penerus, sebenarnya umat itu sedang membiarkan masa depannya berjalan tanpa arah.(Foto: ig)

ADA krisis yang sering tidak terlihat, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya daripada krisis ekonomi, politik, bahkan krisis pangan. Itulah krisis kader. Ketika sebuah umat tidak lagi serius menyiapkan generasi penerus, sebenarnya umat itu sedang membiarkan masa depannya berjalan tanpa arah.

Hari ini kita mungkin masih melihat masjid penuh, majelis ilmu ramai, lembaga pendidikan berdiri, dan jumlah umat Islam sangat besar. Tetapi pertanyaannya: siapa yang akan melanjutkan perjuangan itu dua puluh atau tiga puluh tahun lagi?

Inilah pertanyaan yang sering kita hindari. Kita sibuk membangun gedung, tetapi lupa membangun manusia. Kita berlomba memperbesar lembaga, tetapi kurang serius memperbesar kualitas kader. Kita bangga memiliki banyak jamaah, tetapi belum tentu memiliki cukup banyak generasi yang siap menjadi imam, guru, dai, pemimpin, pengusaha, intelektual, jurnalis, pendidik, dan penjaga amanah umat.

Padahal sebuah peradaban tidak pernah bertahan hanya karena bangunan dan jumlah manusia. Peradaban bertahan karena ada manusia yang disiapkan untuk meneruskan nilai, ilmu, visi, dan perjuangan.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Lihatlah realitas umat hari ini. Anak-anak dan remaja Muslim tumbuh di tengah banjir informasi yang tidak pernah berhenti. Mereka berhadapan dengan materialisme, hedonisme, pornografi, budaya konsumtif, relativisme moral, fanatisme digital, disinformasi, dan berbagai bentuk hiburan yang sering kali jauh lebih menarik daripada pembinaan agama.

Sementara itu, sebagian lembaga umat masih melakukan kaderisasi secara sporadis, musiman, dan sekadar menggugurkan kewajiban. Kita sering berharap anak-anak akan menjadi baik dengan sendirinya, padahal zaman tidak pernah netral terhadap pembentukan manusia.

Kalau umat tidak mendidik generasinya, maka lingkunganlah yang akan mendidik mereka. Kalau keluarga tidak membentuk cara berpikir anak, media sosial akan membentuknya. Kalau masjid tidak memberikan ruang tumbuh bagi remaja, algoritma akan mengambil alih perhatian mereka.

Kalau umat tidak menyediakan teladan, mereka akan mencari figur di layar. Dan kalau kita tidak menanamkan cita-cita besar tentang Islam dan peradaban, mereka akan belajar bercita-cita hanya untuk dirinya sendiri.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Inilah yang harus menjadi bashira wa nazira bagi kita semua: jangan sampai kita baru sadar pentingnya kaderisasi ketika generasi penerus sudah kehilangan arah. Jangan sampai kita baru mencari pemimpin ketika tidak ada lagi orang yang siap memimpin.

Jangan sampai kita baru mencari guru ketika anak-anak kita tidak lagi menemukan sosok yang mampu membimbing mereka. Jangan sampai kita baru berbicara tentang keberlangsungan umat ketika generasi yang seharusnya menjadi penerus sudah terlanjur tercerabut dari akar agamanya.

Allah mengingatkan: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya.” (QS. An-Nisa: 9)

Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang meninggalkan harta untuk anak-anak. Ada amanah yang jauh lebih besar: jangan meninggalkan generasi yang lemah iman, lemah ilmu, lemah mental, lemah kepemimpinan, dan lemah daya juangnya.

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

Kaderisasi sesungguhnya adalah bentuk kasih sayang kepada masa depan. Seorang ayah yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya sedang membangun masa depan. Seorang guru yang membimbing muridnya dengan sabar sedang menyiapkan masa depan.

Seorang ustadz yang memberi kesempatan kepada remaja untuk belajar berbicara, memimpin kegiatan, mengelola program, dan berdakwah sedang menyiapkan masa depan. Bahkan sebuah jamaah yang sengaja membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar bertanggung jawab sebenarnya sedang menanam benih peradaban.

Karena itu, kaderisasi tidak boleh dipahami hanya sebagai kegiatan pengkaderan organisasi. Kaderisasi adalah proses panjang menyiapkan manusia untuk memikul amanah. Ia dimulai dari rumah, dilanjutkan di sekolah, masjid, pesantren, kampus, komunitas, organisasi, dan seluruh ruang kehidupan umat.

Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki kemampuan membaca zaman. Generasi yang hafal ayat, tetapi juga mampu menyelesaikan persoalan. Generasi yang rajin beribadah, tetapi juga disiplin bekerja. Generasi yang mencintai masjid, tetapi juga mampu menguasai teknologi, ekonomi, komunikasi, pendidikan, sains, media, dan berbagai bidang kehidupan. Kesalehan harus bertemu dengan kapasitas.

Baca Juga: Adab di Majelis Ilmu: Hormat Itu Keren, Bukan Feodal

Sebab tantangan umat masa depan tidak sederhana. Kita membutuhkan imam yang berilmu, guru yang visioner, dai yang memahami komunikasi, ekonom yang amanah, jurnalis yang berintegritas, ilmuwan yang bertakwa, pengusaha yang dermawan, dan pemimpin yang takut kepada Allah. Semua itu tidak lahir secara tiba-tiba. Mereka harus dicari, didekati, dibina, dilatih, diberi kepercayaan, dievaluasi, dan disiapkan secara bertahap.

Maka jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah kita bangun hari ini?” Bertanyalah lebih jauh: “Siapa yang akan menjaga semua ini setelah kita tiada?”

Bisa jadi masjid kita tetap berdiri, tetapi tidak ada generasi yang menghidupkannya. Bisa jadi lembaga kita tetap memiliki nama, tetapi tidak memiliki penerus. Bisa jadi buku-buku kita tetap tersimpan, tetapi tidak ada anak muda yang memahami perjuangannya. Bisa jadi kita meninggalkan banyak bangunan, tetapi gagal meninggalkan manusia. Dan itulah tragedi terbesar sebuah umat.

Krisis umat bisa bermula dari krisis kader. Karena itu, jangan menunggu masa depan datang untuk kemudian panik menghadapinya. Mulailah hari ini. Cari anak-anak muda. Dekati mereka. Dengarkan kegelisahan mereka. Ajari mereka. Libatkan mereka. Berikan tanggung jawab. Biarkan mereka belajar dari kesalahan. Tumbuhkan iman, ilmu, akhlak, keberanian, keterampilan, dan visi besar dalam diri mereka. Sebab perjuangan kita tidak boleh berhenti pada generasi kita.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Kaji Jejak Intelektual Syekh Yusuf al-Makassari di Kawasan Samudra Hindia

Kita mungkin tidak akan melihat seluruh hasil perjuangan kaderisasi itu. Tetapi boleh jadi, generasi yang kita bina hari ini kelak menjadi orang-orang yang menyelamatkan umat ketika kita sudah berada di bawah tanah.

Maka, wahai para orang tua, guru, ustadz, pemimpin, aktivis, dan seluruh orang yang masih memiliki kepedulian kepada umat: jangan hanya menjadi pengguna zaman. Jadilah penyiap generasi. Karena umat yang gagal melakukan kaderisasi bukan sekadar kehilangan penerus. Ia sedang mempertaruhkan masa depan peradabannya.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: SMART 171 Gelar Edukasi Boikot Produk Israel di SDIT Khairu Ummah Sumedang

Rekomendasi untuk Anda

MINA Edu
Artikel
Palestina
MINA Edu
Artikel