SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Sebut Paris Segera Jadi Kota Muslim, Desak Macron Tutup Perbatasan

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - 20 jam yang lalu

20 jam yang lalu

19 Views ㅤ

Donald Trump dan Emmanuel Macron (foto: X/Economist)

Washington, MINA– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Paris akan segera menjadi “kota Muslim” dan menyalahkan kebijakan imigrasi Presiden Prancis Emmanuel Macron atas gelombang kerusuhan yang melanda Prancis.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Senin (19/10), seperti dikutip dari Fox News.

Trump mengklaim telah lama menasihati Macron agar tidak membiarkan orang dari berbagai penjuru dunia masuk ke Prancis dan meminta perbatasan ditutup.

Dalam unggahan di Truth Social pada hari yang sama, ia menulis bahwa para migran telah “mengambil alih” Prancis dan meminta pemerintah Prancis segera menutup perbatasan.

Baca Juga: Trump Jadikan Kerusuhan Prancis Sebagai Materi Kampanye di Pemilu Sela

Komentar itu muncul setelah Trump dimintai tanggapan atas pernyataan Macron yang mengaitkan perang AS-Iran dengan lonjakan harga bahan bakar dan inflasi global.

Pernyataan Trump tidak disertai bukti. Majalah Foreign Policy mencatat belum ada bukti yang dilaporkan bahwa migran tanpa dokumen memperburuk kerusuhan.

Sementara itu, kerusuhan bermula dari aksi pelajar yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah, lalu meluas menjadi protes terhadap mahalnya biaya hidup.

Pada Sabtu (17/10), sekitar 550.000 orang turun ke jalan menurut otoritas, dan kekerasan serta penjarahan merebak di sejumlah kota. Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan hampir 2.400 orang ditangkap, sedangkan Federasi Perdagangan dan Ritel menyebut hampir 3.000 toko terdampak.

Baca Juga: Macron Kecam Kerusuhan Demo Biaya Hidup di Prancis, Hampir 2.400 Orang Ditangkap

Di dalam negeri, Perdana Menteri Sébastien Lecornu meminta para prefek memberlakukan jam malam yang terbatas dan bersifat lokal.

Di Paris, jam malam berlaku di sekitar Place de la République dan kawasan Les Halles pada pukul 23.00-06.00 waktu setempat, disertai larangan berkumpul sejak pukul 20.00. Lecornu menolak jam malam di seluruh Paris, tetapi menyatakan tekadnya memulihkan ketertiban “mutlak”.

Ia juga menuding kelompok ultra-kiri radikal di balik kerusuhan.

Pemimpin sayap kiri Jean-Luc Mélenchon menolak tudingan itu dan meminta Lecornu membuktikan tuduhannya atau meminta maaf. Mélenchon menilai perdana menteri sebaiknya berhenti memperkeruh keadaan. Perselisihan politik ini berlangsung menjelang pemilihan presiden Prancis. []

Baca Juga: Wapres AS Akui Kesalahan dalam Perang Iran

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda