Washington, MinaNews – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memperingatkan dampak ekonomi jika Amerika Serikat membiarkan Iran menguasai pelayaran di Selat Hormuz.
Menurutnya, penguasaan selat strategis itu akan membatasi pasokan energi global dan langsung mendorong kenaikan harga bensin domestik di AS. Vance menyampaikan pernyataan tersebut pada Ahad (18/10) seperti dikutip Binance News.
Ia menegaskan militer AS saat ini tetap memastikan pasokan minyak dapat melintas melalui Selat Hormuz. Vance juga memproyeksikan harga bensin akan kembali turun setelah konflik mereda.
Selat Hormuz diketahui merupakan jalur vital dengan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dunia, atau sekitar 20 juta barel per hari, melewati jalur sempit tersebut.
Baca Juga: Inggris Ancam Sanksi Perusahaan yang Ikut Tender Permukiman Ilegal Israel di E1
Gangguan di selat ini sejak perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai akhir Februari 2026 telah memicu lonjakan biaya pengiriman dan asuransi.Dampaknya sudah terasa.
Harga rata-rata bensin reguler di AS naik lebih dari 40 persen ke kisaran 4,12 dolar AS per galon dari sebelumnya sekitar 2,98 dolar. Data Clarksons bahkan mencatat sewa kapal VLCC dari Teluk Persia ke Asia melonjak dari 65 ribu dolar menjadi 1,6 juta dolar AS per hari.
Lonjakan energi ini juga memberi tekanan bagi negara importir seperti Indonesia.
Sekitar 30-35 persen impor minyak dan 40 persen impor LPG nasional melintasi Selat Hormuz, sehingga kenaikan premi asuransi dan harga minyak Brent yang masih di atas 101 dolar per barel berpotensi menekan APBN dan subsidi energi. []
Baca Juga: Anis Matta Dorong Reformasi OKI, Indonesia Siap Jadi Oasis Perdamaian
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic