Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makna Solidarity Run untuk Perjuangan Palestina

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - 52 menit yang lalu

52 menit yang lalu

7 Views ㅤ

Peserta Solidarity Run di masjid Darussalam Kota Wisata (foto: MINA/Sidik)

ADA lomba yang tidak mencari pemenang. Tidak ada podium yang diperebutkan, hanya pesan yang dibawa lewat langkah kaki: Palestina tidak sendirian. Pada Ahad, 8 November 2026, pesan itu bergema di Masjid Darussalam Kota Wisata, Bogor. Aqsa Working Group (AWG) bersama pengurus masjid menggelar Solidarity Run for Palestine sebagai bagian dari Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2026.

Panitia semula menargetkan 1.000 peserta, tetapi pendaftarnya mencapai sekitar 1.500 orang. Angka itu baru jumlah terdaftar, namun cukup menunjukkan bahwa kepedulian terhadap Palestina masih mudah menemukan jalannya ke tengah masyarakat.

Dari Langkah Sederhana Menjadi Kepedulian Nyata

Mengapa orang berlari untuk sesuatu yang jauhnya ribuan kilometer? Jawabannya terletak pada kemanusiaan yang tidak mengenal jarak. Ketua Yayasan Darussalam Kota Wisata, Nofil Anoverta, menyebut kepedulian tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan. Menurutnya, jarak boleh memisahkan, tetapi kemanusiaan dan persaudaraan tidak boleh kehilangan makna.

Baca Juga: Mencari Titik Temu Konflik Arab Saudi – Houthi

Kemanusiaan itu terasa mendesak ketika menengok Gaza hari ini. Penasihat Kantor Media Pemerintah Gaza, Taysir Muheisen, memperingatkan bahwa wilayah itu membutuhkan 260.000 tenda baru, sebab sebagian besar tenda pengungsian telah dipakai hampir tiga tahun. Lebih dari 2.000 rumah juga terancam roboh saat hujan dan angin, sebagaimana dilaporkan MINA. Data PBB yang dikutip laporan yang sama menyebut hampir 950.000 pengungsi tinggal di kawasan berisiko banjir sedang hingga tinggi.

Di sinilah lari solidaritas menemukan maknanya. Ia bukan sekadar olahraga, melainkan cara sederhana menjaga ingatan agar tidak padam. Setiap peserta yang mendaftar, mengenakan atribut Palestina, dan menempuh jarak bersama sedang menyampaikan bahwa penderitaan di Gaza tetap dilihat dan dirasakan. Di tempat lain, semangat ini berujung pada bantuan konkret. Penyelenggara Solidarity Run di Oslo menyebut hasilnya akan disalurkan langsung ke bengkel prostetik di Gaza dan Bulan Sabit Merah Palestina.

Di Bogor, wujud nyatanya hadir lewat agenda yang menyertai lomba. Panitia menyiapkan bakti sosial kesehatan bagi remaja, ibu hamil, dan masyarakat umum dengan estimasi jangkauan 700–1.000 orang, serta bazar UMKM yang menggerakkan ekonomi warga. Solidaritas untuk Palestina pun tumbuh bersama kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Berlari Bersama, Bersatu dalam Perbedaan

Baca Juga: Pemilu Amerika yang Paling Dinanti dan Paling Bersejarah

Kekuatan lain lari solidaritas adalah kemampuannya mempertemukan orang dari latar yang berbeda. Pada Solidarity Run for Palestine 2025 di kompleks parlemen Jakarta, yang diberitakan Minanews, ratusan peserta berlari lima kilometer bersama.

Mereka terdiri dari anggota DPR, jurnalis, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga perwakilan AWG. Ketua Presidium AWG, Muhammad Anshorullah, menekankan bahwa solidaritas tidak harus megah, tetapi harus tulus dan konsisten.

Semangat serupa muncul di luar negeri. Sebuah lari solidaritas di Denmark, menurut laporan Chanelmuslim.com, diikuti berbagai kalangan, termasuk peserta keturunan Yahudi. Peristiwa itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap korban kekerasan dapat menyatukan orang yang berbeda keyakinan dan asal.

Di Kota Wisata, persatuan itu tampak dari kolaborasi empat tahun antara AWG dan Yayasan Darussalam, serta Maemuna Center Indonesia yang tengah bersyukur atas milad ke-7. Dukungan berupa publikasi, spanduk, dan fasilitas memperlihatkan bahwa gerakan ini digerakkan bersama, bukan oleh satu pihak.

Baca Juga: Dari Balfour ke BoP Trump: 109 Tahun Konspirasi Melanggengkan Penjajahan atas Palestina

Skalanya juga terus membesar. Republika melaporkan pembukaan BSP 2026 di Monas pada 1 November dihadiri lebih dari 5.000 peserta dari berbagai daerah, dan AWG menyiapkan delapan rangkaian kegiatan sepanjang November.

Bulan itu dipilih karena sarat tanggal penting dalam sejarah Palestina, seperti Deklarasi Balfour pada 2 November dan Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina pada 29 November.

Namun solidaritas tidak berhenti di garis finis. Panitia berharap semangat persaudaraan ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi tumbuh menjadi kontribusi nyata, lewat edukasi, donasi, dan kepedulian yang terus dijaga.

Pada akhirnya, Solidarity Run mengajarkan bahwa tidak ada langkah yang terlalu kecil bagi kemanusiaan. Garis finis yang sesungguhnya bukanlah gerbang masjid, melainkan hari ketika anak-anak Palestina bisa tidur tanpa takut, dan tenda-tenda itu digantikan atap rumah mereka sendiri. []

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda