NAMA Abu Hurairah ialah Abdurrahman bin Sakhr ad-Dausi. Di tengah barisan para sahabat Nabi Muhammad ﷺ, nama Abu Hurairah r.a. menempati posisi istimewa.
Ia dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah ﷺ. Namun, keistimewaannya bukan hanya pada kekuatan hafalan dan kedekatannya dengan Nabi, melainkan juga pada kesungguhan ibadahnya—terutama dalam menjalani bulan Ramadhan.
Julukan “Abu Hurairah” berarti “Bapak Kucing Kecil”, disematkan karena kecintaannya kepada anak kucing yang sering ia bawa. Ia berasal dari kabilah Daus di Yaman dan masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriah. Sejak itu, ia hampir tidak pernah berpisah dari Rasulullah ﷺ, memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar dan meriwayatkan sabda beliau.
Meski hidup dalam kesederhanaan dan pernah merasakan lapar yang berat, Abu Hurairah tidak menjadikan kemiskinan sebagai penghalang untuk beribadah dan menuntut ilmu. Justru dari kesederhanaan itulah lahir keteguhan spiritual yang luar biasa.
Baca Juga: Anas bin Malik, Pelayan Rasulullah hingga Menjadi Guru dan Sahabat Terakhir yang Wafat
Memaknai Puasa sebagai Penyucian Jiwa
Bagi Abu Hurairah, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia memaknainya sebagai proses penyucian diri.
Diriwayatkan bahwa ketika berpuasa, ia dan para sahabat memilih duduk di masjid seraya berkata, “Kami sedang mensucikan puasa kami.” (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, Jilid 1 hal. 382).
Kalimat ini menggambarkan kesadaran spiritual yang mendalam. Puasa harus dijaga dari perbuatan sia-sia, dari ucapan yang melukai, dan dari kelalaian hati. Berdiam di masjid menjadi cara untuk menjaga kualitas puasa agar tetap bersih dan bernilai di sisi Allah.
Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah
Kesederhanaan dalam Berbuka dan Sahur
Kehidupan Abu Hurairah jauh dari kemewahan. Dalam sebuah riwayat disebutkan ia berkata:
“Aku punya 15 butir kurma. Aku berbuka dengan 5 butir, aku sahur dengan 5 butir, dan sisakan 5 butir untuk berbuka puasaku.” (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, Jilid 1 hal. 384).
Potret ini menunjukkan bagaimana Ramadhan dijalani dengan penuh kesederhanaan. Tidak ada pesta hidangan, tidak ada berlebihan dalam makan. Yang ada adalah kecukupan dan rasa syukur. Dalam kondisi terbatas, ia tetap menjaga keseimbangan antara berbuka dan sahur.
Baca Juga: Kisah Uwais al-Qarni, Tabi’in Terbaik yang Dipuji Rasulullah
Di tengah budaya konsumtif yang kerap mewarnai Ramadhan masa kini, keteladanan ini terasa semakin relevan.
Kesungguhan ibadah Abu Hurairah juga terlihat dari kebiasaannya menghidupkan malam. Abu Utsman Al Hindi meriwayatkan bahwa ia pernah bertamu selama tujuh hari di rumah Abu Hurairah. Selama itu, ia menyaksikan Abu Hurairah, istrinya, dan pelayannya membagi malam menjadi tiga bagian untuk shalat.
Ketika yang satu beristirahat, yang lain berdiri menunaikan qiyamul lail (Imam Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Mukhtashar Qiyamul Lail wa Qiyam Ramadhan wa Kitab al-Witr, hal. 100).
Artinya, hampir tidak ada waktu malam di rumah itu yang kosong dari ibadah.
Baca Juga: Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah
Jika kebiasaan ini dilakukan di luar Ramadhan, maka dapat dibayangkan bagaimana kesungguhan beliau saat memasuki bulan suci. Terlebih, Abu Hurairah pula yang meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadits ini menjadi penggerak umat Islam sepanjang zaman untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan tarawih dan doa.
Teladan Sepanjang Zaman
Baca Juga: Sa‘id bin al-Musayyab, Sosok yang Memiliki Keteguhan Ilmu di Generasi Tabi‘in
Sosok Abu Hurairah r.a. menghadirkan gambaran tentang Ramadhan yang sarat makna: menjaga kesucian puasa, menghidupkan masjid, sederhana dalam konsumsi, dan tekun dalam qiyamul lail. Ia bukan hanya perawi hadits, tetapi juga pelaku nyata dari ajaran yang diriwayatkannya.
Dalam diri Abu Hurairah, ilmu dan amal berpadu. Ia menghafal sabda Nabi, lalu menghidupkannya dalam keseharian.
Di tengah hiruk-pikuk Ramadhan modern, figur Abu Hurairah r.a. mengingatkan bahwa esensi bulan suci terletak pada kesungguhan hati. Bahwa kemuliaan Ramadhan tidak ditentukan oleh banyaknya hidangan, tetapi oleh kedalaman ibadah dan keikhlasan jiwa.
Sebuah teladan yang layak dihadirkan kembali di ruang-ruang media, dan lebih penting lagi, di dalam kehidupan kita. []
Baca Juga: Utsman bin Affan, Sibuk Ibadah Kala Ramadhan, Wafat Saat Berpuasa
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic