SEBELUM kaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melangkah jauh meninggalkan Makkah, ada satu arah yang selalu dituju. Bukan hanya tanah suci yang dekat, tapi juga tanah yang jauh di sana, di Baitul Maqdis, Masjid Al-Aqsa namanya.
Setelah turun surat Al-Muzzammil pada awal kenabian. Malam-malam panjang di Gua Hira’ dan rumah Ummu Hani’ diisi dengan shalat tahajud.
Allah menyebutkannya pada awal Surat Al-Muzzammil:
يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa Tempat Ibadah Umat Islam yang Terjajah
“Wahai orang yang berselimut (Nabi Muhammad).”
قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ
“Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.”
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun berdiri, wajahnya menghadap ke kiblat pertama, ke Masjid Al-Aqsa. Doa-doa lembut naik di sepertiga malam, membelah gelap, melewati bukit-bukit Hijaz, menembus lembah Syam.
Baca Juga: Menyelami Makna Ulul Albab dalam Al-Qur’an
Di Makkah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjaga. Tubuhnya menghadap ke Masjid Al-Aqsa, tapi hatinya juga tahu Ka’bah di dekatnya. Namun perintah belum beranjak. Kiblat pertama itu mengajarkan satu hal, agama ini lahir dari pengakuan atas semua tanah yang diberkahi.
Lalu muncullah malam Isra’ Mi’raj. Nabi melesat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam sekejap, atas mukjizat dari Allah.
Allah mengabadikannya di dalam Surat Al-Isra ayat pertama:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Baca Juga: Setelah 40 Hari Tertutup, Betapa Haru Memasuki Kembali Masjid Al-Aqsa
“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Di sanalah kiblat itu ditegaskan lagi. Dan setelah kembali, Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi tetap di Makkah menghadap ke Masjid Al-Aqsa. Begitu terus, 16 atau 17 bulan lamanya. Sampai hijrah ke Madinah.
Setelah hijrah, di Madinah, sesuatu berubah. Nabi dan para sahabat masih setia menghadap ke Masjid Al-Aqsa. Hingga suatu hari, di masjid kecil milik Bani Salamah, yang kini dibangun Masjid Qiblatain, di tengah rakaat Dzuhur, turun wahya surat Al-Baqarah ayat 144:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ
Baca Juga: Menggugat UU Hukuman Mati terhadap Tahanan Palestina
“Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam…..”.
Nabi yang sedang shalat, perlahan berputar. Para makmum mengikuti. Selesai sudah masa menghadap Masjid Al-Aqsa dalam shalat fardhu. Tapi bukan berarti Al-Aqsa terlupakan.
Al-Aqsa tetap kiblat pertama. Al-Aqsa tetap tanah yang diberkahi. Al-Aqsa tetap menjadi saksi perjalanan Isra’ dan pijakan Nabi saat Mi’raj.
Kita pun mewarisi perintah itu, memilikinya bukan dengan membiarkannya, serta menjaganya bukan dengan melupakannya. Karena kiblat pertama takkan pernah lepas dari iman. Al-Aqsa akan selalu melekat dalam doa, dalam sejarah, dalam rindu yang tidak pernah padam.
Baca Juga: Awali Rutinitas Harian dengan Membaca Al-Qur’an
Hingga kini, di setiap setengah malam yang sunyi, ada hati yang masih memandang ke sana. Bukan lagi untuk menunaikan rukun shalat, tapi untuk menunaikan janji setia, memuliakannya, menjaganya, dan membebaskannya dari tangan-tangan yang menodainya.
Kiblat pertama tetap terjaga. Bukan karena kita tinggal di dekatnya, tapi karena kita mengakuinya sebagai milik kita, milik kita semua umat Islam. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Faham Agama, Tapi Egois: Ketika Ilmu Tak Menyentuh Hati
















Mina Indonesia
Mina Arabic