Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faham Agama, Tapi Egois: Ketika Ilmu Tak Menyentuh Hati

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Rabu, 8 April 2026 - 02:17 WIB

Rabu, 8 April 2026 - 02:17 WIB

56 Views ㅤ

Ilustrasi: seorang pemuka agama marah kepada sekelompok pemuda. (Gambar: Dreamina)
DI ZAMAN, kita sering menjumpai orang-orang yang paham agama. Lisannya fasih mengutip ayat dan hadis, pikirannya tajam dalam membedah hukum halal dan haram, bahkan aktif dalam majelis ilmu. Namun, ada satu hal yang terasa janggal: hatinya belum hidup. Ia mudah menuntut, tetapi sulit memahami. Ia cepat mengoreksi, tetapi lambat berempati. Ia tahu kewajiban orang lain, tetapi lupa hak orang lain atas dirinya.

Inilah ironi yang menyakitkan: ilmu yang seharusnya melembutkan hati justru menjadi alat pembenar bagi ego.

Padahal, agama ini bukan hanya kumpulan hukum, tetapi juga akhlak. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Maka ukuran keberhasilan memahami agama bukan hanya pada hafalan atau argumentasi, tetapi pada sejauh mana hati menjadi lembut, peduli, dan penuh kasih.

Orang yang egois sering kali tidak sadar bahwa dirinya sedang menyakiti. Ia meminta orang lain menunaikan tugas dengan sempurna, tanpa mempertimbangkan kondisi, kelelahan, atau beban yang dipikul. Ia lupa bahwa di balik pekerjaan ada manusia, di balik kewajiban ada keterbatasan. Seakan-akan agama hanya berlaku untuk orang lain, bukan untuk dirinya dalam bentuk empati dan pengertian.

Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata, “Bukanlah iman itu dengan angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibenarkan oleh amal.” Perkataan ini menghantam kita dengan keras: jika ilmu tidak melahirkan amal, dan amal tidak melahirkan akhlak, maka ada yang salah dalam cara kita memahami agama.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Lebih tajam lagi, Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله mengingatkan, “Ilmu itu akan memanggil amal. Jika amal menjawabnya, maka ilmu itu akan menetap. Jika tidak, maka ilmu itu akan pergi.” Artinya, ilmu yang tidak diamalkan—terutama dalam bentuk akhlak—pada hakikatnya belum benar-benar hidup dalam diri seseorang.

Egoisme dalam beragama sering muncul dari rasa merasa benar. Ketika seseorang merasa dirinya paling tahu, ia mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar. Ketika ia merasa paling lurus, ia mulai sulit menerima kekurangan orang lain. Di sinilah penyakit hati mulai tumbuh: ujub (bangga diri), kibr (sombong), dan ghaflah (lalai dari introspeksi).

Padahal para ulama salaf justru semakin berilmu, semakin takut dan rendah hati. Abdullah bin Mubarak رحمه الله berkata, “Mungkin seseorang yang sedikit ilmunya tetapi banyak adabnya lebih bermanfaat daripada orang yang banyak ilmunya tetapi sedikit adabnya.” Ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang bangga dengan ilmu, tetapi kering dari akhlak.

Ciri lain dari egoisme adalah hilangnya rasa peduli. Ia tidak tertarik dengan kesulitan orang lain, tidak tersentuh oleh penderitaan sekitar. Padahal Islam sangat menekankan kepedulian sosial. Nabi ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Hadis ini bukan sekadar teori, tetapi standar keimanan.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Bayangkan jika kita lelah, tentu kita ingin dimengerti. Jika kita kesulitan, kita berharap ada yang membantu. Lalu mengapa kita tidak memberikan hal yang sama kepada orang lain? Mengapa kita menuntut kesempurnaan dari orang lain, sementara kita sendiri penuh kekurangan?

Imam Malik رحمه الله pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum ilmu.” Ini menunjukkan bahwa fondasi agama bukan hanya pada kecerdasan, tetapi pada kehalusan hati. Sebab ilmu tanpa adab bisa melahirkan kesombongan, sedangkan adab akan menjaga ilmu tetap dalam koridor kebaikan.

Orang yang benar-benar memahami agama akan mudah memaafkan, ringan membantu, dan lapang dalam memahami orang lain. Ia tahu bahwa manusia tidak sempurna. Ia sadar bahwa setiap orang sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Maka ia tidak mudah menghakimi, tidak cepat menuntut, dan tidak tega menyakiti.

Sebaliknya, orang yang egois akan menjadikan agama sebagai alat tekanan. Ia mengutip dalil untuk membenarkan sikap kerasnya, tetapi melupakan dalil tentang rahmat, kasih sayang, dan kelembutan. Ia lupa bahwa Allah sendiri memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, “Agama seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa yang mengunggulimu dalam akhlak, maka ia mengunggulimu dalam agama.” Pernyataan ini sangat jelas: ukuran agama bukan hanya seberapa banyak kita tahu, tetapi seberapa baik kita bersikap.

Maka sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ilmu yang kita miliki sudah membuat kita lebih peduli? Sudahkah kita lebih lembut dalam berbicara? Sudahkah kita lebih ringan dalam membantu? Atau justru kita semakin keras, semakin menuntut, dan semakin sibuk menyalahkan?

Ilmu sejati adalah yang menundukkan ego. Ia menjadikan kita hamba yang rendah hati, bukan hakim yang merasa paling benar. Ia melahirkan kasih sayang, bukan tekanan. Ia membuat kita hadir sebagai solusi, bukan beban bagi orang lain.

Karena pada akhirnya, agama bukan hanya tentang benar atau salah, tetapi tentang bagaimana kita menjadi rahmat bagi sesama.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Jika hari ini kita merasa sudah paham agama, maka lihatlah bagaimana kita memperlakukan orang lain. Di situlah cermin sejati dari ilmu kita.[]

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Hikmah
Tausiyah
Tausiyah
Khutbah Jumat