Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds

(Foto: Istimewa)

Kampanye selamatkan anak Al-Quds diselenggarakan secara internasional pada 1-8 Maret 2020. Kumpulan NGO yang tergabung Aliansi Indonesia Bela Al-Quds (AIBAAQ) meluncurkan kampanye Kami Semua Maryam #SelamatkanAnakAlQuds dan Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds di Jakarta Pusat, Senin (2/3/2020).

NGO yang tergabung dengan AIBAAQ ialah SMART 171, Adara Relief International, Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), Akhwat Bergerak, Spirit of Aqsa, Aksi Insan Nusantara, Sahabat Erdogan, Aliansi Kemanusiaan Indonesia, Khadijatee Foundation, Aqsa Working Group (AWG), Sahabat Palestina Memanggil (SPM), Komunitas Kami Semua Maryam, Yayasan Al-Quds Amaanati, Maemuna Center (Mae_C), Al Insaniah, MP4 Palestine, Forum Jurnalis Muslim.

Pembicara yang hadir ialah Maimon Herawati sebagai Ketua SMART 171 yang juga sebagai Sekjen Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds, Aat Surya Syafaat sebagai Direktur Pemberitaan Antara 2016-2017, Muhammad Syarif sebagai Ketua Bidang Edukasi dan Informasi KNRP, Sri Vira Chandra sebagai Sekjen Adara Relief Internasionaldan Peggy Melati sebagai Ketua Khadeejati Foundation.

Dalam acara tersebut, para pembicara sama-sama menyuarakan urgensi dalam membela anak di Palestina. “Kami Semua Maryam” atau “We Are All Marry” merupakan kampanye internasional yang dilakukan berbagai orang di dunia.

“Kampaye ini merupakan kampanye internasional yang telah dimulai kemarin secara internasional, program aksi bela anak Al-Quds ini penting, karena kita memiliki amanat dalam undang-undang dasar 45 yang mengutuk penjajahan diatas dunia” ujar Maimon Herawati saat temu media.

Selain itu, Sri Vira Chandra dari Adara Relief Internasional mengungkapkan semenjak Deklarasi Balfour 1917, negara Israel didirikan oleh Theodore Herlz. Lebih dari ribuan anak dan perempuan hidup tercabik-cabik di Palestina, maka sudah sepatutnya untuk mengkampanyekan dan mendukung mereka.

“Sepuluh ribu anak di palestina, sedari tahun 2000-2020 di tepi barat, pernah merasakan dinginnya penjara Israel, dan itu seharusnya menjadi perhatian yang khusus untuk kita, ” ujar Muhammad Syarif dari KNRP.

Peggy Melati Sukma atau sekarang dikenal teteh Khadijah mengatakan bahwa persoalan yang terus terjadi pada sistem penjajahan yang dibuat Israel itu sangat kejam. Menurutnya, kejaatan tersebut termasuk dalam kategori genosida, Bahkan dengan menghancurkan sekolah-sekolah di Palestina itu merupakan langkah yang kejam dalam memusnakan peradaban. Terlebih untuk masa depan anak-anak Palestina.

Ketua Umum Maemuna Center (Mae_C) Fitria Mukti Asih mengatakan, Aliansi itu merupakan satu langkah maju yang mana sebelumnya, banyak NGO bergerak sendiri-sendiri.

“Kita masih sama-sama bekerja tapi belum bekerja sama,” katanya kepada MINA.

Ia berharap, kedepannya akan lebih banyak NGO yang bergabung sehingga suara pembelaan terhadap rakyat Palestina lebih kuat.

Lebih lanjut ia mengatakan, Mae_C bergabung dalam Aliansi karena menurutnya memiliki gerakan dan visi yang sama yaitu menyuarakan perjuangan anak dan perempuan.

“Perjuangan kita sama, sehingga dengan kita bersama dalam aliansi ini maka kita memiliki satu tambahan energi baik itu mitra kerja, kemudian langkah metode yang harus diambil kemudian memperluas jaringan juga, diharapkan dengan begitu kita juga bisa take and give dengan NGO yang lain,” pungkasnya.

Menurut laporan Aliansi Indonesia Bela Anak Al Quds, setidaknya 2.000 anak Palestina meninggal dalam dua dekade terakhir, dan sepanjang tahun 2019 penjajah Israel telah membunuh 33 anak dan menculik 745 anak Palestina ke penjara Israel.

Selama 2019, tercatat 1.950 kasus penangkapan di kota Al-Quds. Setidaknya sebanyak 900 anak Palestina berada di penjara-penjara Zionis.

Sebanyak 81% dari anak-anak Palestina diborgol saat penangkapan. Sementara 70 % di antara mereka diborgol saat operasi investigasi langsung berjalan. Mereka pun di penjara tanpa adanya pengacara dan pihak keluarga.

Pernyatan Sikap Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds

Dari kiri ke kanan, Kepala Bidang Edukasi dan Informasi KNRP Muhammad Syarief, Direktur Pemberitaan Antara 2016-2017 Dr. Aat Surya Syafaat, Sekjen Adara Relief International Sri Vira Chandra, Sekjen Aliansi Indonesia Bela Anak Al Quds Maimon Herawati, dan Ketua Khadeejati Foundation Peggy Melati Sukma. (Foto: Aisyah/MINA)

Berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar 1945, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa; Pasal 4 Konvensi Hak Anak (KHA) tahun 1989 PBB meminta negara anggota mengambil semua langkah untuk pelaksanaan hak-hak yang diakui dalam KHA sampai batas maksimal dalam kerangka kerjasama internasional.

Secara historis Indonesia memiliki utang budi terhadap bangsa Palestina yang pertama mengadvokasi kemerdekaan Indonesia. Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini pada 6 September 1944 melakukannya secara luas melalui siaran radio Jerman.

Solidaritas bangsa Palestina pada Indonesia dalam masa berjuang untuk merdeka. Muhammad Ali Taher menyerahkan seluruh tabungannya di Bank Arabia pada M. Zein Hassan ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia.

Penjajahan zionis Israel meluluhlantakkan setiap sendi kehidupan di Palestina, utamanya anak-anak.

Eskalasi kekerasan setahun terakhir pada anak-anak Al-Quds memuncak. Januari sampai Juli 2019 tercatat total 1.685 anak-anak Palestina menjadi korban. Jumlah tersebut mencakup rincian 16 anak dibunuh, 446 ditangkap, dan 1.223 lainnya terluka;
Maka, kami, Aliansi Indonesia Bela Anak Al-Quds bersikap:

1) Mendesak pemerintah Indonesia untuk mengawal ditetapkannya sanksi tegas PBB kepada Israel.
2) Mendesak pemerintah Indonesia untuk mendukung upaya Palestina menyeret Israel pada International Criminal Court.
3) Mendesak UNICEF untuk melakukan upaya bersama yang lebih taktis dan cepat, guna menghentikan kejahatan zionis Israel pada anak-anak Al-Quds.
4) Mengimbau kepada segenap komponen bangsa untuk membela anak-anak Al-Quds dengan seluruh daya upaya.
5) Mengimbau semua pihak yang peduli dengan isu-isu kemanusiaan untuk melakukan aksi, edukasi, atau sosialisasi terkait penderitaan yang dialami oleh anak-anak Palestina sebagai bentuk solidaritas sesama anak peradaban.

Peran Penting Media untuk Palestina

(Foto: Palestine Chronicles)

Aat Surya Syafaat sebagai wartawan senior juga bercerita bahwa tahun 1993-1998 meliput di sidang PBB di New York. Aat banyak mengikuti sidang-sidang terkait Palestina. “Terbukti kelemahan kita hanya satu, yaitu, dikekuatan media kita tidak bersatu,” jelasnya.

Menurut anak-anak Palestina saat ini membutuhkan perhatian dunia internasional karena mereka mengalami kekejaman yang terus-menerus dari penjajah Zionis Israel.

“Oleh karena itu, saya mengajak teman teman media untuk terus menggelorakan penyelamatan anak-anak Al-Quds ke dunia internasional,” katanya.

Keberadaan dan peran media massa dinilainya sangat penting dalam membentuk opini dunia bagi penyelematan generasi muda di Palestina, sebagai satu-satunya negara di dunia yang belum terbebas dari penjajahan sejak pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

“Bayangkan, Vietnam dahulu bisa menang melawan Amerika karena kekuatan media. Ketika itu banyak anak-anak muda dari kalangan milter Amerika yang menjadi korban kekejaman perang, sehingga berkat opini media kemudian Amerika menghentikan perangnya melawan Vietnam,” katanya.

Penerima “Press Card Number One” pada Hari Pers Nasional di Banjarmasin Kalimantan Selatan 9 Februari 2020 itu menyatakan, seharusnya sekarang kalangan jurnalis juga bisa melakukan hal yang sama, yaitu menghentikan kekejaman Israel terhadap anak-anak Palestina.

Ia menilai, media massa bisa berperan melakukan “second track diplomacy” untuk mendorong negara-negara besar dan berpengaruh seperti Amerika, Russia, dan Cina untuk menghentikan kekejaman Israel terhadap anak-anak Palestina.

Salah satu pendiri Mi’raj Islamic News Agency (MINA), kantor berita yang menyiarkan berita dalam Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab itu juga mengungkapkan telah terbentuknya Aliansi Media Muslim Internasional atau IMMA (International Muslim Media Alliance) pada 26 Mei 2016 di Jakarta.

“Salah satu tujuan pembentukan aliansi media internasional itu adalah melawan pemberitaan negatif tentang Palestina. Tetapi peran aliansi untuk pertukaran dan pengutipan berita dunia islam itu nampaknya belum efektif,” kata Pembina Media Fakta Hukum Indonesia (FHI) dan Asesor Uji Kompetensi Wartawan PWI itu.

Ia juga menegaskan, isu Palestina merupakan isu kemanusiaan, bukan hanya semata-mata masalah agama. Karena jika bicara Palestina, di sana terdapat tiga agama, yaitu Islam, yahudi, dan Kristen.

“Bukan hanya wartawan, di era digital ini siapapun, di setiap pena, laptop, handphone atau di setiap ruang di mana kita bisa menulis, maka menulislah tentang penyelamatan anak-anak Palestina. Kekuatan tulisan di era medsos ini lebih berpengaruh dari senjata militer,” tambahnya.

Khusus tentang peran Indonesia dalam membela Palestina, teringat kata-kata Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza Ismail Haniya yang pernah menyatakan bahwa hadiah dari Indonesia terhadap Palestina saat ini ada dua, yakni Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza dan hadirnya Kantor Berita Islam MINA.(AK/R1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.