Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amanah Anak di Zaman Rusak Nilai

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:22 WIB

Sabtu, 24 Januari 2026 - 13:22 WIB

11 Views ㅤ

SUATU malam, seorang ayah terbangun karena mendengar tangisan istrinya. Dengan suara bergetar, sang ibu menunjukkan isi percakapan anak mereka di media sosial.(Foto: ig)

ANAK bukan sekadar titipan yang tumbuh dengan sendirinya. Ia adalah amanah besar dari Allah—amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya tentang sandang dan pangan, tetapi tentang arah hidup dan nilai yang ia pegang. Di zaman ketika nilai-nilai tercerabut, amanah ini menjadi jauh lebih berat. Bukan karena anak-anak kita buruk, tetapi karena dunia hari ini terlalu berisik untuk jiwa yang masih suci.

Kita hidup di era serba cepat. Orang tua sibuk bekerja, mengejar target, membangun masa depan—semua demi keluarga. Namun tanpa disadari, ketika ayah dan ibu semakin lelah, semakin jarang hadir, dunia pelan-pelan mengambil alih peran mendidik. Gawai, media sosial, tontonan, lingkungan, dan budaya populer akhirnya menjadi “guru” yang paling sering berbicara kepada anak-anak kita. Sayangnya, dunia tidak pernah berjanji mengajarkan kebenaran.

Islam sejak awal sudah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini bukan ancaman, tapi panggilan cinta. Allah seolah berkata, “Jangan serahkan anak-anakmu pada arus. Pegang tangannya. Tuntun jalannya.” Karena jika orang tua diam, dunia akan berbicara—dan tidak semuanya baik.

Anak belajar bukan dari nasihat panjang, tapi dari apa yang ia lihat setiap hari. Ia merekam sikap ayahnya, meniru nada bicara ibunya, menyerap suasana rumah tanpa banyak kata. Ketika rumah sunyi dari shalat berjamaah, anak belajar bahwa shalat bukan prioritas. Ketika Al-Qur’an jarang dibuka, anak menyimpulkan bahwa kitab suci hanya pelengkap, bukan pedoman. Pendidikan paling kuat bukan di sekolah, tapi di ruang keluarga.

Baca Juga: UIN Ar-Raniry Latih Bahasa Inggris 40 Pemuda Aceh untuk Bekerja di Luar Negeri

Masalahnya, banyak orang tua merasa cukup dengan menyekolahkan anak di tempat terbaik, memasukkan ke pesantren, atau memberikan guru privat agama. Semua itu baik. Namun pendidikan nilai tidak bisa diwakilkan sepenuhnya. Anak boleh belajar pada banyak orang, tetapi ia akan mempercayai orang tuanya lebih dari siapa pun—atau justru kehilangan kepercayaan jika orang tua terlalu jauh.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini tajam sekaligus jujur. Bukan dunia yang paling bertanggung jawab atas anak kita, tetapi kita. Orang tua bukan sekadar pendamping hidup anak, melainkan penentu arah awalnya.

Di zaman rusak nilai, tugas orang tua bukan menjadikan anak sempurna, tapi menjadikannya punya kompas. Kompas itu bernama iman. Anak yang punya iman mungkin tetap jatuh, tapi ia tahu cara kembali. Anak yang mengenal Allah mungkin tergoda, tapi hatinya tidak kosong. Inilah tujuan utama tarbiyah: menghadirkan Allah di hati anak, bukan sekadar aturan di kepala.

Mendidik anak juga bukan soal banyaknya waktu, tetapi kualitas kehadiran. Sepuluh menit bersama anak dengan hati utuh lebih bermakna daripada berjam-jam tanpa keterlibatan jiwa. Mendengar ceritanya tanpa menghakimi, mendoakannya diam-diam, memeluknya tanpa syarat—hal-hal sederhana ini sering menjadi benteng terkuat di tengah gempuran zaman.

Baca Juga: Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya Gelar Training Growth Shuffah untuk Tingkatkan Kualitas Santri

Ayah dan ibu tidak harus menjadi ustaz atau ustazah di rumah. Cukup menjadi teladan yang jujur dalam belajar, mau meminta maaf ketika salah, dan mau kembali kepada Allah ketika lalai. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang mau bertumbuh bersama iman.

Amanah anak di zaman ini memang berat. Namun Allah tidak pernah menitipkan amanah tanpa kemampuan. Selama orang tua mau kembali hadir, memperbaiki niat, dan memohon pertolongan-Nya, selalu ada harapan. Dunia boleh terus berubah, nilai boleh bergeser, tetapi rumah yang dipenuhi iman akan selalu menjadi tempat paling aman bagi jiwa anak-anak kita.

Karena pada akhirnya, ketika dunia sibuk membentuk anak sesuai seleranya, orang tua yang sadar akan berkata dengan lembut namun tegas: “Tidak. Anakku milik Allah. Dan aku bertanggung jawab menjaganya.” []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Baznas, Kemenag Salurkan Bantuan Rp17,5 M untuk 700 Pesantren di Seluruh Indonesia

 

Rekomendasi untuk Anda

Artikel
Khutbah Jumat
MINA Sport
MINA Edu
MINA Edu