Anak-Anak Pelaku Bom Bunuh Diri di Lake Chad

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

Di suatu hari bertepatan pada hari Rabu, tanggal 10 Februari 2016, dua gadis Nigeria menyelinap berjalan di antara tenda-tenda Kamp Pengungsi Internal (IDP) di kota Dikwa, di timur laut negara tersebut.

Tiba-tiba tubuh kedua gadis itu meledak di komunitas pengungsi di tengah-tengah kamp.

Pejabat militer dan darurat wilayah negara bagian Borno mengatakan setelah kejadian, sebanyak 60 orang meninggal dan 78 lainnya terluka.

Tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri dua gadis itu, tapi serangan tersebut adalah pola yang sering dilakukan oleh kelompok Boko Haram.

Negara bagian Borno memang menjadi wilayah operasi para militan Boko Haram, kelompok yang mengaku atas nama Islam dan telah resmi menyatakan janji setianya kepada pemimpin Islamic State (ISIS/Daesh), yaitu Abu Bakar Al-Baghdadi yang berbasis di Irak dan Suriah.

Kelompok itu sering menggunakan perempuan dan bahkan anak-anak untuk melakukan aksi pengeboman.

Karena kehilangan banyak wilayahnya pada tahun lalu saat pemerintah kontra-ofensif, Boko Haram kembali melakukan strategi serangan hit-and-run terhadap desa-desa dan melakukan serangan bom bunuh diri di tempat-tempat ibadah atau pasar.

Pelaku Bom Bunuh Diri Anak Meningkat 11 Kali Lipat

Jumlah pelaku bom bunuh diri anak meningkat di wilayah Lake Chad, wilayah danau yang meliputi perbatasan antara empat negara tetangga di Afrika, yaitu Niger, Nigeria, Kamerun, dan Chad. Dari empat orang pada 2014 menjadi 44 orang pada 2015, meningkat 11 kali lipat.

Serangan bunuh diri secara umum, dari 32 serangan meningkat menjadi 151 serangan bom bunuh diri selama 2015 di keempat negara. Sebanyak 89 di Nigeria, 39 di Kamerun, 16 di Chad dan tujuh di Niger.

Data itu diungkap oleh lembaga PBB Unicef yang mempublikasikan sebuah laporan yang berjudul “Beyond Chibok” pada 12 April 2016.

Laporan menyatakan bahwa 75 persen dari anak pelaku bom bunuh diri di bawah umur itu adalah perempuan. Satu dari lima pelaku bom bunuh diri adalah anak-anak.

“Antara Januari 2014 hingga Februari 2016, Kamerun mencatat jumlah tertinggi serangan bunuh diri yang melibatkan anak-anak (21 orang), diikuti oleh Nigeria (17 orang) dan Chad (2 orang),” menurut laporan tersebut.

“Mari kita perjelas, anak-anak ini adalah korban, bukan pelaku,” kata Manuel Fontaine, Direktur Regional UNICEF untuk Afrika Barat dan Tengah. “Menipu anak-anak dan memaksa mereka untuk melakukan tindakan mematikan telah menjadi salah satu aspek yang paling mengerikan dari kekerasan di Nigeria dan di negara-negara tetangga,” tambahnya.

Fontaine mengamati, meningkatnya penggunaan anak-anak untuk bom bunuh diri membuat masyarakat memperlakukan anak-anak sebagai ancaman keamanan.

Solome Ishaya, seorang gadis remaja Nigeria. (Foto: dok. Sunday Alamba)
Solome Ishaya, seorang gadis remaja Nigeria. (Foto: dok. Sunday Alamba)

Kesaksian Gadis yang Kabur dari Boko Haram

Hauwa, seorang gadis yang berhasil kabur dari tahanan kelompok Boko Haram menceritakan sekilas apa yang dialaminya saat bersama kelompok itu.

“Mereka mengatakan, karena saya menolak untuk menikah, saya harus melakukan bom (bunuh diri),” katanya, sebagaimana BBC publikasikan. “Bagaimana saya hampir menjadi seorang pelaku bom bunuh diri.”

Seorang wanita muda lain yang berusia 17 tahun hidup dengan bayinya di sebuah kamp di kota Maiduguri. Wanita yang tidak disebutkan namanya itu pernah berada di dalam tahanan Boko Haram dan berhasil kabur.

Ia mengatakan kepada Unicef ​​bahwa ia menolak menikah dengan anggota militan, meski ada ancaman akan dibunuh.

“Kemudian mereka datang kepada saya di malam hari (memperkosa). Mereka mengurung saya dalam rumah selama lebih dari satu bulan dan mengatakan kepada saya, ‘Apakah kamu suka atau tidak, kami sudah menikahi kamu’,” ceritanya.

Di kamp penampungan saat ini, dia mengaku sering dikucilkan oleh masyarakat yang menuduhnya sebagai “istri Boko Haram”.

Gadis-gadis yang digunakan oleh Boko Haram untuk menjadi pelaku bom bunuh diri, sebelumnya sering dibius dan kemudian bahan peledak diikatkan ke tubuh mereka.

Anti Pendidikan Barat

Nama Boko Haram dalam bahasa Hausa berarti “pendidikan Barat haram”. Karenanya kelompok ini sering menargetkan sekolah selama pemberontakannya tersebut.

Krisis di wilayah Lake Chad mencatat ada hampir 1,3 juta anak terlantar, termasuk sekitar 1.800 sekolah ditutup, baik karena rusak, dijarah, dibakar atau digunakan sebagai tempat penampungan oleh orang-orang yang terlantar.

Lebih dari 5.000 anak-anak dilaporkan tanpa pendamping atau terpisah dari orang tuanya.

Sebagian anak masih bisa bersekolah di kamp-kamp pengungsian.

Ketidakamanan dan serangan membuat lebih dari 670.000 anak berhenti sekolah selama lebih dari satu tahun terakhir.

Banyak guru yang takut kembali ke kelas untuk mengajar dan orang tua juga takut mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah.

Tahun lalu, lebih dari 250.000 anak-anak dapat kembali ke sekolah lagi di daerah yang terkena dampak konflik di timur Nigeria.

Laporan Unicef itu muncul dua hari sebelum genap dua tahun lamanya setelah aksi penculikan terhadap lebih 200 siswi di Chibok, kota Nigeria di Borno. Penculikan itu didalangi oleh kelompok Boko Haram dan ratusan siswi itu hingga sekarang belum berhasil ditemukan satu pun.

Selama 15 bulan terakhir, sebagian besar kawasan yang dikendalikan oleh militan telah direbut kembali oleh pasukan multi-nasional. Militan kini diduga beroperasi dari tempat persembunyiannya di hutan Sambisa Nigeria, dekat perbatasan dengan Kamerun. (P001/R02)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)