NABI MUHAMMAD Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ، وَوَسِّعْ لَهُ فِي دَارِهِ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ، وَأَحْسِنْ أَعْمَالَهُ، وَاغْفِرْ لَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, luaskanlah rumahnya, berkatilah dia pada semua kurnia-Mu, perbaikilah amalannya, dan ampunkan untuknya.”
Doa ini diucapkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam atas permintaan Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibu Anas, saat Anas mulai melayani Nabi.
Banyak para sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut, di antaranya adalah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas, Abdullah bin Abbas, Abu Said Al Khudri, Jabir bin Abdillah, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum. (Alfiyah As-Suyuthi no. 661 dan 662)
Baca Juga: Kisah Tatang Asy’ari dari Lorong ke Lorong Istiqamah di Jalan Dakwah
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat yang lama membersamai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sehingga tak heran jika beliau termasuk di antara sahabat yang banyak meriwayatkan hadis.
Nasab Anas bin Malik
Beliau memiliki nama Anas bin Malik bin Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najjar Al-Anshari Al-Khazraji.
Anas melayani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sejak usia 10 tahun. Ia mengatakan,
Baca Juga: Abu Hurairah Sang Penjaga Hadits, Ahli Ibadah, dan Teladan Ramadhan
“Tatkala Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah, Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha datang kepada beliau dengan membawaku. Kemudian mengatakan, ‘Ya Rasulullah, ini Anas putraku, seorang anak yang cerdas dan siap melayanimu.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menciumku.” (HR. Al-Bazzar no. 6597)
Anas bin Malik kemudian diberi kunyah oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Abu Hamzah.
Beliau lahir di tahun ke-10 sebelum hijrah di Yatsrib (Madina). Beliau termasuk di antara sahabat-sahabat Nabi yang masuk Islam di usia masih muda.
Pelayan sekaligus pembelajar
Baca Juga: Kisah Uwais al-Qarni, Tabi’in Terbaik yang Dipuji Rasulullah
Selama menjadi pelayan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Anas tidak menyia-nyiakan waktu. Ia serap ilmu yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, baik dari segi perilaku maupun sabda-sabdanya.
Ia menduduki peringkat ketiga dari kalangan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Rasulullah setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum. Sebanyak 2.286 hadis telah berhasil ia dapatkan dari guru-gurunya.
Salah satu gurunya selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Usaid bin al Hudhair dan Abi Thalhah radhiyallahu ‘anhum.
Anas bin Malik juga memiliki banyak murid, salah satunya adalah Ibnu Sirrin dan Al Sya’bi. Bukti lain ia telah benar-benar melayani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pengakuan Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Anas adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sejarah mencatat ia adalah salah satu sahabat yang shalat menghadap dua qiblat (Baitul Maqdis dan Ka’bah).
Baca Juga: Muhammad bin Sirin, Ulama Tabi’in Penjaga Integritas di Era Bani Umayah
Saksi kemuliaan akhlak Rasulullah
Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya dan paling besar kasih sayangnya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berangkat, tetapi aku menuju anak-anak yang sedang bermain di pasar dan bukan melaksanakan tugas Rasul. Aku ingin bermain bersama mereka. Aku tidak pergi menunaikan perintah yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beberapa saat setelah berada di tengah-tengah anak-anak itu, aku merasa seseorang berdiri di belakangku dan memegang bajuku. Aku menoleh, ternyata dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan tersenyum. Beliau bersabda, “Wahai Unais, apakah kamu telah pergi seperti yang aku perintahkan?” Maka aku pun salah tingkah dan aku menjawab, “Ya, sekarang aku berangkat, wahai Rasulullah.”
Demi Allah, aku telah berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku lakukan, “Mengapa kamu melakukan ini?” Beliau tidak pernah berkata untuk sesuatu yang aku tinggalkan, “Mengapa kamu tinggalkan ini?”
Bila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memanggil Anas, terkadang beliau memanggilnya dengan Unais sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang, dan di lain waktu Nabi memanggilnya, “Wahai Anakku.”
Baca Juga: Sa‘id bin al-Musayyab, Sosok yang Memiliki Keteguhan Ilmu di Generasi Tabi‘in
Di antara nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Anas bin Malik bebunyi:
“Wahai anakku, jika kamu mampu mendapatkan pagi dan petang sementara hatimu tidak membawa kebencian kepada seseorang, maka lakukanlah. Wahai anakku, sesungguhnya hal itu termasuk sunahku, barangsiapa menghidupkan sunahku maka dia mencintaiku. Barangsiapa mecintaiku maka berarti dia bersamaku di surga. Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, karena ia merupakan keberkahan bagimu dan keluargamu.”
Anas menjadi orang Anshar yang palik banyak hartanya, paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia melihat anak-anak dan keturunannya melebihi angka seratus.
Baca Juga: Utsman bin Affan, Sibuk Ibadah Kala Ramadhan, Wafat Saat Berpuasa
Allah Ta’ala memberkahi umurnya sehingga dia hidup selama 103 tahun.
Anas sangat berharap mendapatkan syafaat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di hari Kiamat. Anas sering berkata, “Sesungguhnya aku berharap bisa bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di hari Kiamat, lalu aku berkata kepada beliau, “Aku adalah pelayan kecilmu. Unais.”
Ketika Anas sakit, sebelum wafatnya, dia berkata kepada keluarganya, “Talqinlah aku dengan Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur Rasulullaah.” Maka Anas senantiasa mengucapkannya sampai dia meninggal.
Anas mewasiatkan agar mengubur tongkat kecil milik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersamanya, maka tongkat itu diletakkan di sampingnya. []
Baca Juga: Kemesrasaan Ali bin Abi Thalib bersama Bulan Ramadhan
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic