Asosiasi Islam Cina Terima Kunjungan 10 Santri Indonesia

Asosiasi Islam Cina Terima Kunjungan 10 Santri Indonesia (foto:dok/Kemlu RI)

Beijing, MINA – Sebanyak 10 santri Indonesia yang tergabung dalam Santri Goest to China mengunjungi China Islamic Association (CIA) di Beijing dan berdialog mengenai Islam di Cina dengan Sekretaris Jenderal CIA, Ma Zhongping.​

Dalam paparannya, Zhongping mengatakan bahwa hubungan warga Muslim Cina dengan pemerintah Cina sangat baik. Bahkan, katanya, jumlah warga Muslim di Cina tidak bisa dibilang sedikit.

“Di Cina, pendidikan umum dengan pendidikan agama dipisah. Mereka belajar di Madrasah Islam setelah belajar di sekolah umum,”ucapnya, seperti dikutip dari laman Kemlu.go.id, Selasa (3/11).

Ia menyebut, warga Muslim di Cina ada sekitar 23 juta dan tersebar di beberapa provinsi. Mereka memiliki semacam madrasah Islam yang berjumlah sekitar 10 ribu. Mereka belajar di Madrasah Islam tersebut setelah sekolah di sekolah pemerintah.

“Selama ini kami juga mengirim beberapa pemuda kami untuk belajar di Al-Azhar Mesir dan beberapa negara Timur Tengah,” jawab Zhongping saat ditanya mengenai kemana saja tujuan mahasiswa Cina belajar. Selain itu, pihaknya juga mengirim para ulama muda dan imam masjid untuk belajar di Timur Tengah.

Pada pertemuan itu, China Islamic Association juga mendukung jika para pemuda Muslim Cina ingin belajar ke Indonesia, khususnya di berbagai Pesantren di Indonesia. Hanya saja, disampaikan bahwa perbedaan bahasa masih menjadi kendala.

Islam sendiri, seperti dikatakan Zhongping, sudah masuk ke Cina sejak abad ke-6. Ia sendiri meyakini bahwa ada kemiripan antara bagaimana Islam masuk ke Cina dengan bagaimana Islam masuk ke Indonesia yaitu melalui perdagangan, perkawinan, akulturasi dan asimilasi. Namun intinya adalah Islam masuk dengan cara yang damai.

Dalam sesi diskusi, para santri juga menjelaskan mengenai pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam Indonesia yang mengajarkan Islam yang moderat serta berperan penting dalam perdamaian dunia. Disampaikan juga tujuan kegiatan ini adalah untuk mengubah stigma sebagian masyarakat dunia terhadap pesantren yang sering dianggap sumber radikalisme.

Sekjen CIA mengapresiasi “Program Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia” yang diusung Kementrian Luar Negeri RI dan Kementrian Agama RI. Menurutnya, program ini sangat positif.

“Kalau memiliki banyak waktu, kalian bisa mengunjungi masjid-masjid dan komunitas-komunitas Muslim yang ada di Cina,” pungkasnya. (T/Sj/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)