SETIAP kali muncul berita tentang kekerasan dalam pacaran, masyarakat kembali tersentak. Ada yang kehilangan masa depan, ada yang kehilangan kehormatan, bahkan ada yang kehilangan nyawa. Tidak sedikit pula yang mengalami trauma berkepanjangan akibat orang yang dahulu begitu dicintai dan dipercayai. Ironisnya, tragedi semacam ini terus berulang dari tahun ke tahun.
Belum lama ini publik dibuat prihatin oleh kisah seorang perempuan muda yang mengalami penderitaan luar biasa setelah bertahun-tahun berada dalam pengaruh seseorang yang dikatakan sebagai pacarnya. Kisah tersebut menyisakan luka dan pertanyaan yang mendalam di hati banyak orang. Bagaimana mungkin seseorang yang mengaku mencintai justru tega menyakiti? Bagaimana mungkin hubungan yang diawali dengan perhatian berakhir dengan penderitaan yang sulit dibayangkan?
Tanpa bermaksud mendukung orang pacaran, mungkin ada juga pacaran yang tidak berakhir tragis. Namun bagiamanapun apapun itu alasannya pacaran tidak dibenarkan dalam Islam. Berbagai kasus kekerasan, manipulasi, pelecehan, pemerasan, hingga pembunuhan menunjukkan bahwa hubungan di luar ajaran syariat jelas menyimpan risiko yang sangat besar. Banyak tragedi besar tidak terjadi secara tiba-tiba. Semuanya berawal dari langkah-langkah kecil yang dianggap biasa.
Pertanyaannya, jika bahaya pacaran begitu nyata, mengapa masih banyak anak muda muslim yang terjebak di dalamnya? Salah satu jawabannya adalah karena pacaran telah dianggap sebagai sesuatu yang normal oleh masyarakat. Film, sinetron, media sosial, dan lingkungan pergaulan sering menggambarkan pacaran sebagai simbol kebahagiaan dan kedewasaan. Akibatnya, banyak remaja menganggap pacaran sebagai kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Baca Juga: Misteri Tiga Pulau di Kawasan Krakatau: Sertung, Rakata, dan Panjang
Selain itu, banyak anak muda yang sebenarnya sedang mencari perhatian dan kasih sayang. Ketika hubungan dengan orang tua kurang hangat, mereka mencari tempat lain untuk mencurahkan perasaan. Ketika tidak mendapatkan penghargaan di rumah, mereka merasa dihargai oleh orang yang memberikan perhatian. Dari sinilah banyak hubungan dimulai tanpa pertimbangan yang matang.
Media sosial juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Setiap hari anak-anak dan remaja melihat berbagai konten yang mempromosikan gaya hidup bebas, romantisme berlebihan, dan hubungan tanpa komitmen yang jelas. Lama-kelamaan apa yang sering dilihat akan dianggap normal. Apa yang awalnya terasa asing akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan.
Padahal Islam telah memberikan peringatan yang sangat jelas sejak lebih dari empat belas abad yang lalu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)
Baca Juga: Perang Trump di Teluk, Warga Amerika yang Menanggung Harga dan Inflasi
Perhatikan bahwa Allah tidak hanya melarang zina. Allah melarang segala jalan yang dapat mengantarkan kepada zina dan kerusakan. Para ulama menjelaskan bahwa larangan mendekati zina mencakup berbagai pintu yang membuka peluang munculnya syahwat dan pelanggaran batas. Karena itu Islam tidak sekadar mengobati masalah, tetapi menutup jalan menuju masalah tersebut.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan pentingnya menjaga pandangan, menjaga pergaulan, dan menjaga kehormatan diri. Semua itu bukan untuk mempersulit kehidupan manusia. Justru sebaliknya, syariat hadir untuk melindungi manusia dari penyesalan yang sering kali datang terlambat. Banyak orang baru memahami hikmah larangan agama setelah mereka merasakan sendiri akibatnya.
Peran orang tua dalam persoalan ini sangat besar. Anak-anak tidak lahir dengan pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap hari. Jika pendidikan agama lemah dan komunikasi keluarga renggang, maka pengaruh luar akan lebih mudah mengambil alih peran orang tua.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Hadis ini mengingatkan bahwa mendidik anak bukan hanya memenuhi kebutuhan materi. Orang tua juga bertanggung jawab menanamkan iman, akhlak, dan pemahaman tentang batasan-batasan yang ditetapkan Allah. Sebab benteng terkuat seorang anak bukanlah kekayaan, melainkan ketakwaan.
Baca Juga: Arab Saudi di Antara Dua Selat: Hormuz, Bab Al-Mandab, dan Masa Depan Pakta Makkah
Wahai para pemuda dan pemudi Muslim, jangan biarkan rasa ingin tahu sesaat merusak masa depan yang panjang. Jangan tertipu oleh rayuan yang terdengar indah tetapi menjauhkan dari Allah. Tidak semua yang terlihat romantis akan berakhir bahagia. Tidak semua yang diawali dengan kata cinta akan berujung pada keberkahan.
Cinta yang sejati tidak mengajak kepada maksiat. Cinta yang sejati tidak merusak kehormatan dan tidak menjauhkan seseorang dari Rabb-nya. Jika seseorang benar-benar mencintai Anda, ia akan datang melalui jalan yang halal dan terhormat. Sebab cinta yang diberkahi Allah akan menghadirkan ketenangan, bukan ketakutan; menghadirkan kemuliaan, bukan penyesalan.
Marilah kita mengambil pelajaran dari berbagai tragedi yang terjadi di sekitar kita. Jangan menunggu musibah datang baru menyadari pentingnya menjaga diri. Jangan menunggu air mata jatuh baru memahami hikmah larangan Allah. Karena sesungguhnya perintah dan larangan Allah tidak pernah dimaksudkan untuk menyulitkan manusia, melainkan untuk menyelamatkan mereka dari luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepanjang hidupnya.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Asa Kemabruran: Refleksi Hari Khidmat Haji dan Umrah
















Mina Indonesia
Mina Arabic