Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tugas Guru dan Peran Guru: Menjaga Pelita Generasi, Menentukan Arah Bangsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

Ahad, 16 Agustus 2026 - 19:56 WIB

43 Views ㅤ

Ilustrasi: Guru mengajar. (Al-Azhar)

GURU bukanlah sekadar profesi. Ia adalah panggilan jiwa, amanat yang dipikul di pundak manusia biasa. Mereka yang memilih jalan ini adalah para arsitek peradaban, yang tidak membangun dari batu dan baja, melainkan dari akhlak mulia, cahaya ilmu, dan semangat yang tak pernah padam.

Setiap kata yang mereka ucapkan adalah benih. Setiap sentuhan kasih mereka adalah siraman. Kelak, benih-benih itu akan tumbuh menjadi pohon-pohon besar yang menaungi negeri.

Seorang guru adalah pelita di tengah gulita. Ketika zaman gemuruh dengan hiruk-pikuk materi, mereka tetap teguh memegang obor kebenaran.

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, mewariskan semboyan agung yang menjadi panduan abadi: Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan, seorang guru memberi teladan), Ing Madya Mangun Karso (di tengah, ia membangun semangat), Tut Wuri Handayani (di belakang, ia memberikan dorongan dan arahan).

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Mereka sadar sepenuhnya: di tangan merekalah karakter anak bangsa ditempa. Bukan hanya pandai berhitung atau fasih berbahasa asing, tetapi juga berani jujur, teguh berprinsip, dan lapang berbagi. Merekalah benteng terakhir moralitas di tengah arus deras perubahan.

Betapa mulianya tugas ini, hingga Allah sendiri dalam firman-Nya yang agung mengangkat derajat mereka.

Firman Allah di dalam Al-Quran:

ا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

“Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Bahkan Allah menyandingkan kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian-Nya sendiri dan para Malaikat. Sebagaimana firman-Nya:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًا ۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Ali Imran: 18).

Sungguh suatu kemuliaan yang tak terbayangkan tugas seorang guru dalam mengajarkan ilmunya kepada anak didik.

Dan lebih dalam lagi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kita bagaimana seharusnya menyikapi karunia ilmu yang agung ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, beliau bersabda dengan penuh nasihat:

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

كُنْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتَهْلِكَ

“Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka kamu akan celaka.” (HR. Baihaqi).

Hadits ini bagaikan sebuah tangga cahaya. Di anak tangga pertama berdiri para guru, mereka yang berilmu dan mengajarkannya. Di anak tangga kedua adalah para penuntut ilmu yang haus akan kebenaran. Di anak tangga ketiga, mereka yang dengan rendah hati mau mendengarkan ilmu. Dan di anak tangga keempat, mereka yang mencintai ilmu meski belum sempat mendalaminya. Namun celakalah orang yang menjadi yang kelima, yaitu orang yang acuh, sombong, dan berpaling dari ilmu. Sungguh, kehancuran menanti mereka.

Maka, peran guru bukan hanya berilmu, tetapi juga mengalirkan ilmu itu kepada generasi. Mereka adalah mata air yang tak pernah kering di tengah padang tandus kebodohan.

Bahkan, Nelson Mandela, seorang pejuang kemanusiaan dari Afrika Selatan, pernah berkata, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia).

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Dan senjata itu berada di tangan para guru. Mereka adalah pahlawan yang memegang kunci perubahan peradaban.

Maka, jika bangsa ini ingin besar, hormatilah guru. Karena di balik setiap insan sukses, ada guru yang pernah menyuluh jalannya. Di balik setiap ilmuwan besar, ada guru yang pernah menabur benih keingintahuannya. Di balik setiap pemimpin bijaksana, ada guru yang pernah menanamkan nilai kejujuran dan keberanian.

Sudah saatnya kita semua, pemerintah, masyarakat, dan kita anak bangsa, bangkit memberi penghargaan yang layak bagi para guru. Bukan sekadar ucapan, tetapi tindakan nyata: kesejahteraan yang pantas, fasilitas yang memadai, dan rasa hormat yang tulus. Karena ketika guru bahagia, mereka akan mengajar dengan cinta. Dan ketika mereka mengajar dengan cinta, generasi emas bangsa akan lahir.

Di tangan mereka, masa depan dipertaruhkan. Maka jagalah tangan-tangan itu, agar tak pernah lelah menggenggam pelita ilmu. Sebab, selama masih ada guru yang mengajar dengan ikhlas, selama itu pula masa depan suatu bangsa masih punya harapan. []

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda