Bangga Menjadi Minoritas

Oleh: Zaenal Muttaqin, jurnalis MINA

Menjadi golongan manyoritas atau terbanyak biasanya menjadi kebanggaan, apalagi bagi para pengagung demokrasi. Karena menurut faham demokrasi, mayoritas merupakan penentu kemenangan, bahkan doktrin demokrasi yang sangat populer adalah suara rakyat (kebanyakan) adalah suara Tuhan.

Sebaliknya menjadi golongan minoritas biasanya akan tersingkir dan terpinggirkan yang seringkali membuat kurang percaya diri. Padahal sebenarnya tidak demikian, justru minoritas atau golongan yang sedikit itu bisa jadi yang lebih baik daripada yang mayoritas.

Disebutkan dalam suatu riwayat, bahwa suatu hari, ‘Umar bin Khothob radhiyallahu anhu, pernah melewati seorang lelaki di pasar, lalu orang tersebut berdoa dan mengucapkan:

اللهم اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ القَلِيْلِ … اللهم اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ القَلِيْلِ

“`Ya Allah, Jadikanlah diriku termasuk hamba-hamba-Mu yang sedikit… Ya Allah, Jadikanlah diriku termasuk hamba-hamba-Mu yang  minoritas… “`

Maka Umar pun bertanya: “Darimana kamu dapati doa seperti ini??”

Lelaki itu menjawab : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :

  وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“`Dan alangkah sedikitnya hamba-hamba-Ku uang bersyukur“`

Mendengar jawaban lelaki tersebut Umar pun menangis. Lelaki itu lalu berkata : “Setiap orang sepertinya lebih faqih dari Anda wahai Umar.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah)

Apa yang disampaikan seorang lelaki tersebut kepa Umar benar, karena ketika mencari kalimat golongan mayoritas di dalam Al Quran dengan kalimat ‘Kebanyakan Manusia’ (أَكْثَرَ النَّاسِ ) maka dapat ditemukan, diantaranya:

“Kebanyakan manusia tidak bersyukur,” – أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ – (Al Baqoroh: 243).

“Kebanyakan manusia tidak mengetahui,” – أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ – (Al A’rof: 187).

“Kebanyakan manusia tidak beriman,” – أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ – (QS.Huud:17).

Kemudian jika mencari kalimat ‘Kebanyakan Mereka’ ( أَكْثَرُهُمُ ) di dalam Al Quran, maka akan dapat ditemukan diantaranya:

“Kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik,” – أَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ – (QS.Ali Imran: 110).

“Kebanyakan mereka tidak berakal,” – أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ – (QS.al-Ma’idah: 103).

“Kebanyakan mereka bodoh,” – أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُون – (QS.al-An’am: 111).

“Kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah,” – أَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُون – (QS. An-Nahl: 83).

“Kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebenaran), karena itu mereka berpaling,” – أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُم مُّعْرِضُونَ – (QS.al-Anbiya’: 24).

Begitulah ayat-ayat Al Quran menyebut tentang kebanyakan manusia dan kebanyakan mereka, yang mengarah pada keburukan, yaitu tidak bersyukur, tidak mengetahui, tidak beriman, orang-orang fasik, tidak berakal dan bodoh.

Menjadi manyoritas ternyata tidaklah membanggakan, sebaliknya dalam Al Quran menyebut bahwa yang minoritas atau sedikit adalah yang baik-baik. Maka jadikan diri kita termasuk yang minoritas, golongan yang sedikit yang disebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran sebagai yang baik, diantaranya:

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur,” –  وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ- (QS. Saba’: 13).

“Ternyata orang-orang beriman yang bersamanya hanya sedikit,” – وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيل – (QS. Huud: 40).

“Banyak dari orang-orang yang terdahulu dan sedikit dari orang-orang yang kemudian,” – ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ – وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِين – (QS. AlWaqi’ah: 13-14).

Ternyata, kebenaran tidak ditentukan oleh banyak atau sedikitnya jumlah pengikut dan pelakunya, tetapi sesuai tidaknya dengan petunjuk Al Quran dan Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Meski hanya sedikit yang mengerjakan, tetapi sesuai dengan tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah, maka mereka benar. Orang yang banyak tetapi mereka menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, maka mereka keliru.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS.al-An’am: 116).

As Sa’di rahimahullah mengatakan, ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh. [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Hendaknya kita tidak tertipu dengan mayoritas, karena mayoritas kadang kala tersesat seperti ayat diatas. Dari sisi lain, jika manusia tertipu dengan mayoritas sehingga dia menduga bahwa dialah yang menang, inilah penyebab manusia menjadi hina. Jangan tertipu dengan mayoritas, jangan tertipu dengan umumnya orang yang hancur akidah dan akhlaknya sehingga akan hancur pula bersama mereka, dan janganlah tertipu pula dengan orang yang sukses, sehingga termasuk orang yang sombong dengan menyepelekan golongan yang sedikit, sebab boleh jadi yang sedikit itu lebih baik dari pada yang mayoritas.

Bahkan ‘Aljamaah’ yang oleh Rosullullah Shalallhu ‘alaihi wasalam disebut sebagai golongan yang selamat dan golongan orang-orang yang dalam kebenaran, bukan berarti harus banyak pula pengikutnya. Ibn Masud radiallahu ‘anhu berkata:

اِنَّ جُمْهُوْر النَّاسِ فَارِقُوْا الْجَمَاعَة ،وَانَّ اَلْجَمَاعَة مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَاِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

“Sesungguhnya kebanyakan manusia akan meninggalkan Jamaah, sesungguhnya Al-Jamaah (golongan yang selamat) itu adalah apabila mengikuti kebenaran sekalipun engkau hanya seorang diri.”

Abu Syamah rahimahullah berkata: “Apabila telah datang perintah agar berpegang teguh kepada Al Jamaah, yang dimaksudkan dengannya ialah berpegang pada kebenaran (Al Haq) dan mengikutinya, walaupun yang berpegang kepada kebenaran itu amat sedikit dan yang meninggalkannya amat banyak. Karena kebenaran yang ada pada Jamaah yang pertama bersama Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam serta para sahabat radiallahu ‘anhum tidak pernah melihat kepada banyaknya ahli batil sesudah mereka”.

Wallahu a’lam bis showaab. Dikutip dari banyak sumber. (B05/RS3 )

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)