SETIAP PAGI, ketika kita membuka mata dan menyentuh layar ponsel, dunia mengalir deras ke dalam genggaman. Berita datang dan pergi seperti ombak lautan. Ada yang menenangkan, ada yang menghantam.
Namun di antara lautan informasi itu, ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: Sudahkah kita menjadi jurnalis yang terbaik?
Bukan terbaik dalam arti paling populer, paling banyak dibaca, atau paling cepat. Tetapi terbaik dalam arti paling bertanggung jawab, paling jujur, dan paling berpihak pada kebenaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Mulk ayat 2:
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2).
Ayat ini bukan sekadar pengingat tentang kematian. Ia adalah fondasi etika seorang jurnalis. Allah tidak bertanya: siapa yang paling banyak menulis? Siapa yang paling cepat menyiarkan? Siapa yang paling viral? Allah bertanya: siapa yang paling baik amalnya.
Dan bagi seorang jurnalis, “amal terbaik” itu terwujud dalam tiga hal: mencari, menulis, dan menyiarkan.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Terbaik dalam Mencari
Jurnalis terbaik bukanlah yang pertama sampai di lokasi, tetapi yang paling dalam menggali. Ia tidak berhenti pada permukaan. Ia bertanya, memeriksa, memverifikasi. Ia tidak mudah percaya pada satu sumber. Ia tahu bahwa berita adalah amanah, dan amanah tidak boleh dinodai oleh spekulasi.
Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Mencari berita adalah ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Ia adalah bentuk tabayyun, verifikasi, yang diperintahkan Allah. Jurnalis terbaik tidak menyebarkan kabar tanpa bukti.
Ia tidak menulis tanpa dasar. Ia adalah penjaga gerbang informasi, bukan corong kebohongan.
Terbaik dalam Menulis
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
Menulis adalah tindakan moral. Setiap kata yang kita tulis adalah pilihan. Apakah kita menulis untuk menenangkan atau menghasut? Apakah kita menulis untuk mencerahkan atau menyesatkan? Apakah kita menulis untuk membela yang lemah atau memperkuat yang kuat?
Jurnalis terbaik menulis dengan kejernihan pikiran dan kebeningan hati. Ia tidak menulis untuk menyenangkan atasan, memuaskan sponsor, atau mengikuti arus opini. Ia menulis untuk menyuarakan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu pahit dan tidak populer.
Ia menulis tentang keadilan, bukan hanya tentang kekuasaan. Ia menulis tentang perdamaian, bukan hanya tentang konflik. Ia menulis tentang kemerdekaan, bukan hanya tentang penindasan. Dan ia menulis dengan bahasa yang indah, karena bahasa yang baik adalah bentuk penghormatan kepada pembaca.
Terbaik dalam Menyiarkan
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Menyiarkan berita bukan sekadar memencet tombol publish. Ia adalah tindakan spiritual. Ketika kita menyiarkan sebuah berita, kita sedang memengaruhi cara dunia melihat. Kita sedang membentuk opini, menggerakkan hati, dan, jika dilakukan dengan benar, mendorong perubahan.
Jurnalis terbaik menyiarkan berita dengan keberanian, tetapi juga dengan kehati-hatian. Ia tidak menyiarkan berita yang belum terverifikasi. Ia tidak menyebarkan kebencian atas nama kebebasan pers. Ia tidak mengorbankan akurasi demi kecepatan.
Ia menyiarkan berita yang membangun, bukan yang merusak. Ia menyiarkan berita yang mempererat persaudaraan, bukan yang memecah belah. Ia menyiarkan berita yang mengangkat martabat manusia, bukan yang merendahkannya.
Palestina: Number One dalam Pemberitaan
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Bagi kami di MINA, Palestina bukan sekadar isu. Ia adalah panggilan iman. Al-Aqsa bukan sekadar bangunan. Ia adalah amanah. Dan Gaza bukan sekadar berita. Ia adalah luka kemanusiaan yang tidak boleh dibiarkan mengering tanpa perhatian.
Ketika dunia berpaling, kita tetap menulis. Ketika media lain sibuk dengan berita selebriti dan sensasi, kita tetap menyiarkan tentang anak-anak Gaza yang kehilangan masa depan, tentang keluarga Palestina yang kehilangan tanah, tentang Al-Aqsa yang digerogoti dari bawah.
Mengapa? Karena Palestina adalah ujian bagi kemanusiaan. Dan jurnalis terbaik tidak boleh lulus dari ujian itu dengan diam.
Penutup
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Kembali ke Al-Mulk ayat 2: “Siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Amal terbaik bukanlah yang paling banyak dilihat orang. Amal terbaik adalah yang paling ikhlas, paling konsisten, dan paling berdampak.
Jurnalis terbaik adalah ia yang menulis bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk umat manusia. Ia mencari bukan untuk popularitas, tetapi untuk kebenaran. Ia menyiarkan bukan untuk viral, tetapi untuk keadilan.
Dan ketika ia menulis tentang Palestina, ia tidak sedang mengejar klik. Ia sedang menunaikan amanah. []
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic