Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khutbah Jumat: Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 18 September 2026 - 03:28 WIB

Jumat, 18 September 2026 - 03:28 WIB

72 Views ㅤ

Masjid Al-Aqsa di Palestina (Foto: Pexels/Yasir Gurbuz)

KHUTBAH JUMAT kali ini mengingatkan jamaah akan pentingnya Masjid Al-Aqsa bagi umat Islam, dengan topik “Mentadaburi Surat Al-Isra dalam Pembebasan Al-Aqsa,” oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds Internasional dan Redaktur Senior MINA News. Berikut naskah selengkapnya.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَهُ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Baca Juga: Khutbah Jumat: Risalah Kemanusiaan dari Bumi Palestina

Jamaah Jumat rahimakumullah

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya yang setia hingga Yaumul Kiamah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan sebenar-benar takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga dengan ketakwaan itu, Allah membuka pintu-pintu pertolongan-Nya bagi kita dan bagi saudara-saudara kita di tanah suci Palestina yang sedang berjuang mempertahankan kehormatan dan kemuliaan Masjidil Aqsa.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kehidupan Dunia Tempat Menanam Kebaikan

Takwa bukan hanya takut kepada Allah ketika berada di masjid. Takwa adalah ketika hati kita merasa diawasi Allah di mana pun kita berada. Takwa adalah ketika Al-Qur’an tidak hanya kita baca dengan lisan, tetapi masuk ke dalam pikiran, meresap ke dalam hati, lalu terlihat dalam kehidupan.

Hadirin rahimakumullah

Hari ini marilah kita bersama-sama mentadaburi Surat Al-Isra, khususnya ayat pertama, dan ayat-ayat berikutya, yang ditadaburi, dan dihubungkan dengan satu amanah besar umat Islam: Masjidil Aqsa dan pembebasannya.

Allah berfirman:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Islam Menjaga Perdamaian  

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1).

Jamaah sekalian

Allah tidak menceritakan perjalanan Isra di dalam Al-Qur’an secara sembarangan. Allah menyebut Masjidil Haram dan langsung menghubungkannya dengan Masjidil Aqsa.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Melestarikan Alam Menyelamatkan Kehidupan

Dari Makkah menuju Al-Aqsa. Dari masjid pertama menuju masjid kedua. Dari tanah dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, menuju tanah risalah para nabi.

Kita menghayatinya, dengan satu kalimat, “Wahai umat Islam, Al-Aqsa adalah bagian dari perjalanan agamamu.”

Karena itu, seorang Muslim jangan sampai mengenal Al-Aqsa hanya ketika melihat berita perang. Jangan mengenal Palestina hanya ketika melihat gambar kehancuran.

Kita harus mengenalnya sebagai bagian dari akidah, sejarah, ilmu dan amanah umat. Inilah yang dapat kita sebut sebagai persiapan keilmuan atau i‘dad ma‘rifī.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Jangan Pernah Berhenti Menyuarakan Al-Aqsa

Sebelum sebuah umat mampu menjaga sesuatu, ia harus mengenalnya. Bagaimana mungkin kita mencintai Al-Aqsa kalau kita tidak mengetahui kedudukannya? Bagaimana mungkin kita memperjuangkannya kalau kita tidak memahami sejarahnya?

Bagaimana mungkin kita menjelaskan kepada anak-anak kita tentang Palestina kalau kita sendiri tidak mengetahui apa hubungan Al-Aqsa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Nabi utusan Allah.

Maka generasi Al-Aqsa harus dibangun dengan ilmu. Kenali Al-Aqsa dan baca sejarahnya. Pelajari Al-Qur’an tentangnya. Kenali kedudukannya dalam perjalanan para nabi. Ajarkan kepada anak-anak kita.

Sebab sesuatu yang tidak dikenal, lama-lama akan dilupakan. Dan sesuatu yang dilupakan, lama-lama akan ditinggalkan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Sabar Dalam Menghadapi Musibah

Jamaah Jumat rahimakumullah

Setelah Allah menyebut Al-Aqsa pada ayat pertama, Surat Al-Isra membawa kita kepada sebuah pelajaran tentang naik-turunnya kekuatan umat.

Allah berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Baca Juga: Khutbah Jumat: Berbakti Kepada Orang Tua, Kunci Kesuksesan dan Keberkahan Hidup

“Jika kamu berbuat baik, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7).

Ayat ini sangat penting. Karena pembebasan Al-Aqsa bukan hanya persoalan siapa yang memiliki senjata lebih banyak. Bukan hanya persoalan siapa yang memiliki teknologi lebih canggih.

Tetapi ada hukum Allah: Kebaikan melahirkan kebaikan. Keburukan melahirkan keburukan. Perbaikan melahirkan kekuatan. Kerusakan mengundang kehancuran.

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an ketika membahas ayat ini mengaitkan rangkaian ayat tersebut dengan perjalanan sejarah Bani Israil dan perubahan kekuatan di bumi. Ayat ini menjadi pelajaran tentang datangnya masa ketika kekuasaan dan hegemoni mereka mengalami keruntuhan sebagai bagian dari sunnatullah.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Tugas Besar Rasulullah ﷺ dan Kunci Kesuksesannya

Tetapi yang perlu kita pahami adalah bahwa Al-Qur’an tidak mengajarkan kita hanya menunggu kehancuran pihak lain. Al-Qur’an justru mengajarkan perbaiki diri kita. Karena kemenangan umat tidak dimulai dari runtuhnya lawan. Tapi kemenangan dimulai dari bangkitnya umat itu sendiri.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Lalu bagaimana membangun generasi yang layak menerima pertolongan Allah? Jawabannya antara lain dapat kita temukan dalam rangkaian ayat-ayat di dalam Surat Al-Isra.

Di antaranya Allah berfirman:

Baca Juga: Khutbah Jumat: Kemerdekaan Hakiki Sebagai Hamba Allah

إِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra: 9).

Maka generasi pembebasan adalah generasi Al-Qur’an. Bukan generasi yang hanya pandai berbicara tentang Palestina. Tetapi generasi yang membaca Al-Qur’an, memahami Al-Qur’an, dan mengamalkan Al-Qur’an. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Sebab tidak mungkin kita mengharapkan kemenangan umat sementara Al-Qur’an hanya tersimpan di rak rumah. Tidak mungkin kita berbicara tentang pembebasan Al-Aqsa tetapi hati kita belum dibebaskan dari kemaksiatan.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Meneladani Rasulullah ﷺ dalam Mempersatukan Umat

Tidak mungkin kita merindukan kemenangan di bumi tetapi kalah setiap hari melawan hawa nafsu. Pembebasan Al-Aqsa harus berjalan bersama pembebasan diri kita dari dosa.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Selanjutnya, mari kita lihat bagaimana Surat Al-Isra berbicara tentang kehidupan kita. Yakni, Allah memerintahkan berbakti kepada orang tua:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23).

Mengapa kita berbicara tentang Al-Aqsa, tetapi masih menyakiti hati ibu? Mengapa kita berbicara tentang Palestina, tetapi ayah dan ibu kita belum kita bahagiakan? Mungkin kita jauh dari Al-Aqsa. Tetapi kita memiliki “pintu Al-Aqsa” di rumah, yaitu keridhaan kedua orang tua.

Kemudian Allah melarang zina pada ayat lainnya dari surat Al-Isra:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰى إِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗ وَسَاءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32).

Ayat ini bukan hanya jangan berzina. Tetapi Allah mengatakan

وَلَا تَقْرَبُوا jangan mendekati. Maknanya, jauhi jalan menuju zina. Jaga mata, jaga hati, jaga pergaulan, jaga kehormatan keluarga.

Karena umat yang ingin membangun peradaban harus terlebih dahulu membangun kesucian generasinya.

Pada ayat lainnya, Allah juga melarang pemborosan:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ۝ إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا إِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra: 26–27).

Maka generasi pembebasan bukan generasi yang hidup berlebihan. Belajar sederhana. Belajar menahan diri. Belajar mengelola harta. Belajar berbagi.

Karena umat yang boros dengan hartanya akan lemah ketika menghadapi kebutuhan besar umat.

Allah juga memerintahkan keadilan:

وَاَوْفُوا الْكَيْلَ اِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوْا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيْمِ

“Sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan timbangan yang benar.” (QS. Al-Isra: 35).

Artinya, perjuangan untuk keadilan di Palestina harus dimulai dari keadilan di rumah. Adil kepada istri. Adil kepada anak-anak. Adil kepada tetangga. Adil dalam berdagang. Adil dalam berbicara. Adil dalam menilai orang lain.

Karena Al-Aqsa membutuhkan umat yang adil, bukan umat yang hanya pandai meneriakkan keadilan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Surat Al-Isra juga mengajarkan kita tentang shalat malam. Allah berfirman:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79).

Ada hubungan yang indah. Ayat tentang Isra. Ayat tentang Al-Aqsa. Dan kemudian kita diarahkan kepada shalat malam.

Kita pun menghayatinya bahwa perjalanan besar membutuhkan kekuatan dari langit. Dan kekuatan dari langit dicari dalam sujud yang panjang.

Mungkin kita tidak bisa pergi ke Al-Aqsa hari ini. Tetapi kita bisa mengangkat tangan untuk Al-Aqsa di sepertiga malam yang akhir.

Mungkin kaki kita belum menginjak pelataran Al-Aqsa. Tetapi dahi kita bisa menyentuh sajadah dalam tahajud. Mungkin tangan kita belum mampu melakukan banyak hal. Tetapi kita bisa berdoa.

Kita bisa belajar. Kita bisa mendidik anak-anak. Kita bisa membantu kemanusiaan. Kita bisa menyuarakan kebenaran dengan cara yang baik. Dan kita bisa membangun generasi yang mengenal Al-Aqsa. Itulah bagian kita.

Jamaah rahimakumullah,

Marilah, jangan bertanya hanya, “Kapan Al-Aqsa dibebaskan?” Tetapi tanyakan kepada diri, “Sudahkah kita menjadi bagian dari generasi yang layak menerima kemenangan itu?”

Sudahkah kita dekat dengan Al-Qur’an? Sudahkah kita menghormati orang tua? Sudahkah kita menjaga keluarga? Sudahkah kita meninggalkan zina dan kemaksiatan? Sudahkah kita meninggalkan pemborosan? Sudahkah kita berlaku adil? Sudahkah kita rajin shalat malam?

Sudahkah kita mengenal Al-Aqsa? Sudahkah kita mengajarkan Al-Aqsa kepada anak-anak kita? Inilah i‘dad ma‘rifī, persiapan dengan ilmu. Kemudian i‘dād ruhī, persiapan dengan iman dan ibadah. Kemudian i‘dād akhlāqī, persiapan dengan akhlak.

Dan semua itu bermuara pada satu hal: menjadi umat yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an.

Semoga kitab isa mentadaburi sura Al-Isra kaitannya dengan pembebasan Al_Aqsa, dan dapat mengamalkan dengan mohon petolongan Allah. Aamiin. []

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda