Budidaya Alpukat Hass Australia, Cuan Melimpah, Alam Lebih Asri

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Pagi itu, sekira pukul 06.00 wib, Sabtu, (17/9), saya diajak teman untuk berkunjung ke Markaz Syariah (MS) Habib Rizieq Shihab (HRS) di kawasan Mega Mendung, Bogor. Dengan senang hati saya ikut. Mumpung gratis ini, pikir saya.

Rupanya bukan hanya saya seorang yang akan diajak teman berkunjung ke MS itu. Masih ada dua orang lain yang juga akan berangkat bersama ke MS, termasuk seorang anak lelakinya.

Mobil avanza yang kami tumpangi dan disopiri oleh teman saya itu akhirnya perlahan keluar dari Pesantren Al Fatah Cileungsi, Desa Pasirangin Bogor, lokasi dimana saya dan teman itu menetap.

Belum lama melaju, seorang teman asal Kalimantan Barat yang duduk di samping sopir bertanya adakah ATM Mandiri terdekat. Akhirnya, kita berbelok sebentar menuju RS Mary. Untuk apa? Untuk mengantar teman tadi menuju ATM yang dimaksud. Sementara, saya dan yang lain menunggunya di mobil saja.

Tak berapa lama, teman itu sudah terlihat menuju kembali ke mobil dan menaikinya. Perjalananpun dilanjutkan. Kali ini mobil berhenti untuk kedua kali karena harus mengisi bakan bakar. Setelah terisi, lalu teman saya memberikan uang kepada pekerja POM Bensin itu.

Saya lihat, dua lembar seratus ribuan dan selembar lima puluh ribu. Jadi semua 250 ribu, BBM memang sudah naik. Akhirnya mobil melaju dan berbelok di perempatan sebelum perempatan Cileungsi.

Mobil terus berjalan dan berhenti lagi untuk mengisi saldo e-toll di sebuah alfa mart. Saat menuju mobil, teman saya melihat ban mobil seperti kempes. Beruntung hanya beberapa meter dari lokasi alfa mart itu ada tukang tambal ban.

Oh, ternyata, ban mobil itu bukan hanya kurang angin, tapi bocor. Maka terpaksa harus ditambal terlebih dulu. Lumayan, makan waktu beberapa menit. Setelah selesai, semua kembali naik mobil.

Beberapa waktu sebelum masuk tol, saya diminta duduk di belakang oleh sopir, karena katanya ada yang mau ikut naik mobil yang ditumpangi ke MS.

Benar saja, tepat di depan RS Meilia kami berhenti dan dua orang suami istri sudah menunggu untuk ikut bersama. Oh rupanya pria yang baru naik mobil bersama kami adalah keponakannya HRS bersama istrinya.

Menurut teman saya, dia adalah petani alpukat yang pernah diceritakan teman ke saya. Dan perjalanan ke MS hari ini tujuan utamanya adalah melihat-lihat kebun alpukatnya yang cukup luas dan berhadapan dengan pesantren HRS.

Nama lelaki itu Abbas Saefullah. Usianya sekitar 45 tahun. Dia masih keponakan HRS, dan biasa dipanggil Pak Ipul. Jadi marganya masih Shihab juga. Selain rendah hati, orangnya juga senang berbagi ilmu dan pengalaman terutama dalam budidaya alpukat.

“Saya menanam alpukat sekitar tahun 2017,” katanya.

Jalan berlobang dan berlumpur

Untuk menuju MS setidak memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kami saja yang berangkat dari Cileungsi, paling tidak harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam. Belum lagi jika kejebak macet, maka perjalanan tentu jadi terasa lebih jauh lagi.

Menuju MS sama seperti berjalan menuju ke puncak gunung. Disepanjang jalan, saya banyak melihat rumah-rumah penduduk yang memang sudah padat. Beberapa saya lihat ada rest area yang menghadirkan rumah makan dan tempat wisata.

Kawasannya memang indah. Dan semakin mobil melaju ke atas, maka kian terlihat keindahan alamnya yang terbentang luas.

Akhirnya, sampai juga kami di gerbang masuk MS. Gerbang yang ditutup dengan portal itu dijaga oleh dua orang. Jadi siapa saja yang akan memasuki area MS, sebelumnya akan ditanyakan terlebih dulu. Siapa, dari mana dan mau ketemu siapa.

Agar penjaga portal itu tahu siapa yang ikut bersama kami, maka kaca mobil dibuka. Pak Ipul menyapa mereka. Setelah tahu yang menyapa adalah keponakannya HRS, penjaga itu langsung mempersilahkan. “Oh, dikira siapa,” kata salah satu penjaga itu.

Kalau sepanjang perjalanan tadi kami melalui jalan beraspal, tapi saat masuk ke MS jalannya masih tanah merah. Bukan hanya tanah merah, tapi juga jalannya berlubang, beraird dan berkelok-kelok. Sebelah kiri jalan adalah jurang yang ditumbuhi pepohonan liar juga pinus milik dinas setempat.

“Di sini neh, kalau ada satu pohon aja yang diambil warga, siap-siap dah dipenjara,” kata Pak Ipul berceria di tengah guncangan mobil karena jalannya yang dipenuhi lobang.

Saat sedang asyik berbagi cerita, tiba-tiba di depan ada mobil avanza putih yang menuju ke luar MS. Akhirnya mobil kami harus mundur untuk mempersilahkan mobil tadi lewat. Setelah mobil tadi lewat, kamipun melanjutkan perjalanan.

Setelah sekira 20 menit, akhirnya kami sampai di MS dan melihat-lihat betapa indah pesantren milik Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS).

HRS memberi nama pondok pesantren itu Pesantren Alam dan Agrokultural Markaz Syariah. Lokasinya ada di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sudah tentu tak semua orang bisa masuk ke pesantren itu.

Sebiji alpukat Hass, harganya Rp 50 Ribu

Pesantren itu begitu indah. Tertata, dan sangat sejuk. Udaranya segar, enak untuk dihirup. Tak hanya itu, di sebelah depan pesantren dekat gerbang utama masuk, kita bisa melihat bagaimana lahan-lahan subur ditanami sayur mayur oleh petani dari warga setempat.

Lalu jika terus ke atas, maka kita akan disuguhkan dengan sekitar tiga ribu pohon alpukat. Wow, indah sekali bukan. Pesantren yang dikolaborasi dengan sistem agrokultur.

Jadi, di pesantren HRS itu, santri-santri bukan hanya mendapatkan ilmu saja tapi juga dibekali bagaimana berusaha dalam bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.

“Di pesantren ini semua terintergasi. Santri bukan hanya belajar syariat Islam tapi juga mereka dikenalkan dengan aplikasi dari syariat itu sendiri. Terutama dalam bidang pertanian, peternakan dan perkebunan,” jelas Pak Ipul.

Pak Ipul lalu mengajak kami melihat-lihat kebun alpukatnya. Saya begitu takjub, sebab baru kali ini saya bisa menyaksikan ribuan pohon alpukat yang tumbuh tersusun rapi. Bagi saya, melihat pohon alpukat yang tingginya hanya 2 – 3 meter tentu adalah hal asing. Sebab selama ini, saya melihat pohon alpukat itu tingginya bisa mencapai di atas 5 meter.

“Iya, jadi pohon-pohon alpukat ini kita pangkas saat mulai masih belum berbuah,” jelas Pak Ipul.

Oh, saya jadi tahu, pantas saja pohon-pohonnya terlihat sama semua. Uniknya lagi, dari sekian ribu pohon alpukat itu, hampir semuanya sudah berbuah. Jenis alpukatnya pun bermacam. Tapi yang paling banyak adalah jenis Hass Australia.

Saya pun terheran-heran melihat alpukat jenis Hass ini. Bentuknya lonjong, kecil dan kulitnya bergerendel. Walau kecil, tapi jangan tanya harganya.

“Sebuah, alpukat Hass Australia ini harganya 50 ribu,” kata Pak Ipul, yang membuat kami berdecak kagum.

Bisa dibayangkan, jika satu pohon di tahun ketiga atau keempat misalnya bisa berbuah 100 biji saja, sudah terlihat nominalnya; 100 x 50 rb,- maka dapatnya 5 juta rupiah sekali panen.

Lalu, bagaimana jika dari tiga ribu pohon alpukat yang ada, dikali 100 buah per pohon dan dikali 50 ribu? Maka Anda bisa hitung sendiri hasilnya. Luar biasa.

Alpukat Hass Australia itu bukan hanya punya harga bergengsi, tapi juga sangat bagus untuk diet dan kesehatan lainnya.

“Jadi yang benar, makan alpukat itu bukan dijuz dan campur susu. Bisa gemuk nanti,” katanya menjelaskan.

Di akhir pertemuan itu, Pak Ipul menyampaikan sudah waktunya setiap pesantren memberdayakan tanah-tanah wakafnya untuk ditanami alpukat.

“Selain menjanjian kesejahteraan baik itu untuk para pengajar di pesantren, juga bisa membantu membiayai operasional pesantren,” jelasnya.

Berminat budidaya alpukat? Jika Anda dan pesantren Anda berminat budidaya alpukat, silahkan berkunjung ke Markaz Syariah Habib Rizieq Shihab dan membeli bibitnya di sana.(A/RS3/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)