Konjen RI Jeddah: Kemandirian Jamaah Haji Sangat Penting

Jakarta, MINA –  Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, Eko Hartono mengemukakan catatan dari pelaksanaan ibadah haji 1442 H, di masa pandemi,  dalam Webinar MINA Talks, yang digelar Kantor Berita MINA Rabu malam (28/7).

Ibadah Haji 1442 H  digelar terbatas sebanyak 60.000 jemaah dikhususkan bagi warga Saudi dan ekspatriat yang menetap di sana. 

Konjen.  menayangkan video saat mengikuti ibadah haji 1442 H  dalam webinar ini, untuk membandingkan situasi haji ketika normal dan masa pandemi yang sangat berbeda.

Ia mencatat, setidaknya ada tiga catatan penting yang menjadi perhatian khusus dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

“Waktu haji jauh lebih singkat, hanya 6 hari yaitu dari tanggal 18-23 Juli. Sebagian besar peserta berangkat tanggal 8 Dzulhijjah, dan hanya sebagian kecil yang berangkat dari tanggal 7 Dzulhijjah. Jadi memang singkat 6 hari saja,” kata Eko.

Catatan kedua, katanya, kemandirian jamaah sangat penting, mengingat tidak diizinkannya jamaah berkerumun. Ibadah haji tahun ini dibagi dalam beberapa kelompok, dan terdapat grup leader serta fasilitator.

Menurutnya, fungsi grup leader sangat minim, “Kemandirian jamaah sangat penting. Saya tidak bisa bayangkan jika pola seperti ini ditetapkan pada masa haji ketika keadaan sudah normal,” katanya.

“Bagaimana pelaksanaanya? Jadi kita berangkat ada beberapa poin, ada tantangan ini, seperti nama pengenal, bagasi kita masukkan sendiri ke truk yang akan mengangkut. Kita harus lebih mandiri, dan ternyata petugas itu semuanya warga Saudi. Kecuali beberapa tenaga kasar,” kata Eko.

Ia menambahkan, pengaturan transportasi yang masih belum baik. “Kita jadi kayak zaman dulu, pada rebut-rebutan. Betapa semerautnya pengaturan bus, jamaah sudah datang, bus belum datang, maka terjadi rebutan kalau bus sudah datang, dan hal ini tidak aman,” ujarnya.

Selain itu menu makanan adalah full Arab, dan itu kata Konjen, adalah makanan yang sudah disiapkan 6 bulan sebelumnya. Banyak yang komplain tentang ini, bahkan pihak Makkah juga komplain pihak perusahaan yang menyediakan makanan pada haji tahun ini.

“Saudi secara umum sudah cukup baik tapi tidak terlalu baik, mereka lebih bagus dalam hal pengamanan. Tapi sayangnya dalam hal pelayanan masih kurang,” pungkas Eko.

Webinar ini juga menampilkan dua pemateri lainnya, yakni pengamat masalah haji Ade Marfuddin dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Imaam Yaksyallah Mansur dari  SQABM, Muhajirun. (L/R6/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)