Konjen RI di Jeddah : Ibadah Haji 2021 Lebih Ketat di Sisi Pengamanan tapi Minus Pelayanan

Pelaksanaan haji tahun ini adalah tahun kedua yang dilaksanakan secara sangat terbatas di tengah pandemi Ccovid-19 yang kian mengganas. Pemerintah Arab Saudi memberlakukan protokol kesehatan yang ketat agar pelaksanaan ibadah haji dapat aman dan khidmat.

Sekitar 60 ribu jamaah yang diperbolehkan untuk mengikuti Haji tahun 2021 ini, diseleksi dari sekitar 558 ribu yang mendaftar secara daring. pendaftaran yang sangat terbatas itu dikhususkan bagi jamaah yang telah melakukan vaksinasi dan memliki usia antara 18-65 tahun dan tanpa memiliki riwayat penyakit berat.

Selain itu  yang boleh mendaftar hanya sebatas dari dalam Saudi saja, pemukim dan ekspatriat, selain warga Saudi setidaknya ada jamaah dari 150 negara termasuk Warga Negara Indonesia sebanyak 327 jamaah.

Kantor Berita MINA dalam program MINA Talks bertajuk “Catatan Ibadah Haji 144H” pada abu (28/7), mengundang Bapak Konjen RI di Jeddah Eko Hartanto untuk dapat memberikan penjelasan dan berbagi pengalaman terkait pelaksanaan Haji 2021 di tengan pandemi Covid-19.

Pemateri lainnya adalah Imaam Yakshyallah Mansur (dosen SQABM) dan Ade Marfuddin (pengamat haji dari UIN Syarif Hidayatullah).

Berikut kutipan wawancara dengan Konjen RI Jeddah:

MINA: Bisa Bapak ceritakan bagaimana awal dari pelaksanaan haji tahun ini ?

Pada tahapan persiapan, pengumuman Haji yang diumumkan Saudi memutuskan bahwa pelaksanaan akan dilakukan secara domestik bagi warga dan ekspariat sebanyak 60 ribu jamaah, dengan beberapa syarat wajib antaranya sudah divaksin dengan vaksin yang disetujui saudi, Asrazeneca, Pfzier, J&J, Moderna. Jamaah harus berusia antara 18-65 tahun serta terbukti tidak pernah berhaji dalam waktu 5 tahun terakhir.

Setelahnya Arab Saudi menetapkan tanggal pelaksanaan Haji yakni dari 18-23 Juli. Adapun pendaftaran haji hanya dilakukan secara online yang disediakan oleh Pemerintah Saudi selama satu pekan saja sejak 13-23 Juni.

Jamaah yang mendaftar akan mendapatkan informasi diterima atau tidak pendaftarannya melalui aplikasi tersebut, berikut jika mereka diterima tahap selanjutnya adalah pembayaran Haji sesuai paket Haji yang dipilih.

MINA : Bagaimana teknis bimbingan ibadah haji di masa pandemi?

Manasik haji biasanya diberikan oleh Pemerintah Saudi, tapi untuk kali ini jamaah dipersilahkan mencari info sendiri. Maka itu kami dari KJRI yang berjumlah 25 orang melakukan manasik sendiri.

Jamaah haji dibagi dalam kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 20 orang, dipandu tim leader dan fasilitator akan tetapi koordinasi tim dengan jamaah melalui chat online. Jadi jamaah melakukan self service, dituntut untuk dapat mandiri.

Petugas haji hampir seluruhnya adalah warga negara Saudi kecuali beberapa tenaga kasar seperti tenaga kebersihan, supir, konsumsi dll.

MINA: Apa catatan Bapak terhadap pelaksanaan haji tahun ini ?

Pertama, Haji tahun ini di tengah wabah menjadikan pelaksanaan Haji menjadi sangat singkat, hanya sekitar 6 hari dapat diselesaikan. Dari jumlah 60 ribuan jamaah haji, 40 ribu diantaranya datang pada 18 Juli/8 Dzulhijah, sebagian kecil pada 17 Dzulhijah.

Kedua, fungsi keberadaan tim leader sangat minim. Ini yang menuntut jamaah harus mandiri. Ini tentu sangat penting. Saya tidak membayangkan jika pola seperti ini diterapkan di masa yang akan datang mengingat jamaah sudah banyak yang sepuh juga gaptek soal teknologi.

Juga yang menjadi kritikan adalah transportasi jamaah yang tidak tertib. Karena diterapkan protokol tapi justru jamaah harus menunggu seperti zaman dahulu dan di saat bus datang semua uyuk-uyukan masuk. Jamaah bertumpuk tapi bus belum datang, cukup semerawut.

Di sisi konsumsi, sangat disayangkan semua menu makanan full arab dan itu makanan siap saji yang telah dibuat berbulan-bulan yang lalu. Pemerintah Mekkah telah menegur perusahaan yang memasok makanan. ada sekitar 9.000 paket makanan disita karena tidak layak konsumsi.

Pemerintah Saudi terlalu fokus pada pengamanan tapi minus pada sisi pelayanan karena selama ini Saudi terlalu menggantungkan pelaksanaan haji ini kepada negara-negara pengirim jamaah yang mana mereka berperan penting dalam pelaksanaan ibadah haji.

MINA: Bagaimana penyelenggaraan umroh paska haji?

Sesuai ketentuan Pemerintah Saudi, WNI belum boleh masuk secara langsung ke Saudi, harus singgah ke negara ketiga dan harus sudah vaksin sesuai ketentuan vaksin Saudi, WNI yang menggunakan vaksin sinovac diharuskan menambah dosis vaksin jika ingin masuk Saudi. Selain umroh ini akan lebih lama waktunya juga tentunya akan lebih mahal biayanya. Jamaah umrah Indonesia harus siap dengan ketentuan terbaru ini yang ditetapkan Saudi.

Jadi saya menyimpulkan, umroh di masa sekarang ini cukup berat. Alangkah baiknya kita dan para calon jamaah umroh bisa menunggu sampai situasi sulit ini berakhir.(W/A1/R1/P2/P1)

Miraj News Agency (MINA)