Cinta Tanah Air Bagian dari Iman?

Mohammed bin Fenkhour Al Abdali*

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, dan sholawat serta salam atas Nabi yang beriman dan sesudahnya

Ada banyak pembicaraan tentang tanah air dan tentang boleh tidaknya mencintainya. Sebagian orang terlalu berlebihan dalam mencintai tanah air sampai pada titik kemusyrikan dan fanatisme. Sebagian yang lain meremehkannya dan melihatnya sebagai bentuk keterbelakangan dan kemunduran. Bahkan di antara mereka ada yang sampai pada tahap mentolerir tindakan terorisme sebagai ganti dari patriotisme. Hingga kita pun berada di antara dua pihak yang berlebihan dalam cinta tanah air dan pihak yang berlebihan dalam menolak cinta tanah air.

Tentu saja dua sikap tersebut salah. Kita harus bersikap adil. Penilaian terbaik antara kita dan mereka adalah syariat Allah. Kepada Allah lah kita memohon pertolongan dan hanya kepadaNya kita bertawakkal.

Ketahuilah saudaraku –semoga Allah menjagamu-, bahwa orang tanpa tanah air adalah entitas tanpa jiwa. Orang tanpa tanah air adalah tubuh tanpa perasaan. Orang yang kehilangan tanah air berarti kehilangan keamanan dan stabilitas. Dan orang yang kehilangan keamanan dan stabilitas berarti ia kehilangan ketenangan. Sedangkan tanah air tanpa keamanan dan stabilitas ibarat hutan di mana yang kuat hidup dan yang lemah dihinakan.

Kita bersyukur kepada Allah atas keamanan yang kita rasakan di negeri yang kita tinggali. Semoga Allah senantiasa menjaga keamanan dan stabilitasnya.

Jadi di manakah para teroris atas berkah keamanan yang sekarang mereka merasakan kehilangannya?

Banyak orang menyebarluaskan apa yang diyakini sebagian orang sebagai sebuah hadits, yaitu “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Beberapa dari mereka telah menerbitkan artikel tentang itu di surat kabar atau majalah, atau di salah satu forum online. Padahal ungkapan tersebut bukanlah hadits shahih. Bahkan itu adalah hadits palsu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Mengomentari hadits di atas, seorang pakar hadits modern Syeikh al Albani rahimahullah berkata, “ (Itu adalah hadits) palsu. Secara makna, hadits itu tidak tepat. Sebab cinta tanah air seperti cinta diri sendiri,  uang dan sejenisnya. Rasa cinta merupakan naluri yang Allah tanamkan pada setiap insan. Tidak dipuji karena kecintaan padanya dan tidak pula menjadi konsekuensi wajib dari keimanan. Tidakkah kau lihat semua orang sepakat dalam hal itu. Tidak ada bedanya, dalam hal itu , antara orang yang mengimaninya dengan yang mengkufurinya.”

Syekh Shalih Ibn Utsaimin, rahimahullah, berkata: “Demikian juga ungkapan “mencintai tanah air adalah bagian dari iman”, yang terkenal di kalangan orang-orang sebagai hadits shahih. (Padahal) itu adalah hadits dusta yang dibuat-buat. Bahkan secara makna juga tidak benar. Sebab mencintai tanah air adalah sebagian bentuk fanatisme.”

Sebagian ulama menyebut ada tiga pendapat terkait ungkapan  “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.” Berikut ini ringkasannya.

Pertama: makna ungkapan di atas benar. Salah seorang dari mereka mengatakan: “Saya mendengar seorang Badui mengatakan: “Bila engkau ingin mengenali seseorang, maka lihatlah kerinduannya pada negerinya, kerinduannya pada saudara-saudaranya dan tangisnya karena waktu yang telah berlalu.”

Dan dikatakan bahwa ada tiga karakteristik dari tiga jenis : Pertama, unta yang mendambakan tanah airnya, meskipun masanya jauh dari tanah air. Kedua, burung yang merindukan sarangnya, meski berada di tempat yang tandus. Dan ketiga, manusia yang cinta tanah airnya, meski tanah air lain selain tanah airnya lebih bermanfaat.

Ketika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam merindukan Makkah yang merupakan tempat kelahiran dan asalnya, Allah Ta’ala berfirman:

{ إِنَّ ٱلَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لَرَآدُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ }

“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS al Qashash: 85).

Dan yang dimaksud tempat kembali pada ayat di atas adalah Makkah.

Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Ushail Al-Ghafari datang kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dari Mekah sebelum adanya syariat hijab. Lalu Aisyah radliallahu’anha berkata kepadanya bagaimana caranya Engkau meninggalkan Makkah. Dia berkata: “Sisi-sisinya menjadi hijau, permukaannya menjadi putih, tunggulnya kusam, dan tangganya melebar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Cukuplah bagimu wahai Ushail, jangan bersedih hati.” Dan dalam sebuah riwayat (beliau berkata): “Dan dengan itu, hai Ushail, kau membiarkan hati menjadi tenang.”

Kedua: pendapat yang berpandangan bahwa apa yang diklaim oleh pemilik pendapat pertama tentang validitas makna hadits itu adalah sebuah keanehan. Sebab tidak ada kesesuaian antara cinta tanah air dan iman. Dan itu dibantah oleh firman Allah Ta’ala:

{ وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم }

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka…” (QS An Nisa: 66)

Ayat di atas  menunjukkan kecintaan mereka (orang-orang munafik) terhadap tanah air yang disertai dengan kemunafikan di hati mereka. Kata ganti “mereka” pada ayat tersebut adalah untuk orang-orang munafik.

Mengomentari ungkapan ‘cinta tanah air adalah sebagian dari iman’, Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Dan artinya tidak tepat, karena cinta tanah air seperti cinta diri sendiri, uang dan lain-lain.”

Ketiga: Kelompok lain mencoba untuk mengkompromikan keduanya dan berkata, “Bukan rahasia lagi bahwa arti hadits di atas adalah: cinta tanah air adalah tanda keimanan. Dan itu hanya terwujud jika cinta itu khusus untuk orang yang beriman.”

Mereka mengatakan, “Jika maknanya benar, maka makna yang dimaksud dengan الوطن dialihkan kepada makna surga. Itulah tempat tinggal pertama bapak kita Nabi Adam ‘alaihissalam. Atau yang dimaksud adalah Makkah. Sebab Makkah merupakan Ummul Qura dan kiblat dunia. Atau yang dimaksud  الوطن adalah negara yang dikenal saat ini, namun disyaratkan pada kecintaan negara itu wasilah untuk kecintaan terhadap silaturahim atau berbuat baik kepada penduduk miskin di negeri itu.

Kesimpulannya:

1- Keakraban hubungan dengan negeri pertama dan kerinduan padanya adalah fitrah yang ditanamkan dalam hati manusia. Seperti diungkapan seorang penyair:

وكم من منزل في الأرض يألفه ،،،،،، الفتى وحنينه أبداً لأول منزل

Dan berapa banyak rumah di bumi yang dibangun,,,,,, anak laki-laki itu dan kerinduannya selalu tertuju pada rumah pertamanya

2- Kecintaan terhadap tanah air tidak dapat dijadikan ukuran keimanan. Sebab hal itu merupakan hal yang lumrah bagi semua orang, baik yang beriman ataupun yang tidak beriman, bahkan binatang.

3- Memaksa orang cinta tanah air justru dapat mengeluarkan dia dari fitrahnya. Dan menyimpang dari fitrah merupakan kekufuran, bukan keimanan. Sebab cinta dan benci ia bangun atas nama tanah air. Inilah yang digembar-gemborkan para pengusung cinta tanah air, bukan rindu tanah air. Sungguh benar ungkapan seorang penyair Lebanon, Fuad al Khatib , “Dan aku telah membebaskanmu dari setiap nasionalisme timpang. (Nasionalisme) yang terbatasi tanah kelahiran.”

4- Sikap berlebihan terhadap tanah air telah sampai pada tahap seperti menghamba kepada berhala. Menjadikan tanah air sebagai berhala yang disembah seperti Tuhan.

5- Setan menggambarkan kepada beberapa dari mereka bahwa tanah air lebih baik dari Surga ‘Adn. Seperti perkataan sekelompok orang:

Berikan Yaman surga yang abadi. Tidak ada yang lebih setara dari negeri.

Tanah airku, sekiranya (surga) yang abadi itu menyibukkanku darimu maka diriku kan selalu merindukanmu dalam keabadianku (di surga)

Kita berada di zaman yang diisi dengan nasionalisme. Nasionalisme yang tidak memandang umat Islam secara komprehensif. Nasionalisme partisan yang ingin memecah-belah umat Islam menjadi bangsa-bangsa. Sehingga mulai terdengar istilah yang memisahkan antara bangsa Arab dan umat Islam. Kemudian masing-masing bangsa itu terpecah-pecah. Bangsa Arab terpecah menjadi bangsa-bangsa menurut jumlah negaranya. Persoalannya tidak hanya berhenti pada batas itu. Persoalnnya makin pelik saat fanatisme antar golongan muncul dan meluas dalam satu negara.

Itulah bentuk nasionalisme yang merusak dan melalaikan. Nasionalisme yang dibangun atas dasar fanatisme kepartaian, kesukuan, ideologi. Nasinonalisme yang dibangun di atas pemikiran dan pandangan yang destruktif.

Yang kita inginkan adalah nasionalisme yang dibangun atas ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepadaNya. Seperti nasionalisme generasi salaf yang dibangun atas kecintaan karena Allah Ta’ala, kecintaan terhadap agama mereka dan negeri mereka yang Islami. Kita menginginkan nasionalisme itu ada pada negeri muslim kita tetap langgeng selama langit dan bumi ini ada. (T/RA/P2)

*Dosen Scientific Institute Qurayyat Arab Saudi

Mi’raj News Agency (MINA)