CINTA kepada Al-Aqsa tidak harus menunggu langkah kaki sampai ke Palestina. Ia bisa tumbuh sejak di rumah, dari ruang keluarga yang sederhana, dari doa-doa kecil yang terucap lirih, dan dari cerita-cerita yang menghidupkan makna.
Semuanya bisa bermula dari anak-anak di rumah. Hati mereka masih bening, imajinasi mereka sungguh luas, dan cinta mudah bersemi bila ditanamkan dengan benar.
Maka perkenalkan Al-Aqsa kepada mereka bukan sebagai isu yang jauh dan rumit, tetapi sebagai bagian dari iman dan sejarah keluarga besar umat Islam.
Ceritakan kepada anak-anak bahwa Al-Aqsa adalah masjid para nabi. Di sanalah para rasul pernah bersujud, dan di sanalah Rasulullah ﷺ memimpin shalat para nabi pada malam Isra Mi’raj.
Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI
Katakan pada anak-anak bahwa Al-Aqsa adalah tempat suci yang didoakan Allah sebagai tanah yang diberkahi (Ardhul Mubarakah). Dengan bahasa yang lembut, biarkan mereka mengenal Al-Aqsha sebagai tempat yang dicintai langit, tanah yang disucikan (Ardhul Muqaddasah).
Biasakan nama Al-Aqsha hadir dalam rutinitas rumah. Dalam doa bersama setelah shalat, dalam kisah sebelum tidur, dalam gambar yang ditempel di dinding, atau dalam buku bacaan anak.
Biarkan telinga mereka akrab, dan hati mereka terikat. Apa yang sering disebut, akan sering dirindukan.
Ajarkan bahwa mencintai Al-Aqsa berarti peduli. Peduli pada kebenaran, peduli pada keadilan, dan peduli pada penderitaan sesama. Anak-anak bisa belajar dengan cara sederhana: berbagi, mendoakan, dan tidak membenci. Dari rumah, mereka belajar bahwa cinta Al-Aqsa bukan kemarahan, tetapi kesetiaan dan keteguhan.
Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban
Sementara, kita para orang tua adalah teladan pertama. Ketika anak melihat orang tuanya menyebut Al-Aqsa dengan penuh hormat, meneteskan doa untuknya, dan menjaga adab dalam membicarakannya. Maka pesan itu akan tertanam kuat. Cinta yang diteladankan jauh lebih kuat daripada cinta yang hanya diajarkan.
Begitulah, dari rumah yang sederhana sekalipun, dapat terlahir generasi pembela Al-Aqsa.
Mungkin mereka belum sampai ke sana hari ini, tetapi hati mereka sudah terikat. Dan hati yang terikat pada Al-Aqsa, suatu hari akan melahirkan sikap, pilihan hidup, dan perjuangan yang setia.
Karena itu, cintai Al-Aqsa bermula dari rumah. Tanamkan sejak kecil pada anak-anak. Karena pembebasan sejati selalu dimulai dari hati yang mencintai. Allahu Akbar! Al-Aqsha Haqquna!! []
Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic