Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengembalikan Jiwa yang Hilang dalam Pola Interaksi Keluarga Era Digital

Bahron Ansori Editor : Rudi Hendrik - 8 jam yang lalu

8 jam yang lalu

14 Views ㅤ

(Foto: AI Gemini Google)

PERNAHKAH Anda duduk di ruang tamu bersama orang tua atau saudara, dalam satu ruangan yang sama, tetapi terasa bagaikan terpisah oleh samudra yang luas? Fisik kita beriringan, namun jiwa kita mengembara jauh menembus batas layar ponsel pintar. Fenomena inilah wajah kontemporer dari keluarga kita hari ini.

Di era digital, ruang keluarga yang dulunya riuh oleh tawa, canda, dan tatapan mata yang penuh cinta, perlahan bergeser menjadi keheningan yang janggal—di mana suara ketikan tombol keyboard dan cahaya biru layar gawai menjadi penguasa baru rumah kita.

Ketika Dekat Menjadi Jauh

Secara sosiologis dan psikologis, penetrasi teknologi telah mengubah lanskap komunikasi domestik secara radikal. Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Socio Politica (2023) mengenai dinamika interaksi keluarga di era digital, ditemukan bahwa ketergantungan masif pada perangkat digital memicu fenomena “alone together”—bersama secara fisik, namun sendiri-sendiri secara psikologis.

Baca Juga: Wamen Komdigi Dorong Perguruan Tinggi Ambil Peran dalam Pengembangan Ekosistem AI

Penelitian tersebut menegaskan bahwa kehadiran gawai tanpa batasan yang bijak menyebabkan penurunan drastis pada kualitas interaksi tatap muka, memicu sikap individualisme di ruang keluarga, serta merenggangkan kedekatan emosional antara orang tua dan anak.

Percakapan yang dulunya mendalam dan hangat, kini terfragmentasi oleh notifikasi yang berderap tiada henti. Akibatnya, rumah kehilangan fungsinya yang paling hakiki: sebagai suaka batin dan tempat bersandar yang paling aman.

Teladan Komunikasi Ilahiah dalam Al-Qur’an

Islam sebagai agama yang sempurna jauh-jauh hari telah meletakkan fondasi komunikasi interpesonal yang kokoh di dalam bangunan keluarga. Hubungan keluarga bukanlah sekadar relasi biologis, melainkan ikatan spiritual (mitsaqan ghalizha) yang menuntut interaksi penuh kelembutan dan kesadaran.

Baca Juga: STAI Al-Fatah Bogor Tutup KKN di Balaraja dengan Malam Keakraban

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 18–19, yang merekam bagaimana nasihat agung disampaikan dalam balutan interaksi penuh kedekatan jiwa:

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh… Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (QS. Luqman: 19)

Ayat ini, menurut kajian Quranic Parenting, mengajarkan esensi presence—kehadiran seutuhnya. Memalingkan muka atau mengabaikan lawan bicara demi menatap layar gawai adalah antitesis dari akhlak komunikasi Qur’ani.

Lebih lanjut, teladan agung terpancar dari kisah interaksi Nabi Ya’qub dan putranya, Nabi Yusuf AS, yang diabadikan dalam Surah Yusuf ayat 4–6. Betapa Nabi Ya’qub mendengarkan curahan hati putranya dengan penuh empati, perhatian total, dan kasih sayang yang tulus.

Baca Juga: Menavigasi Era Digital: Menjaga Fitrah Anak Melalui Cahaya Wahyu

Komunikasi empatik semacam inilah yang hari ini mulai terkikis, digantikan oleh ruang-ruang digital tempat anak-anak mencari validasi semu karena merasa diabaikan di rumah sendiri.

Para ulama sepakat bahwa keluarga adalah madrasah pertama (al-madrasah al-ula). Imam Al-Ghazali dalam risalah pendidikannya selalu menekankan bahwa hati anak ibarat mutiara yang bersih; jika orang tua lalai merawat interaksi dan komunikasi langsung dengan penuh keteladanan, maka ruang kosong tersebut akan diisi oleh pengaruh luar yang destruktif.

Membumikan Kembali Kehangatan Keluarga

Kita tidak mungkin memusuhi kemajuan zaman, sebab teknologi adalah keniscayaan. Namun, kita mutlak harus menjadi nakhoda yang cerdas agar perahu keluarga tidak karam di lautan digital. Berikut adalah langkah taktis dan kiat brilian untuk merebut kembali kehangatan interaksi keluarga.

Baca Juga: Program Madrasah Layak Belajar BAZNAS Sasar 700 MIS dan MTsS

Pertama, Terapkan Zona dan Waktu Suci Bebas Gadget (Digital-Free Zones & Time). Sepakati bersama seluruh anggota keluarga bahwa meja makan dan ruang shalat/keluarga selepas maghrib adalah zona steril dari gawai. Letakkan keranjang penyimpanan ponsel di dekat pintu masuk rumah saat jam istirahat malam tiba. Jadikan momen makan bersama kembali hidup dengan obrolan ringan yang menyejukkan hati.

Kedua, Budayakan Seni Mendengar Aktif (Active Listening) Saat anggota keluarga (terutama anak atau orang tua) sedang berbicara, praktikkan teladan Rasulullah SAW yang selalu menghadap sepenuhnya (wajah dan raga) kepada lawan bicaranya. Matikan layar ponsel, tatap matanya, dan validasi perasaannya sebelum memberikan tanggapan.

Ketiga, Ciptakan Ritual Kebersamaan KreatifJangan biarkan waktu luang di rumah dihabiskan di kamar masing-masing dengan gawai di tangan. Rancang kegiatan interaktif seperti membaca buku bersama, berolahraga ringan di akhir pekan, atau berdiskusi santai mengevaluasi hari sambil menikmati teh hangat.

Keempat, Keteladanan Dimulai dari Orang Tua Anak adalah peniru ulung. Orang tua tidak bisa menuntut anak untuk lepas dari ponsel jika di waktu yang sama mata ayah dan ibu terpaku pada layar media sosial. Mulailah disiplin digital dari diri sendiri.

Baca Juga: Ketika Pintar dan Gelar Tak Menjamin Kebijaksanaan

Menghidupkan Kembali Surga di Dunia

Rumah seharusnya menjadi tempat pertama di mana kita merasa paling dipahami, paling dicintai, dan paling aman. Jangan biarkan layar bercahaya merampas detik-detik berharga kebersamaan yang tidak akan pernah bisa diulang kembali.

Mari kita letakkan ponsel kita sejenak, tatap mata orang-orang terkasih di sekeliling kita, tebarkan senyum tulus, dan hadirkan jiwa serta raga secara utuh. Sebab, kebahagiaan sejati sebuah keluarga bukanlah diukur dari seberapa canggih gawai di tangan kita, melainkan dari seberapa dekat jarak antara hati ke hati di dalam rumah kita.

Bagaimana cara paling menantang yang pernah Anda rasakan dalam mengurangi penggunaan gawai di tengah keluarga Anda?[]

Baca Juga: Peneliti UIN Ar-Raniry Ungkap Transformasi Otoritas Keagamaan di Era Digital

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Baca Juga: Indonesia dan Mesir Perluas Kerja Sama Pendidikan, Beasiswa Hingga Riset

Rekomendasi untuk Anda