Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak Boikot Israel, Ekspor Pertanian Zionis Terancam “Gulung Tikar”

Hasanatun Aliyah Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 22 Januari 2026 - 07:30 WIB

Kamis, 22 Januari 2026 - 07:30 WIB

24 Views

Tel Aviv, MINA – Industri ekspor pertanian Israel yang pernah sangat menguntungkan kini menghadapi krisis eksistensial, dengan para petani memperingatkan kehancuran yang mengancam seiring meningkatnya isolasi Israel di pasar global.

Penurunan tajam ini terjadi sebagai dampak dari penolakan internasional yang semakin kuat terhadap serangan genosida Israel di Gaza dan digambarkan media Zionis sebagai bagian dari aliansi yang diboikot.

Laporan terbaru dari penyiar publik Israel Kan 11 yang dikutip, Kamis (22/1) mengungkapkan, eksportir Israel, terutama produsen jeruk dan mangga menghadapi pukulan paling berat, dengan pesanan dari Eropa dan Asia yang mengering.

Penurunan ekspor dikatakan begitu parah hingga petani kini takut akan kehancuran total sektor yang sejak lama digambarkan sebagai bagian sentral dari citra dan ekonomi nasional Israel.

Baca Juga: Israel Culik 28 Warga Palestina di Tepi Barat, Termasuk Jurnalis Al Jazeera

“Kami sebenarnya beroperasi dengan kerugian sejak perang [di Gaza],” kata Nitzan Weisberg, manajer kebun di Givat Haim Ichud, dalam siaran televisi. Dia memperingatkan bahwa seluruh sektor jeruk mungkin segera dicabut akibat penurunan drastis permintaan luar negeri.

Di Ein Hahoresh dan Hibat Zion, yang sebelumnya merupakan eksportir utama jeruk Israel, petani kini menyimpan hasil panen mereka untuk konsumsi lokal atau pasar jus berprofit rendah.

“Sebelum perang, kami mengekspor ke Skandinavia. Tetapi setelah perang, kami bahkan belum mengekspor satu kontainer pun,” jelas Daniel Klusky, sekretaris jenderal Organisasi Petani Jeruk Israel.

Para petani menyalahkan berbagai faktor, termasuk gangguan logistik akibat blokade Houthi Yaman di Laut Merah, namun sebagian besar mengakui bahwa penolakan atas genosida Israel di Gaza adalah penyebab utama.

Baca Juga: Sedikitnya 234 Pemukim Israel Serbu Halaman Masjid Al-Aqsa

“Mereka tidak mau membeli mangga kami,” akui petani mangga dan pensiunan jenderal Moti Almoz.

“Di Eropa, mereka hanya berbicara dengan kami jika mereka kehilangan sesuatu… Jika mereka punya alternatif, mereka menghindari membeli dari kami,” tambahnya.

Konsekuensinya jelas. Produsen mangga di utara menyaksikan hingga 700 dari 1.200 ton buah membusuk di pohon.

“Ini krisis yang belum pernah kami alami sebelumnya,” kata Dodi Matalon, yang kini mengandalkan penjualan langsung lokal untuk bertahan hidup.[]

Baca Juga: Empat Warga Palestina Syahid dalam Pelanggaran Terbaru Israel di Gaza

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda