Dapatkah Kita Menjadi Wali Allah?

oleh: Widi Kusnadi, wartawan MINA.

Jika kita mendengar kata wali Allah, mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah orang yang memiliki kedigdayaan, kesaktian, keistimewaan dan keunggulan yang tidak dimiliki manusia awam (pada umumnya). Kita masih ingat waktu kecil menonton film Wali Songo yang memiliki keistimewaan dapat mengalahkan musuh atau bisa mengatasi masalah yang pelik dan rumit dengan berdoa memohon pertolongan kepada Allah.

Allah memberi keistimewaan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk memiliki sifat-sifat lebih dari manusia pada umumnya. Hal itu karena sifat Rahman Allah kepada hamba-Nya sebagai nikmat atas ibadah dan kedekatan antara dirinya dengan Sang Pencipta yang maksimal sehingga Dia memilihnya menjadi kekasihNya.

Setiap nabi dan rasul memiliki sifat-sifat istimewa yang Allah wahyukan. Setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam ke dunia, tidak ada nabi dan rasul lagi setelah itu, tetapi Allah tetap memberikan sifat-sifat kewalian ini kepada manusia. Kalau para nabi dan rasul bersifat makshum (terjaga dari maksiat), maka para wali Allah bersifat mahfuzh (selalu dalam bimbingan Allah).

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah wali Allah itu ada di tengah-tengah kita saat ini? Dan apakah bisa kita menjadi salah satu dari banyak wali Allah di dunia ini?. Para pembaca yang budiman, bagi kita yang punya anak sudah dewasa, tentu pernah merasakan, jika belum menjadi wali Allah yang sesungguhnya, maka kita bisa latihan dulu, yaitu menjadi wali murid atau wali santri, atau yang memiliki putri, maka bisa berlatih saat (akan) menjadi wali nikah.

Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita pelajari dalil- dalil dan apa saja syarat-syarat serta keistimewaan menjadi Wali Allah agar kita memiliki motivasi tinggi untuk berusaha menjadi wali Allah. Jika pun belum berhasil, maka kita berdoa semoga ada diantara keluarga, anak, cucu dan keturunan kita yang menjadi wali Allah.

Baca Juga:  Menlu Arab dan Eropa Tuntut Gencatan Senjata di Gaza

Definisi Wali

Secara etimologi, Wali artinya dekat. Wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kewalian seseorang bertingkat-tingkat sesuai dengan amal shalihnya.  Hakikat kewalian adalah kedekatan, keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Lawan kata wali adalah ‘aduwwu (musuh). Allah berfirman dalam surah Yunus [10] ayat 62-64:

 

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64 (

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”.

Adapun sifat wali Allah sebagaiman digambarkan dalam sebuah hadits dari Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya”.

Syarat menjadi Wali Allah

Wali Allah tidak harus bisa melakukan hal-hal luar biasa. Kesaktian atau keistimewaan dalam berbuat sesuatu bukan syarat mutlak disebut wali.  Karena karamah yang paling tinggi adalah keistiqamahan. Keistimewaan tidak menjadikan barometer utama syarat kewalian seseorang.

Baca Juga:  Bahaya Hedonisme dan Solusinya Menurut Islam

Wali Allah tidak akan menganggap dirinya suci, sebesar apapun amal yang dikerjakan. Ia akan tetap rendah hati dan tidak terlena dengan pujian dan sanjungan seseorang kepadanya. Pun sebaliknya, ia tidak akan mundur dan kendor dengan cacian dan hinaan yang ditujukan kepadanya. Ia hanya fokus untuk beramal shaleh, tulus ikhlas hanya berharap ridha dan pahala dari Allah semata.

Wali Allah mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap aktifitasnya. Meski ia tidak melihat Allah secara langsung, dengan mata kepalanya, namun ia yakin setiap gerak geriknya, segala tindakannya, bahkan lintasan-lintasan pikirannya tidak luput dari pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Dalam istilah lain, sifat seperti ini disebut ihsan.

Dengan sifat ihsan tersebut, rasanya tidak ada tempat baginya berbuat maksiat, tidak ada waktu baginya melakukan perbuatan dosa, serta tidak ada kesempatan baginya untuk merbuat dzalim, curang, merugikan orang lain serta tiada ruang baginya kecuali semua itu selalu dalam pengawasan Allah.

Selanjutnya, tentang urusan rizki dan keduniaan, ia tidak merasa takut dan tidak juga khawatir karena itu semua sudah ditakdirkan Allah. Nabi Muhammad pernah menggambarkan dunia ini  ibarat bangkai seekor kambing kecil yang cacat.  Semakin engkau mendekatinya, semakin sesak nafasmu dibuat olehnya, apalagi ketika engkau mencicipinya maka engkau akan keluar dari kodrat kemanusianmu. Hal ini bukan berarti engkau harus melupakan kehidupan duniamu, melainkan hidupkan dunia tempat engkau berada dan jangan sekali-kali pusing memikirkan dunia.

Untuk bisa seperti itu, kuncinya adalah terus belajar dan memperkaya diri dengan ilmu. Dengan ilmu yang engkau miliki, banyak pekerjaan akan datang mencari, banyak jabatan yang akan ditawarkan, uang pun mengalir, semakin banyak wanita yang mengantri untuk dipinang, dengan sendirinya dunia itu akan datang menghamba kepadamu.

Keutamaan manusia dibanding makhluk lainnya terletak pada ilmu, bahkan para malaikat tak mampu membantah akan kelebihan ilmu yang dimiliki oleh Nabi Adam Alaihi salam. Sehingga Allah telah menjanjikan derajat yang tinggi dan mulia bagi orang-orang yang beriman dan berilmu.

Baca Juga:  Dinyatakan Zona Aman, Zionis Bombardir Kamp Pengungsi di Rafah

Syarat selanjutnya seorang wali adalah, ia selalu memikirkan dan mendahulukan orang lain ketika mendapatkan hak dan kenikmatan. Akan tetapi dalam urusan kewajiban, ia menjadi yang paling depan dan yang pertama melakukannya.

Sebuah kata bijak layak untuk bisa kita jadikan sebagai bahan renungan, pikirkanlah nasib orang lain, maka Allah pasti akan memikirkan nasibmu. Bantulah orang lain, pasti Allah akan membantu memudahkan dan menyelesaikan semua urusanmu.

Ustadz Abu Syauqi, pendiri lembaga Rumah Zakat menulis dalam sebuah sambutannya, bangsa ini sedang membutuhkan perhatian kita. Kemiskinan yang banyak kita saksikan biasanya dimulai karena kita lebih memikirkan diri sendiri. Padahal ketika kita berpikir untuk orang lain, mendahulukan orang lain, saya punya keyakinan bahwa masalah bangsa ini dapat teratasi. Bayangkan kalau di dalam pikiran kita, kita ingin menolong seribu orang, saya yakin anak dan istri kita ikut tertolong di dalamnya. Tetapi andaikata kita hanya memikirkan diri kita dan anak istri kita, pasti ada anak kita yang lolos tidak terbantu.

“Oleh sebab itu saya mengajak mulailah kita membantu memikirkan orang lain. Bantulah orang sebanyak-banyaknya. Saya sudah membuktikan dan merasakan keberkahan yang sangat luar biasa,” tegas Abu Syauqi.

Syarat selanjutnya adalah, wali Allah dalam hatinya tidak menyimpan dendam, dengki dan iri terhadap orang lain. Meskipun ia disakiti, didzalimi, diancam dibunuh sekalipun, ia tidak menyimpannya dalam hati sehingga hidupnya tenang, damai dan riang gembira.

Wali Allah sadar bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya pada hakikatnya adalah kehendak dan takdir Allah. Adapun jika ia tertimpa musibah, itu merupakan akibat dari dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Musibah itu juga merupakan sarana dari Allah untuk mengampuni dosa-doanya sehingga saat menghadap Allah nanti ia bersih dari dosa. (A/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Wartawan: Widi Kusnadi

Editor: Ismet Rauf