Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump Kalap, Amerika Kolaps

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Kamis, 9 April 2026 - 07:21 WIB

Kamis, 9 April 2026 - 07:21 WIB

56 Views ㅤ

Presiden AS Donald Trump (foto: X)

DUNIA saat ini menyaksikan dengan napas tertahan. Bukan karena kagum, melainkan karena ngeri.

Dalam 40 hari terakhir, Amerika Serikat, negeri adidaya yang selama tiga dekade menjadi polisi dunia, berubah menjadi aktor kacau yang berbahaya. Dipimpin Donald Trump yang kembali ke kursi kepresidenan, kebijakan luar negeri AS tidak lagi didasarkan pada strategi, tetapi pada emosi dan impuls narsistik seorang penguasa yang tidak stabil.

Kita baru saja melewati ambang batas paling kelam dalam geopolitik modern. Perang melawan Iran bukan hanya gagal secara militer, tetapi menjadi  terbang terlalu dekat dengan matahari, lalu sayapnya meleleh karena panas kebodohannya sendiri.

Gaya Koboi vs Realitas Medan

Baca Juga: Ketulusan Cinta Indonesia-Palestina, Makna Ciuman Kening Dubes Palestina kepada Imaam Yakhsyallah Mansur

Bak film koboi, omong-omong, tembak-tembak! Trump memulai konflik ini dengan gaya koboi khasnya. Satu hari ia mengancam akan “memusnahkan sebuah peradaban” yang ia nyatakan pada 6 April 2026. Keesokan harinya ia memperpanjang tenggat. Satu jam ia menuntut penyerahan tanpa syarat, detik berikutnya ia mengklaim kemenangan padahal perang masih berlangsung.

Dunia bisnis menyebutnya dengan akronim sinis TACO (Trump Always Chickens Out), yang dimaknai “Trump selalu mundur/ketakutan.”

TACO merupakan akronim sindiran yang lahir di kalangan analis politik, trader Wall Street, dan jurnalis geopolitik untuk menggambarkan pola perilaku Presiden AS Donald Trump dalam situasi krisis, khususnya saat konfrontasi militer dengan Iran.

Begitulah, faktanya, saat Iran tidak gentar menutup Selat Hormuz dan melumpuhkan 20% pasokan minyak global, Trump mundur.

Baca Juga: Polisi, Sekejam Itukah?

Setelah menghabiskan miliaran dolar untuk mengirim kapal induk, setelah kehilangan 13 tentara dan puluhan aset militer canggih (termasuk radar AN/FPS-132 senilai Rp 17 Triliun), Trump akhirnya setuju gencatan senjata yang difasilitasi Pakistan, bukan karena kebaikan hati, tapi karena ia tidak punya pilihan.

Kekacauan Internal

Belim lagi ada hal yang lebih parah dari kekalahan di luar negeri, yaitu pembusukan dari dalam, kekacauan internal.

Menteri Perang Pete Hegseth, yang loyalis berat trump, sedang melakukan pembersihan di tubuh militer AS, pada saat perang berlangsung.

Baca Juga: Memaknai Bulan Solidaritas Palestina: Ketika November Menjadi Pengingat Kemanusiaan

Jenderal bintang empat dipecat karena menolak mendiskriminasi perwira kulit hitam. Seorang jenderal, Kepala Intelijen Pertahanan juga dipecat karena melaporkan fakta bahwa serangan ke Iran tidak efektif.

Sementara itu, kru helikopter yang melanggar aturan justru dipuji karena terbang di atas rumah artis pendukung Trump.

Rantai komando profesional militer AS telah digantikan oleh rantai loyalitas. Ini bukan lagi militer profesional. Ini adalah private army milik seorang diktator yang paranoid, Trump.

Ketika seorang jenderal takut memberi saran jujur kepada komandan sipil karena takut dipecat, maka kekalahan adalah satu-satunya jalan.

Baca Juga: Akhiri Perang Saudara Yaman-Arab Saudi, Rakyat Hanya Jadi Korban

Isolasi Diplomatik

Trump suka menyombongkan “America First”. Namun kini, slogan itu berubah menjadi “America Alone”.

Tanda-tandanya sangat jelas. Pakta Pertahanan miliknya, NATO retak. Sekutu Eropa menolak bergabung dalam serangan ke Iran, bahkan menutup akses udara bagi pesawat AS. Trump pun mengancam akan keluar dari NATO. Tetapi ancaman itu tidak digubris oleh pengurus dan anggota NATO.

Negara-negara Arab yang biasanya menjadi kantung minyak AS kini memilih bungkam. Permintaan dana perang $2,5 Triliun (sekitar 42.512 trilun) diabaikan. Para peimpin negara Teluk semakin tahu, berinvestasi pada koboi yang kalap hanya akan membuat gurun mereka terbakar. Dan itu sudah dibuktikan dengan beberapa serangan Teheran ke beberapa pangkalan militer AS di negara-negara Teluk itu.

Baca Juga: Ketika Warga Eropa Berdemo, Apa Tuntutan Mereka?

Mediator seperti Mesir dan Oman pun diabaikan dengan arogan oleh Trump, hanya untuk kemudian menerima mediasi dari Pakistan ketika keadaan sudah terdesak.

Dunia sedang mencari pemimpin baru. China dan Rusia dengan senang hati mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh ketidakstabilan AS.

Impeachment Mengintai

Kini, 13 pasal impeachment (pemakzulan) mulai digulirkan di DPR AS. Partai Demokrat yakin akan merebut kembali DPR pada pemilu sela November 2026. Dan jika memenangkan kursi mayoritas di DPR, maka impeachment tinggal menunggu waktu. Tinggal Demokrat memanfaatkan momen demo rakyat AS untuk mencanangkan programnya yang diterima rakyat.

Baca Juga: Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa

Beberapa anggota dari Partai Republik-nya Trump, yang sudah merasa jengah dengan kebijakan Trump, tidak menutup kemungkinan akan berpindah suara.

Jika itu terjadi, Trump akan menjadi presiden pertama dalam sejarah yang di-impeach sebanyak tiga kali.

Untuk saat ini, peluang pemecatan (conviction) di Senat masih sulit karena Partai Republik masih melindunginya, proses impeachment itu sendiri akan melumpuhkan pemerintahan. AS akan memasuki masa jeda politik di tengah badai ekonomi dan perang yang belum usai.

Akankah AS Kolaps?

Baca Juga: Rekam Jejak pada Penjajah Israel: Ketika Panggung Borobudur dan Jakarta Dipertaruhkan demi Bocelli

Kolaps tidak selalu berarti bom atom meledak di Washington. Kolaps bisa berarti kehilangan pengaruh.

Selat Hormuz ditutup, harga minyak bisa menembus $120 per barel, inflasi global merangkak naik, dan dunia memandang AS-lah penyebabnya. Sekutu secara diam-diam merangkak akan mencari payung baru. Musuh pun semakin berani.

Apakah pemerintahan Amerika akan kolaps? Memang tidak besok, atau lusa. Tapi proses dekomposisi telah dimulai. Trump mungkin akan pergi pada 2029, tetapi luka yang ia torehkan pada kredibilitas, institusi militer, dan tatanan global akan membutuhkan waktu satu generasi untuk pemulihan.

Kita sedang menyaksikan akhir dari Pax Americana. Bukan karena kekuatan China atau Rusia, tetapi karena Amerika sendiri, dalam hal ini Trump, memilih untuk membakar rumahnya sendiri demi egonya sendiri, yang tidak mampu mengendalikan jarinya di media sosial.

Baca Juga: Muhammad adalah Nama Mulia

Jika Amerika mau eksis, maka hentikan perang dan serangan ke negara berdaulat manapun. Sebagai contoh negara demokrasi, saatnya tidak berlaku seperti kaisar, yang berlalku sewenang-wenang, seperti tuntutan jutaan rakyatnya yang menyatakan, “No Kings!”.

Kalau tidak, waktunya dunia mencari tatanan baru. Tanpa Amerika yang kalap dan akan kolaps. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Tiga Tahun Thufan Al-Aqsa: Gaza Bertahan, Perlawanan Berlanjut, Solidaritas Dunia Berpihak

Rekomendasi untuk Anda