SIAPA di antara kita yang tidak mendambakan rumah yang penuh berkah? Tempat di mana setiap sudutnya memancarkan ketenangan, di mana langkah kaki yang melintas selalu diiringi kebaikan, dan di mana doa-doa mudah dikabulkan tanpa terhalang dinding.
Ketika kita hendak mencari tempat tinggal baru, atau berniat membangun rumah dari nol, atau bahkan bersyukur atas tempat yang sudah kita huni bertahun-tahun, satu hal yang paling harus selalu kita panjatkan kepada-Nya Adalah, “Ya Allah, jadikanlah tempat tinggal ini sebagai tempat yang penuh berkah.”
Bukan sekadar megah secara fisik, bukan pula mewah dengan perabotan. Yang kita rindukan adalah keberkahan yang menyertai setiap penghuninya, keberkahan yang dirasakan tetangga di sekitar, dan keberkahan yang mengalir sepanjang waktu.
Ada satu doa yang diajarakan Allah kepada Nabi Nuh, ketika bahtera berlabuh di tanah asing.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabadikan di dalam Al-Qur’an:
رَبِّ اَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبٰرَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ
“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 29).
Ayat ini turun bukan dalam suasana biasa. Ia berkaitan erat dengan kisah agung Nabi Nuh ‘Alaihis Salam. Setelah berhari-hari mengarungi banjir besar yang melanda umatnya, bahtera yang sarat dengan orang-orang beriman akhirnya berlabuh di sebuah tempat yang asing bagi mereka. Bukan tanah kelahiran, bukan kampung halaman yang ditinggalkan. Tempat itu benar-benar baru, belum pernah mereka pijak sebelumnya.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Di tengah rasa kehilangan, kampung halaman yang hancur, banyak anggota keluarga yang tenggelam bersama ombak, Allah mengajarkan Nabi Nuh sebuah doa yang menjadi obat bagi hati yang gamang. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi sebuah pernyataan pasrah dan penerimaan bahwa tempat baru yang mereka diami pun adalah tempat yang diberkahi oleh Allah.
Bayangkanlah situasi itu. Mereka bukan pindah rumah biasa. Mereka berpindah peradaban. Dan di tengah ketidakpastian, Allah berfirman agar membaca doa ini, sehingga Allah akan memberkati tempat yang dihuni.
Para ulama menyebutkan bahwa doa ini memiliki keutamaan yang luar biasa. Ia adalah wahyu langsung dari Allah kepada Nabi Nuh Alaihis Salam, sebuah petunjuk Ilahi untuk dibaca tepat setelah mereka turun dari bahtera. Dan karena rahmat-Nya melampaui batas waktu, umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pun dianjurkan untuk mengamalkannya.
Imam Mujahid, sebagaimana dikutip dalam Maqashid al-Quran, menjelaskan bahwa doa ini diajarkan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk dibaca ketika naik kendaraan dan ketika sampai di tujuan. Dengan membacanya, kita memohon kepada Allah agar perjalanan kita selamat, tempat yang kita singgahi diberkahi, dan setiap langkah yang kita ambil di dalamnya diliputi kebaikan.
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Tidak heran jika banyak ulama yang membiasakan membaca doa ini setelah shalat fardhu, atau ketika tiba di rumah setelah bepergian jauh.
Mari Kita Munajatkan
Untuk itu, marilah sejenak kita panjatkan doa ini dengan penuh penghayatan. Baik untuk rumah yang baru akan kita bangun, untuk rumah yang sedang kita cari, maupun untuk rumah yang sudah lama kita tempati. Tidak ada kata terlambat untuk memohon keberkahan.
Doa ini mengajarkan kita bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi tempat. Bukan kita yang menentukan, bukan arsitek yang merancang, bukan lokasi strategis yang menjamin kebahagiaan. Dialah yang memberi keberkahan, dan ketika Dia meridhai, maka sekecil apa pun rumah itu akan terasa lapang oleh iman.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Mudah-mudahan rumah-rumah kita, baik yang berdinding bata maupun yang masih dalam rencana, menjadi tempat yang diberkahi Allah. Tempat di mana rezeki mengalir, di mana keturunan tumbuh saleh, di mana tetangga merasa nyaman, dan di mana setiap penghuninya berpulang dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic