SETIAP manusia tentu mendambakan cinta. Cinta dari orang-orang terdekat. Tebtu saja cinta yang paling agung bukanlah cinta manusia kepada manusia, melainkan cinta Allah kepada hamba-Nya. Sebab ketika Allah mencintai seorang hamba, maka ia akan mendapatkan keberkahan hidup, ketenangan hati, pertolongan, dan keselamatan dunia hingga akhirat.
Nah, Allah telah menunjukkan salah satu jalan untuk meraih cinta-Nya, yaitu dengan menjaga kesucian diri.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).
Ayat ini memberikan pesan mendalam bahwa cinta Allah diberikan kepada dua golongan,, yaitu orang yang senantiasa kembali kepada-Nya dengan taubat dan orang yang menjaga kesucian dirinya.
Kesucian dalam Islam bukan hanya tentang bersihnya tubuh dari kotoran, tetapi juga bersihnya hati dari penyakit, bersihnya jiwa dari dosa, dan bersihnya kehidupan dari segala hal yang menjauhkan dari Allah.
Suci Badan dengan Wudhu
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Islam mengajarkan bahwa kebersihan lahir adalah bagian dari ibadah. Sebelum menghadap Allah dalam shalat, seorang muslim diperintahkan untuk berwudhu. Berwudhu menjadi syarat sahnya shalat.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku…” (QS. Al-Ma’idah: 6).
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Wudhu bukan sekadar membasuh anggota tubuh. Ia adalah proses penyucian yang memiliki makna spiritual.
Ketika wajah dibasuh, seorang muslim memohon agar wajahnya dijauhkan dari pandangan yang haram. Ketika tangan dibersihkan, ia memohon agar tangannya tidak digunakan untuk kemaksiatan. Ketika kaki dicuci, ia berharap langkahnya selalu menuju kebaikan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوِ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ…
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
“Apabila seorang hamba Muslim atau mukmin berwudhu lalu membasuh wajahnya, keluarlah dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya bersama air…” (HR. Muslim).
Maka orang yang menjaga wudhunya sesungguhnya sedang menjaga hubungan cintanya dengan Allah.
Suci Jiwa dengan Taubat
Kesucian terbesar bukan hanya pada tubuh, tetapi pada hati. Sebab hati adalah tempat Allah melihat seorang hamba.
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Taubat adalah cara membersihkan hati dari noda dosa. Sebesar apa pun kesalahan seorang hamba, pintu ampunan Allah selalu terbuka selama ia kembali kepada-Nya.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53).
Suci Lisan dari Keburukan
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Lisan adalah pintu besar menuju kebaikan maupun kehancuran. Banyak dosa bermula dari kata-kata yang tidak dijaga, seperti ghibah, fitnah, dusta, hinaan, dan menyakiti orang lain.
Muslim yang ingin dicintai Allah harus membiasakan lisannya dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, berkata benar, dan menyampaikan kebaikan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Suci Harta dari yang Haram
Kesucian juga mencakup harta yang kita makan dan gunakan. Harta yang halal membawa keberkahan, sedangkan harta yang diperoleh dengan cara haram menjadi penghalang terkabulnya doa.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebut seseorang yang berdoa kepada Allah, tetapi makanannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari sesuatu yang haram, lalu beliau bersabda:
Baca Juga: Keutamaan Al-Qur’an: Dari Musabaqah untuk Diamalkan dalam Kehidupan
فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim).
Maka sucikanlah rezeki kita, karena tubuh yang tumbuh dari sesuatu yang halal lebih dekat kepada keberkahan Allah.
Suci Hati dari Penyakit Penyakit Batin
Baca Juga: Hukuman Potong Tangan: Alternatif Mengatasi Kejahatan Korupsi
Hati juga harus dibersihkan dari kesombongan, iri, dengki, kebencian, dan cinta dunia yang berlebihan.
Allah menyukai hati yang bersih:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).
Kesucian, Jalan Mendekat kepada Allah
Jika ingin dicintai Allah, jangan hanya mengejar dunia yang membuat manusia dipuji makhluk, tetapi kejarlah kesucian yang membuat Allah mencintai kita.
Jadi, sucikan badan dengan wudhu. Sucikan jiwa dengan taubat. Sucikan lisan dengan dzikir dan perkataan baik. Sucikan harta dengan yang halal. Sucikan hati dengan ikhlas dan kasih sayang.
Karena orang yang bersih bukan hanya terlihat indah di mata manusia, tetapi juga mulia di sisi Allah. Maka, bersucilah. Sucinya jiwa dengan bertaubat, dan sucinya badan dengan berwudhu. Sebab jalan menuju cinta Allah dimulai dari kesucian. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic