Eid di Delhi: Sebuah Perayaan dan Hubungan Antar Agama

Mohammad Altaf sedang sibuk mengepak daging qurban dan mengirimnya ke kerabat dan teman-temannya, termasuk beberapa yang beragama Hindu.

“Beberapa teman Hindu saya adalah vegetarian jadi saya tidak mengirim mereka daging, tetapi saya mengirim beberapa kepada mereka yang tidak vegetarian,” ujarnya kepada Arab News.

Bagi Altaf dan ayahnya, Sahabuddin Saifi, hari pertama Idul Adha di New Delhi, India, telah menjadi hari sibuk sejak pagi. Mereka melaksanakan sholat Eid di Masjid Jama abad ke-17 di Old Delhi hampir setiap tahun.

Masjid itu “memiliki nuansa yang berbeda, dan kami tidak keberatan menempuh 15 km ke tempat ini untuk melaksanakan sholat,” kata Altaf, yang membawa putranya yang berumur 10 tahun, Aaniq, tahun ini untuk pertama kalinya. “Seluruh suasananya beigitu berbeda.”

Ada populasi Muslim yang cukup besar di Old Delhi, tempat pedagang datang dari provinsi-provinsi tetangga untuk menjual kambing.

Dari segi jumlah jamaah, Masjid Jama memimpin sholat Eid, diikuti oleh masjid lain di Delhi. Masjid Fatehpuri yang berdekatan menjadi salah satu tempat perkumpulan terbesar selama Hari Raya Eid, yang merupakan hari libur resmi di India.

Setelah sholat berakhir, jamaah mulai mempersiapkan prosesi qurban: Sebagian besar hewan kambing, diikuti oleh domba. Untuk Idul Adha, Altaf secara khusus telah membesarkan tiga ekor kambing yang akan ia qurbankan dalam tiga hari ke depan.

Saifi mengatakan kepada Arab News, “Kami berusaha melaksanakan pemotongan hewan jauh dari sorotan publik. Beberapa orang tidak suka membunuh hewan, dan kami tidak ingin menyakiti perasaan mereka.”

“Beberapa teman Hindu saya bertanya mengapa saya mengurbankan hewan. Saya mencoba menjelaskan. Beberapa bisa mengerti, beberapa tidak. Tetapi mereka datang ke rumah saya untuk makan daging.”

Dia menambahkan, “Eid tentu festival Muslim, tetapi di India tidak ada festival yang terisolasi. Anda mendapatkan partisipasi aktif dari orang-orang beragama lain. Hari Raya Eid memperkuat ikatan antaragama dan masyarakat.”

Tetangga Hindu Altaf, Vijayant, datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat, dan diundang untuk makan malam. Altaf mengatakan dia telah mengundang setidaknya enam teman Hindu untuk ikut serta dalam kegiatan Eid.

Sementara Verma, seorang Hindu yang telah mengenal Altaf sejak mereka menjadi tetangga tiga tahun lalu, mengaku sangat menantikan momen Eid, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.

“Saya benar-benar senang bisa ikut makan malam di rumah teman Muslim pada perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Itu adalah cara memperbaharui ikatan dan hubungan,” ujarnya.

Verma menambahkan, “Pada saat umat Islam mengalami rasa tidak aman yang mendalam akibat tindakan pasukan sayap kanan Hindu, sebuah hal yang penting untuk berpartisipasi dalam perayaan mereka.”

Jurnalis yang berbasis di Delhi, Andalib Akhtar, mengatakan Eid adalah momen yang menyatukan semua perbedaan.

“Cara religius merayakan Idul Fitri dan Idul Adha bersifat universal, tetapi di India sukacita berlipat ganda ketika teman-teman dan kenalan beragama lain datang berkunjung untuk menikmati perayaan kami.”

“Sangat disayangkan umat Islam di India saat ini menjadi target politik, tetapi hal itu tidak boleh menjadi norma.” Dia menambahkan, “Ikatan antaragama begitu kuat di India sehingga tidak ada polarisasi yang dapat merusak ikatan itu.

Akhtar berkata, “Kadang-kadang saya terkejut ketika seorang teman Hindu mengerti lebih banyak tentang Eid daripada beberapa rekan Muslim saya.”

Delhi adalah rumah bagi lebih dari 10 juta Muslim. Beberapa daerah mayoritas Muslim, sementara yang lain bercampur. (AT/R11/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)