Ekonomi Nelayan Kerang Hijau di Bawah Isu “Tercemar”

Lestari dan putri ketiganya memungut sisa kerang hijau yang masih bisa dimanfaatkan. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Oleh Rudi Hendrik, jurnalis MINA

 

Suara khas dari kerang-kerang dituang tidak jauh dari rumah membuat Lestari (39), adik perempuan dan ibunya mengetahui bahwa pekerjaan untuk mereka telah tiba dari laut.

Mereka akan segera bergegas mengambil perlengkapan seperti kursi plastik pendek, gunting dan ember ukuran tanggung, lalu segera pergi untuk mendapatkan tempat duduk.

Mereka akan berebut dengan sejumlah kaum perempuan lainnya untuk duduk mengelilingi tumpukan kerang hijau yang masih segar tapi bau, kotor bercampur lumpur, tali, dan tiram.

Mereka akan langsung membersihkan cangkang luar kerang dari kotoran tali dan tiram yang melekat menggunakan gunting. Kerang yang sudah bersih dimasukkan ke ember hingga penuh sebagai takaran. Satu ember akan dibayar rata-rata Rp5.000 oleh pemilik kerang. Aktivitas kerja itu disebut “nyetrek”.

Para wanita lain yang tidak mendapat tempat akan mencari tempat nyetrek di juragan atau nelayan kerang lainnya yang hari itu menaikkan kerang dari laut. Tidak hanya wanita dewasa, anak-anak pun ikut nyetrek kerang untuk mendapatkan uang sendiri, termasuk pria lansia yang sudah tidak memiliki pekerjaan.

Para pekerja nyetrek biasanya mendapatkan penghasilan pada kisaran Rp30.000 hingga Rp60.000 sehari.

Di Kampung Baru pinggir sungai di Desa Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten itu, sekitar pukul 08.00 pagi biasanya sudah ada kerang yang naik ke darat. Para pekerja nyetrek akan menghabiskan pekerjaannya, kemudian mencari lagi ke titik lain yang kerangnya baru dinaikkan. Kerang-kerang itu hasil budidaya para nelayan di Teluk Jakarta.

Lestari kadangkala pulang di waktu zuhur saat jumlah kerang yang naik berkurang, kadangkala pula menjelang waktu asar saat sedang banyak.

Setiap hari pekerjaan itu Lestari lakoni untuk membantu ekonomi keluarga. Penghasilan suaminya sebulan hanya cukup untuk belanja setengah bulan. Sisanya Lestari kuatkan dengan bekerja nyetrek, terlebih mereka pun harus membiayai pendidikan putri sulung (16) mereka di sebuah pondok pesantren dan tiga anak lainnya yang masing-masingberusia 5, 8 dan 12 tahun.

Suami Lestari bekerja sebagai pejuang pena di sebuah media Islam dan mengajar baca Al-Quran bagi anak-anak di lingkungan itu tanpa dipungut biaya serupiah pun.

Ibu Lestari, Ngatinem (58), seorang janda asal Salatiga, Jawa Tengah, yang ikut tinggal di rumah menantunya sejak dua tahun lalu. Nyetrek adalah satu-satunya sumber penghasilan baginya. Sementara adik Lestari yang bernama Sartika (23), baru datang dari kampung beberapa pekan lalu dengan membawa satu anak dan satu masih di kandungan. Sementara ia belum mendapatkan pekerjaan, ikut nyetrek pun ia lakoni.

Orang-orang seperti Lestari, adik dan ibunya banyak, yang menggantungkan sebagian kekuatan ekonominya dari kerang hijau.

Ilustrasi: tenaga nyetrek sedang membersihkan cangkang kerang dari kotoran dan tiram. (Foto: Liputan6)

Seiring munculnya isu bahwa kerang hijau dari Teluk Jakarta sudah tercemar dan tidak layak konsumsi, bagi Lestari itu adalah isu lama. Ia dan keluarga sering pula mengkonsumsi hewan bercangkang tersebut.

“Jika isu kerang hijau tidak layak dikonsumsi berpengaruh buruk terhadap hasil budidaya nelayan di sini, bisa-bisa ekonomi kami pun akan terganggu,” kata Lestari kepada MINA pada Rabu siang, 16 Oktober 2019, di rumah kayunya yang mulai rapuh.

“Kalau kerang hijau di sini bubar, terpaksa cari pekerjaan lain. Itu belum tentu mudah,” tambah wanita berjilbab hitam dan berjaket jeans lusuh itu.

Satu tangannya memakai sarung tangan yang berfungsi sebagai pelindung karena tiram sifatnya tajam. Noda-noda lumpur kerang yang berbau tidak sedap masih menempel di jaket dan sarung tangannya.

Kerang Hijau Satu-satunya Penghasilan

Ketika mendengar isu bahwa hasil penelitian seorang pakar yang menyimpulkan kerang hijau tidak layak dikonsumsi karena mengandung logam berat dan cacat dagingnya, Hasanuddin (34) sebagai seorang nelayan kerang hijau merasa tidak terpengaruh.

“Kami tidak terpengaruh, karena memang dari dulu begitu informasinya. Kalau di Bandung, iya, karena ada berita kalau ditemukan cacing di dalam kerang. Kata pelele (orang yang menyuplai kerang ke konsumen) ditemukannya di sana,” kata Hasanuddin yang sudah menekuni budidaya kerang hijau di Teluk Jakarta sejak tahun 2002.

Hal senada pun dinyatakan oleh Ari (44), pria Bugis beranak satu itu mengaku tidak merasakan gejala-gejala buruk dari mengkonsumsi kerang hijau. Selain kerang hijau miliknya dijual, ada juga sedikit untuk diolah jadi lauk makanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau makan kerang hijau dilarang, mau dapat uang dari mana? Itu satu-satunya mata pencaharian kita,” katanya kepada MINA.

Pria yang pernah bekerja di pelayaran pengiriman kayu itu menambahkan bahwa ia suka kerang hijau karena enak rasanya.

Hasanuddin menekankan, jika seandainya kerang hijau dari Teluk Jakarta dilarang dikonsumsi, para nelayan akan protes karena pada faktanya mereka tidak mengalami hal buruk dalam mengkonsumsi kerang hijau hampir setiap hari.

Bisnis kerang hijau di masyarakat sekitar pinggiran Teluk Jakarta semakin berkembang pesat. Itu ditunjukkan adanya kerang yang dinaikkan dari laut ke darat setiap hari dalam jumlah yang besar. Kerang-kerang yang dikirim ke berbagai daerah pun semakin banyak, hingga ke Bandung.

Selain para tenaga nyetrek yang menggantungkan ekonominya dari kerang hijau, para nelayan pun merasa ekonominya terangkat. Kondisi itu diungkapkan oleh Hasanuddin yang sebelumnya bekerja sebagai nelayan ikan di Lampung Timur.

Lestari pulang dari nyetrek kerang hijau. (Foto: Rudi Hendrik/MINA)

Peneliti: Kerang Hijau Teluk Jakarta Tidak Layak Konsumsi

Sehari sebelumnya, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Prof Etty Riani mengatakan, kerang hijau di Teluk Jakarta tidak layak konsumsi. Selain mengandung logam berat, juga mengalami cacat karena dagingnya sudah rusak.

“Kerang hijau Teluk Jakarta tidak boleh dikonsumsi karena membahayakan dan dilihat dari gambar sistem patologinya menunjukkan memang sudah rusak,” kata Etty di Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019.

Etty mengatakan, dari hasil penelitian yang dilakukannya sejak tahun 2000, kerang hijau (perna viridis) yang ada di Teluk Jakarta mengalami kerusakan pada bagian tubuhnya seperti insang, hepatopankreas, dan dagingnya rusak.

Ia mengatakan, kerusakan atau cacat pada kerang hijau di Teluk Jakarta ini tidak ketahui oleh orang awam, tetapi tanda-tanda kerusakan itu sudah tampak. Tanda yang dimaksud yakni waktu panen kerang hijau yang menjadi lebih lama, dari biasanya tiga bulan sudah bisa dipanen sekarang mencapai lima bulan lebih.

Namun, Hasanuddin membantah hal itu dengan mengatakan, masa panen rata-rata empat bulan. Bagi bibit baru, masa panennya bisa sampai enam bulan. Terkadang lebih cepat karena kerang yang masih kecil pun sudah ada yang mau memborongnya.

Dosen di Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) itu juga mengatakan, masyarakat tidak memahami kerang cacat tersebut seperti apa, salah satu ciri fisiknya, kerang yang dulunya pipih kini berubah menjadi menggembung.

Namun, menurut Hasanuddin, para nelayan meyakini bahwa perubahan fisik kerang tergantung dari musim ombak. Jika musim ombak sedang tinggi, maka hasil kerang akan gemuk, tapi jika masa-masa tenang, fisik kerang akan kurus.

Profesor wanita itu mengingatkan, bukan tidak mungkin kalau kerang hijau dari Teluk Jakarta ini terlalu banyak dikonsumsi oleh ibu hamil, bisa membawa cacat bawaan pada bayi yang baru dilahirkan.

Ia menekankan, kondisi itu hanya berlaku di Teluk Jakarta, di wilayah lain belum tentu, salah satu wilayah yang diamatinya seperti Cirebon, kerang hijaunya masih aman untuk dikonsumsi. (A/RI-1/RS2)

 

Mi’raj News Agency (MINA)