Empat Sumber Kebahagiaan Hidup

Oleh Zaenal Muttaqin, wartawan MINA

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ.

Ada empat perkara termasuk kebahagiaan; istri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, teman atau tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman.” (HR Ibnu Hibban).

Bahagia atau sa’adah dalam bahasa Arab, artinya: beruntung, ceria, mendukung, menopang, membahagiakan. Sumber kebahagiaan hidup di dunia ada empat sebagaimana diwartakan dalam hadits di atas, yaitu: isteri yang shalihah, rumah tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.

Pertama, istri yang shalihah
Di antara sumber kebahagiaan dalam hidup adalah memiliki istri yang shalihah. Karena itu ketika hendak memilih pasangan hidup, Islam menganjurkan untuk memprioritaskan agama, kebaikan dan keshalihannya terlebih dulu.

Kita akan merasakan kebahagian dalam rumah tangga karena kebaikan dan keshalihan pasangan kita, bukan karena yang lain. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ . رواه مسلم

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik- baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran kenapa istri yang shalihah dapat mendatangkan kebahagian, yaitu karena ketika dipandang menyejukkan, ketika diperintah mau mentaati, dan istri shalihah dapat menjaga dirinya sendiri dari godaan orang lain meski tanpa pengawasan suami.

Disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

Maukah aku beritakan kepada kalian tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila suami pergi, dia akan menjaga dirinya.”

Kedua, rumah yang luas (nyaman)

Sumber kebahagiaan selanjutnya adalah memiliki tempat tinggal atau rumah sendiri, yang nyaman dan lapang. Agam Islam mengajarkan untuk membangun rumah sebagai tempat istirahat ketika kita lelah. Rumah menjadi tempat tidur ketika kita ngantuk, dan sebagai tempat silaturahmi bagi sanak famili.

Nabi Nuh ketika berada di atas perahu pada saat banjir besar memohon kepada Allah agar diberi tempat yang berkah. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggal yang lapang dan berkah termasuk hal penting dalam hidup kita.

Ketiga, tetangga yang baik.

Kehadiran tetangga dalam kehidupan kita sehari-hari sangat diperlukan. Islam sangat memperhatikan, agar kita menjadi tetangga yang baik bagi orang lain, dan kita akan sangat beruntung jika memiliki tetangga yang baik kepada kita.

Karena itu, kita dituntut untuk menghormati tetangga dengan harapan agar Allah memberikan tetangga yang baik kepada kita. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya.”

Tetangga adalah saudara terdekat kita dan merupakan orang yang pertama kali dapat menolong kita di saat kita tertimpa musibah, maka sudah seharusnya kita menjaga hubungan baik dengan tetangga.

Etika dalam hidup bertetangga yang sudah seharusnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, memiliki kendaraan yang nyaman.

Kendaraan yang nyaman bukan berarti harus mewah. Yang dimaksud di sini adalah kendaraan yang berfungsi dengan baik dan normal. Kita sebagai Muslim dituntut untuk bermanfaat kepada orang lain, dan kadang untuk melakukan hal tersebut kita membutuhkan kendaraan yang lancar.

Sebaliknya, apabila kendaraan sering rusak dan mogok, tentu hal ini sangat mengganggu kegiatan kita. Karena itu, di antara penunjang kebahagiaan hidup adalah memiliki kendaraan yang nyaman digunakan.

Empat perkara tersebut perlu kita upayakan ada dalam kehidupan kita agar kita bisa bahagia. Dalam Islam, mencari kebahagiaan di dunia tidak dilarang selama diusahakan dengan cara yang baik dan sesuai aturan syariat. (A/B04/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)