Film Horor Berjudul Kiblat Menuai Kecaman, Dinilai Menakuti Orang Beribadah

Poster film horor berjudul Kiblat yang mendapat kritikan banyak pihak (Foto: Tangkapan Layar Tik Tok)

Oleh: Zaenal Muttaqin, wartawan MINA

Film horor berjudul “” menjadi sorotan karena kontroversinya yang dinilai melecehkan agama Islam. Dalam film ini, banyak adegan yang dianggap tidak menghormati ajaran agama Islam dan budaya masyarakat Indonesia.

Hal ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat yang merasa tersinggung dengan konten film tersebut.

Film horor Indonesia ini diproduksi oleh Leo Pictures dan salah satu pemainnya adalah Ria Ricis. Kata Kiblat yang menjadi judul film itu identik dengan ibadah umat Muslim. Sehingga di media sosial banyak netizen yang menduga film horor itu menceritakan alur yang berkaitan dengan agama Islam.

Kritik terhadap film “Kiblat” datang dari banyak pihak, segi kualitas penyutradaraan dan narasi cerita juga dikritik. Banyak yang menganggap bahwa film ini menggunakan kontroversi agama sebagai strategi pemasaran semata, tanpa memperhatikan nilai seni dan pesan yang seharusnya dihadirkan dalam sebuah karya film.

Film horor yang membawa atribut agama diduga hanya akan membuat seseorang malas melakukan ibadah. Hal itu yang membuat film ‘Kiblat’ menuai kontroversi.

Sementara dari poster filmnya terlihat seorang wanita yang mengenakan mukena sedang melakukan sholat dengan gerakan rukuk.

Kemudian wanita tersebut juga digambarkan dengan perawakan menyeramkan. Menambah nilai kontroversi yang muncul terkait film tersebut di kalangan netizen.

Seorang seleb tiktok, Risyad yang terkenal lewat materi dakwah Islam itu memberi penjelasan lewat sebuah unggahan video di akun TikTok @risyad_bay.

Kata dia, film tersebut sudah keterlaluan dan sudah termasuk penghinaan terhadap Islam.

“Semakin dibiarkan semakin menjadi, semakin mulai ngawur dan semakin orang itu gak sadar, kalo ini sudah termasuk penghinaan pada Islam,” ucap Risyad, dikutip Sabtu 23 Maret 2024.

Risyad kemudian menjelaskan bahwa industri film merupakan media komunikasi terbaik untuk menyampaikan pesan, namun makin kesini banyak judul film dan poster film yang menjelekan Islam.

Di tengah polemik ini, penting bagi kita untuk selalu menjaga rasa sensitivitas terhadap agama dan kepercayaan orang lain. Meskipun kebebasan berekspresi merupakan hak asasi setiap individu, namun juga perlu menghormati nilai-nilai keagamaan dan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Film “Kiblat” memberikan pelajaran penting bagi industri film Indonesia untuk lebih memperhatikan sensitivitas dalam menyajikan konten-konten yang dapat memicu konflik dan ketegangan sosial. (A/B04/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)