Washington, MINA – Perang yang dilancarkan AS dan Israel melawan Iran telah merugikan perekonomian Amerika Serikat ratusan miliar dolar akibat lonjakan harga bahan bakar, inflasi, dan membengkaknya biaya militer, demikian laporan Financial Times, yang dikutip Selasa (12/5).
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, harga bensin di AS melonjak lebih dari 50 persen menjadi 4,55 dolar per galon. Konsumen AS dilaporkan telah membayar tambahan 35 miliar dolar untuk biaya bahan bakar, atau setara 268 dolar per rumah tangga.
Selain itu, militer AS telah menghabiskan miliaran dolar untuk mengisi ulang persediaan rudal yang habis, termasuk rudal Tomahawk dan sistem pertahanan udara Patriot, THAAD serta SM-3.
Profesor Harvard, Linda Bilmes menyebut biaya yang diumumkan secara resmi hanya puncak gunung es dari dampak ekonomi sebenarnya.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Gangguan di Selat Hormuz menjadi penyebab utama lonjakan harga bahan bakar, sementara kenaikan biaya pengiriman dan pupuk diperkirakan akan mendorong harga pangan semakin tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Para ekonom memperingatkan bahwa tekanan inflasi dan suku bunga yang tinggi berpotensi menghapus sekitar 200 miliar dolar dari output ekonomi AS.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
















Mina Indonesia
Mina Arabic