GNPF Ulama: Habib Rizieq Tidak Perlu Rekonsiliasi

Jakarta, MINA – Ketua Umum GNPF Muhammad Yusuf Martak menegaskan Habib Rizieq Shihab tidak memerlukan rekonsiliasi yang melibatkannya dan itu tidak perlu dilakukan.

“Sebab Habib Rizieq tidak perlu rekonsiliasi kok. Jadi isu yang diangkat bukan menyederhanakan  masalah  justru menimbulkan masalah baru,” kata Yusuf dalam sambutan  acara Gerakan Kedaulatan Rakyat untuk keadilan dan Kemanusiaan GERAK KEMANUSIAAN, Jakarta, Rabu (11/7).

“Kami nyatakan jika memang tidak perlu adanya rekonsiliasi melibatkan Habib Rizieq tidak usaha dilakukan,” tegasnya.

Dia menambahkan, malah ada yang akan memberikan biaya untuk kepulangan Habib Rizieq itu tidak perlu, pengikutnya Habib Rizieq ada puluhan juta sudah terbukti di Aksi 212.

“Ketika kami bertemu dengan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel di Tv One kapan Habib bertemu dengan Habib Rizieq dia bilang setahun lalu,” ujar dia.

“Kalau negara menengani masalah tersebut, justru akan menimbulkan masalah baru susah itu,” tambahnya.

Lebih jauh dikatakan, mestinya jika Presiden Joko Widodo bisa ingin mengumumkan kabinetnya segera dilakukan saja, sebab Jokowi sudah gagal dalam menyelesaikan negara.

“Habib Rizieq tidak memerlukan rekonsiliasi,” tegas dia. Namun dikatakan untuk menyelesaikan masalah negara ini nama bukan rekonsiliasi atau negosiasi memaksakan kehendak.

Sementara Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI), Ahmad Shobri Lubis mengatakan terkait masalah kepulangan Habib Rizieq banyak pernyataan yang menimbulkan fitnah seperti Habib Rizieq takut pulang ke Indonesia.

“Seperti Puan Maharani dan Pak Moeldoko, kalau mereka tidak tahu masalahnya, jangan banyak bicara soal Habib Rizieq,” tegasnya.

Ia mengatakan, aksi 212 tidak pernah takut untuk menggelar aksi kembali dan juga Habib Rizieq tidak pernah takut, yang ditakut Habib Rizieq yaitu jika bangsa ini dikuasai asing.

“Habib Rizieq saat ini dijadikan gorengan oleh orang-orang yang tidak suka dengan kepulangan Habib,” ujarnya. (L/R03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)