Teheran, MINA – Perkembangan terkini memasuki hari ke-33 perang Anerika Serikat-Israel terhadap Iran, Rabu, 1 April 2026, ditandai dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang mengatakan ‘hampir selesai’. Sementara Iran malah membombardir Kawasan pendudukan Israel dengan rudal-rudal.
Trump mengatakan tujuan AS membongkar kemampuan militer Iran mencapai targetnya. Dia mengklaim fasilitas nuklir Iran telah hancur total, dan mengatakan tempat peluncuran rudal hanya beberapa yang tersisa.
Dia menegaskan janjinya untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengatakan operasi AS di Timur Tengah dimaksudkan untuk mendukung sekutu.
Dia juga menekankan AS independen dalam hal minyak dan berterima kasih kepada angkatan bersenjata atas misi sukses di Venezuela dan Iran.
Baca Juga: Trump Ancam Gunakan Veto Usai Demokrat Menang Pemilu Sela AS
Di sisi lain, rentetan rudal masih menghantam beberapa daerah di Israel. Rudal-rudal meluncur dari Iran, tak lama setelah klaim Trump tentang penghancuran kemampuan rudal Iran.
Rudal-rudal terdeteksi di Palestina yang diduduki di bagian utara, dengan serangan tambahan menargetkan daerah pusat, termasuk Tel Aviv, Bnei Brak, dan Yerusalem.
Media Israel melaporkan peluncuran rudal baru dari Iran yang melintasi wilayah Karmel, Lembah Yordania, Galilea, dan Golan.
Sementara sirene serangan udara diaktifkan di Tel Aviv dan daerah sekitarnya.
Baca Juga: Demokrat Unggul di Pemilu Sela AS, Keisha Bottoms hingga Deb Haaland Ukir Sejarah Baru
Layanan darurat melaporkan cedera dan kerusakan di Bnei Brak, termasuk serangan langsung pada bangunan dan infrastruktur.
Laporan menunjukkan peluncuran simultan dari Iran dan Lebanon yang menargetkan utara, wilayah Haifa, wilayah tengah, dan Yerusalem yang diduduki.
Iran meluncurkan gelombang serangan baru, memberi sinyal kontrol atas Selat Hormuz. Di antaranya, Garda Revolusi Iran meluncurkan tiga rentetan rudal ke Israel dalam waktu kurang dari satu jam.
Televisi Iran menyiarkan peluncuran gelombang baru serangan rudal ke Israel.
Baca Juga: Yair Golan Kritik Netanyahu Usai Trump Umumkan Penghentian Bantuan AS untuk Israel
Menanggapi ketidakstabilan di kawasan Teluk, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan itu adalah hasil dari agresi AS-Israel.
Dia menegaskan, Selat Hormuz di bawah kontrol negaranya, dan ditutup untuk kapal-kapal milik negara-negara yang berpartisipasi dalam agresi. Sementara kapal-kapal lain dapat lewat di bawah koordinasi dengan pihak berwenang Iran.
Semenara itu, untuk pertama kalinya, kelompok bersenjata Hezbollah, proksi Iran di Lebanon, menargetkan infrastruktur militer Israel di Kiryat Ata timur Haifa dengan salvo roket.
Kelompok bersenjata Houthi Yaman juga mulai menggeliat dengan respon akan mempertimbangkan memblokir jalur perairan utama kedua setelah Selat Hormuz, yaitu Selat al-Mandab.
Baca Juga: AS akan Hentikan Bantuan untuk Israel Akhir Tahun Ini
Trump menjadi gamang dan plin plan, mengatakan sukses meredam fasilitas rudal Iran, tapi nyatanya peluncuran rudal-rudal Teheran masih masif. Trump sebelumnya mengatakan hampir terjadi negosiasi, tapi Teheran mengatakan tidak ada kata itu.
Trump juga akan menarik diri dari Timur Tengah, tapi juga akan mengirimkan Kapal Induk ketiganya ke Kawasan konflik itu.
Protes Dalam Negeri AS
Jika di Iran, rakyatnya relatif mendukung serangan balasan pemerintahnya, dengan emosi mendalam atas meninggalnya Pimpinan Tertinggi Ayatollah Khamenei, dan mendukung Mojtaba Khamenei sebagai penggantinya, yang dipandang lebih keras dari ayahnya.
Baca Juga: Partai Demokrat Unggul Sementara dalam Pemilu Sela AS
Di dalam negeri AS, justru sebaliknya. Aksi jutaan demonstran yang memprotes pemeritnahan Trump karena dinilai gagal, dan menentang kebijakan otoriter Trump bak raja. Aksi demonstran menyebutnya dengan, “No Kings!”.
Para pemimpin Demokrat, lawan Republik paratainya Trump, dalam pidatonya menyerang tajam strategi perang Trump.
Pemimpin Senat Demokrat, Chuck Schumer mengatakan Trump gagal mendefinisikan tujuan dengan jelas, mulai berseberangan dengan negara-negara sekutu, dan mengabaikan kekhawatiran ekonomi dalam negeri sendiri.
Dia menyebut Tindakan Trump di Iran sebagai salah satu kesalahan politik terbesar dalam sejarah AS.
Baca Juga: Abaikan Larangan, Ratusan Pelajar Prancis Tetap Demo di Dekat Pantheon Paris
Pemimpin DPR Demokrat, Hakeem Jeffries mengatakan warga Amerika Serikat sudah bosan dengan kekacauan, biaya tinggi, dan apa yang dia gambarkan sebagai agenda ekstrem Partai Republik. Dia mendesak Trump untuk mengakhiri apa yang dia sebut perang sembrono.
Senator Chris Murphy mengatakan sangat menakutkan memiliki presiden yang tidak realistis dengan kenyataan.
Senator Chris Van Hollen menuduh Trump menyesatkan publik dengan mengklaim kemenangan beberapa pekan lalu, mempertanyakan mengapa pasukan AS tetap terlibat, dan memperingatkan bahwa tindakannya menimbulkan bahaya bagi AS dan dunia. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Menteri Transportasi Spanyol Mundur Usai Dua Kecelakaan Kereta Cepat dalam Setahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic