Gaza, MINA – Hujan musim dingin kembali memperburuk krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Kerusakan tempat tinggal, pengungsian berulang, dan minimnya fasilitas penampungan membuat ratusan ribu warga Palestina menghadapi cuaca dingin dan ancaman banjir tanpa perlindungan yang memadai.
Menurut data yang dihimpun Arabi21 dari otoritas pemerintah dan badan-badan PBB, Selasa (20/10), banyak keluarga pengungsi kini bertahan di tenda-tenda rusak atau bangunan yang mengalami kerusakan parah. Kondisi tersebut membuat mereka semakin rentan terhadap hujan dan suhu dingin.
Hasil penilaian lapangan menunjukkan lebih dari 162.000 dari sekitar 270.000 tenda di Gaza telah usang atau tidak lagi layak digunakan. Kerusakan terjadi akibat pemakaian berkepanjangan dan paparan cuaca buruk.
Kementerian Pembangunan Sosial Gaza menyerukan penyediaan segera 200.000 tenda tahan cuaca dan 300.000 paket kebutuhan tempat tinggal. Bantuan tersebut mencakup bahan isolasi termal, terpal, dan lembaran plastik yang diperkuat untuk meningkatkan perlindungan bagi keluarga pengungsi.
Baca Juga: Israel Buka Tender 1.080 Unit Permukiman Baru di Yerusalem Timur
Menurut kementerian, pasokan itu dibutuhkan untuk membantu lebih dari 300.000 keluarga yang menghadapi kondisi kehidupan semakin sulit di tengah terbatasnya tempat penampungan yang layak.
Krisis tersebut diperparah oleh kehancuran infrastruktur perumahan. Data yang dikutip dalam laporan itu menyebutkan sekitar 85 persen unit hunian di seluruh Jalur Gaza telah hancur, baik seluruhnya maupun sebagian. Akibatnya, banyak keluarga tidak memiliki pilihan selain tinggal di kamp-kamp pengungsian atau bangunan yang rusak.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan menghadapi kondisi tersebut. Diperkirakan 800.000 anak pengungsi hidup jauh dari rumah mereka, dengan banyak di antaranya menempati tempat penampungan darurat yang tidak mampu memberikan perlindungan memadai dari hujan dan cuaca dingin.
Kondisi ini menambah beban psikologis dan sosial bagi anak-anak yang kehilangan anggota keluarga selama perang. Laporan tersebut juga menyebutkan sekitar 60.000 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka.
Baca Juga: Ben-Gvir Gunakan Kebencian terhadap Arab dan Islam sebagai Kampanye Pemilu
Sebagian anak yang kehilangan orang tua terpaksa ikut memikul tanggung jawab untuk menopang keluarga, sementara mereka sendiri masih hidup dalam pengungsian dan menghadapi keterbatasan kebutuhan dasar.
Perpaduan antara rusaknya tempat tinggal, keterbatasan bahan penampungan, dan datangnya musim hujan membuat kebutuhan bantuan kemanusiaan di Gaza semakin mendesak. Tanpa penyediaan tempat tinggal yang aman dan tahan cuaca, keluarga pengungsi, terutama anak-anak, akan terus menghadapi risiko kesehatan dan keselamatan.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Krisis Dana Paksa PBB Pangkas Bantuan Pangan bagi 500.000 Warga Gaza
















Mina Indonesia
Mina Arabic