Teheran, MINA — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka untuk kapal-kapal dari seluruh dunia, namun secara eksplisit menutup akses bagi Amerika Serikat dan Israel menyusul meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk Persia.
Pernyataan ini disampaikan di tengah konflik yang makin memanas antara Iran di satu sisi dan koalisi AS–Israel di pihak lain. Farsnews melaporkan, Senin (16/3).
Araghchi menyatakan bahwa keputusan itu merupakan bentuk kedaulatan Iran atas jalur pelayaran strategis tersebut, yang kini menjadi titik fokus geopolitik dan ekonomi global.
Ia menegaskan bahwa negara-negara lain, termasuk sekutu atau yang bersikap netral, dipersilakan melintasi Selat Hormuz selama tidak terikat langsung dengan operasi militer yang dipimpin oleh AS atau Israel. Pernyataan ini sekaligus meredakan kekhawatiran sebagian pihak soal penutupan penuh jalur laut vital tersebut.
Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal
Posisi Iran muncul setelah serangan gabungan oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap beberapa fasilitas penting di wilayah Iran, termasuk serangan udara di Kharg Island, lokasi utama ekspor minyak negara itu. Dampaknya, hampir 20% pasokan minyak dunia yang biasa melalui Selat Hormuz terganggu, memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar global.
Kondisi ini memicu reaksi dari Presiden AS, yang menyerukan sekutu-sekutunya untuk menempatkan kapal perang guna memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan mencegah gangguan lanjutan terhadap rute energi global.
Beberapa negara besar, seperti Jepang dan Australia, telah menyatakan penolakan terhadap permintaan itu, mengindikasikan potensi perpecahan aliansi dalam menangani konflik ini.
Di sisi lain, gangguan di selat telah memperburuk tantangan ekonomi global. Selain harga minyak mentah yang melonjak melewati US$100 per barel, banyak negara yang sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah, terutama di Asia, mulai memberlakukan pembatasan bahan bakar dan operasi kilang.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Organisasi Energi Internasional bahkan merilis cadangan strategis dalam upaya meredam tekanan pasar yang terus meningkat.
Langkah Iran membuka Selat Hormuz kecuali bagi AS dan Israel merupakan strategi untuk meraup dukungan dari negara-negara netral, sekaligus menempatkan tekanan geopolitik pada pihak yang masih melakukan serangan.
Namun menurut sejumlah pengamat, masih tetap ada risiko tinggi gangguan apabila konflik militer terus berlanjut, terutama bila pihak-pihak lain ikut terseret ke dalam pertempuran. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
















Mina Indonesia
Mina Arabic