Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jangan Biarkan Nafsu Memimpin Hidupmu

Zaenal Muttaqin Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 28 Februari 2026 - 17:12 WIB

Sabtu, 28 Februari 2026 - 17:12 WIB

112 Views ㅤ

Ilustrasi (Foto: Dibuat oleh AI)

DALAM kitab Nashoihul ‘Ibad, karya Syekh Nawawi al-Bantani yang merupakan syarah atas karya Ibnu Hajar al-Asqalani, terdapat satu ungkapan hikmah yang begitu dalam maknanya:

طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرًا وَهَوَاهُ أَسِيْرًا وَوَيْلٌ لِمَنْ كَانَ هَوَاهُ أَمِيرًا وَعَقْلُهُ أَسِيْرًا

“Berbahagialah orang yang akalnya menjadi pemimpin dan hawa nafsunya menjadi tawanan. Dan celakalah orang yang hawa nafsunya menjadi pemimpin sementara akalnya menjadi tawanan.”

Ungkapan ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi gambaran psikologi manusia yang sangat ilmiah dan relevan sepanjang zaman.

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Secara konseptual, Islam menempatkan akal (‘aql) sebagai instrumen untuk memahami kebenaran, menimbang maslahat dan mafsadat, serta membedakan antara yang hak dan yang batil. Akal bekerja melalui pertimbangan rasional, analisis konsekuensi, dan kesadaran nilai.

Dalam perspektif ilmu perilaku modern, fungsi ini sejalan dengan konsep executive control dalam otak manusia, kemampuan mengendalikan impuls, merencanakan tindakan, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Sebaliknya, hawa nafsu (al-hawa) merujuk pada dorongan instingtif dan impuls emosional yang cenderung mencari kepuasan cepat. Dalam kajian psikologi, ini serupa dengan dorongan impulsif yang berorientasi pada instant gratification.

Nafsu pada dasarnya bukan musuh; ia bagian dari fitrah manusia. Namun, ketika ia menjadi “amir” (pemimpin), maka keputusan hidup tidak lagi berbasis nilai dan pertimbangan rasional, melainkan dikendalikan oleh dorongan sesaat.

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Hikmah ini menyusun analogi kepemimpinan batin, siapa yang memegang kendali? Jika akal menjadi amir, maka nafsu tetap ada, tetapi berada dalam disiplin. Ia diarahkan, bukan dihapuskan.

Energi nafsu dimanfaatkan untuk kebaikan, semangat bekerja, mencintai, berjuang, namun tetap dalam koridor syariat dan etika.

Sebaliknya, ketika hawa menjadi amir dan akal menjadi tawanan, terjadi pembalikan tatanan. Akal tidak lagi memimpin, melainkan membenarkan apa yang diinginkan nafsu.

Dalam kondisi ini, manusia cenderung mencari justifikasi atas kesalahan, memanipulasi logika demi kepentingan diri, dan kehilangan kepekaan moral.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Inilah makna “wail” (celaka) dalam ungkapan tersebut: kehancuran bukan hanya di akhirat, tetapi juga dalam kualitas hidup di dunia.

Menariknya, hikmah ini menunjukkan keseimbangan Islam yang realistis. Islam tidak memerintahkan mematikan nafsu, tetapi menundukkannya.

Bukan menafikan dorongan manusiawi, melainkan menempatkannya di bawah kendali akal yang tercerahkan oleh wahyu.

Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat – media sosial, budaya konsumtif, dan arus informasi tanpa batas – tantangan terbesar manusia bukan lagi kurangnya pengetahuan, tetapi lemahnya kendali diri.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Banyak orang cerdas secara intelektual, tetapi kalah oleh impuls emosional. Di sinilah relevansi abadi nasihat ini.

Pernyataan dalam Nashoihul ‘Ibad tersebut seakan mengingatkan, kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa kuat dorongannya, tetapi pada seberapa mampu ia mengendalikannya. Kebahagiaan sejati lahir dari keteraturan batin: akal memimpin dengan jernih, nafsu bergerak dalam disiplin.

Sebab pada akhirnya, kualitas hidup seseorang ditentukan oleh siapa yang menjadi “amir” dalam dirinya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Waspada! Penyakit yang Tak Terlihat Namun Mematikan
Tausiyah
Artikel
Tausiyah