DI TENGAH dunia yang penuh label—kaya atau miskin, sukses atau gagal, terkenal atau tidak—Al-Qur’an datang dengan cara pandang yang sangat sederhana, tapi dalam: manusia, pada akhirnya, hanya terbagi menjadi dua. Bukan berdasarkan apa yang tampak, tapi berdasarkan apa yang ada di dalam hati dan arah hidupnya. Allah berfirman dalam Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 6-7:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”
Ayat di atas ini tidak panjang. Tapi seperti cermin yang jujur—menampakkan siapa kita sebenarnya, bukan siapa yang kita kira.
Hari ini, kita hidup di zaman yang sibuk sekali. Bangun tidur, yang pertama disentuh bukan mushaf, tapi layar. Jempol lebih sering bergerak daripada hati. Informasi begitu banyak, tapi ketenangan terasa semakin mahal. Di tengah hiruk-pikuk ini, ayat ini datang seperti bisikan pelan: “Kamu sedang menuju ke mana?”
Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global
“Syarrul bariyah”—seburuk-buruk makhluk—bukan sekadar label bagi orang yang tidak tahu. Ia adalah gambaran tentang hati yang memilih menjauh, meski cahaya sudah datang. Bukan karena gelap di luar, tapi karena enggan membuka jendela di dalam.
Kadang kita merasa baik-baik saja. Tidak melakukan dosa besar, tidak menyakiti orang secara terang-terangan. Tapi ada yang perlahan hilang: rasa bersalah saat lalai, rasa rindu saat jauh dari Allah. Dan itu sering tidak terasa… sampai hati benar-benar kering.
Sebaliknya, “khairul bariyah”—sebaik-baik makhluk—tidak selalu mereka yang tampak hebat di mata manusia. Bisa jadi dia yang diam-diam menjaga shalat di tengah kesibukan. Yang menahan diri dari dosa kecil saat tidak ada yang melihat. Yang jatuh… tapi memilih bangkit lagi.
Di zaman sekarang, menjadi baik sering terasa tidak mudah. Lingkungan tidak selalu mendukung. Godaan datang tanpa henti. Tapi justru di situlah letak keindahannya—setiap kebaikan kecil menjadi sangat berarti, karena ia dilakukan di tengah arus yang berlawanan.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Ayat ini tidak meminta kita menjadi sempurna. Ia hanya menunjukkan arah. Bahwa iman dan amal shalih, sekecil apapun, adalah jalan menuju kemuliaan. Dan sebaliknya, kelalaian yang terus dibiarkan bisa menjadi jalan menuju kehancuran.
Mungkin kita pernah berada di titik lemah. Menunda shalat, meremehkan dosa, atau merasa jauh dari Allah. Tapi ayat ini tidak datang untuk menghakimi. Ia datang untuk mengingatkan: selama masih ada iman, masih ada jalan pulang.
Bayangkan, di hari akhir nanti, tidak ada lagi yang ditanya tentang popularitas, jabatan, atau pencapaian dunia. Yang tersisa hanya: apakah kita termasuk yang beriman dan beramal shalih… atau sebaliknya.
Dan yang membuat hati bergetar, perjalanan menuju salah satu dari dua golongan itu terjadi setiap hari. Dalam keputusan-keputusan kecil yang sering kita anggap sepele. Menunda atau segera. Mengingat atau melupakan. Taat atau menunda taat.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Ayat ini seperti kompas. Tidak berisik, tapi jelas menunjukkan arah. Dan yang menenangkan, kita selalu punya kesempatan untuk mengubah arah itu. Selama nafas masih berhembus, selama hati masih bisa tersentuh.
Maka mungkin, kita tidak perlu langsung menjadi luar biasa. Cukup mulai dengan satu langkah kecil yang jujur. Satu shalat yang dijaga. Satu istighfar yang sungguh. Satu keputusan untuk kembali, walau pelan.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita sampai… tapi ke mana kita sedang menuju. Dan semoga, tanpa kita sadari, langkah-langkah kecil itu sedang membawa kita menjadi bagian dari “khairul bariyah”—sebaik-baik makhluk di sisi Allah, wallahua’lam bisshawab.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
















Mina Indonesia
Mina Arabic