Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Hati Tidak Lagi Merasakan Kedekatan dengan Allah?

Bahron Ansori Editor : Widi Kusnadi - Jumat, 5 Juni 2026 - 18:47 WIB

Jumat, 5 Juni 2026 - 18:47 WIB

95 Views ㅤ

Ilustrasi

DAHULU, ketika azan berkumandang, hati bergetar. Ketika nama Allah disebut, mata terasa basah. Ketika membaca Al-Qur’an, jiwa seakan menemukan rumahnya. Namun kini, banyak manusia yang tetap shalat tetapi hatinya jauh. Tetap membaca Al-Qur’an tetapi tidak tersentuh. Tetap mengaku beriman tetapi tidak lagi merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Mengapa ini terjadi?

Allah menciptakan hati bukan sekadar untuk memompa darah, tetapi untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan selalu terhubung dengan-Nya. Hati yang sehat akan selalu rindu kepada Allah sebagaimana seorang musafir merindukan kampung halamannya. Namun ketika hati terlalu lama disibukkan oleh dunia, perlahan hubungan itu mulai melemah. Tidak putus sekaligus, tetapi memudar sedikit demi sedikit tanpa disadari.

Kesibukan adalah salah satu fitnah terbesar akhir zaman. Banyak orang sibuk dari pagi hingga malam, tetapi tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Jadwal penuh, agenda padat, notifikasi tidak berhenti, tetapi hati kosong. Tubuh bergerak ke mana-mana, namun ruh tetap berada di tempat yang sama: jauh dari Allah. Kesibukan yang tidak terarah sering kali menjadi jalan tercepat menuju kelalaian.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Baca Juga: Pejuang Media: Jihad dengan Suara dan Tulisan di Era Kompetisi Global

Betapa menggetarkan ayat ini. Ketika seseorang melupakan Allah, bukan hanya Allah yang terlupakan. Ia bahkan kehilangan jati dirinya sendiri. Ia tidak lagi tahu tujuan hidupnya, tidak mengerti mengapa ia gelisah, dan tidak memahami mengapa kebahagiaan terasa semakin jauh meskipun dunia semakin dekat.

Banyak orang hari ini sangat peka terhadap pesan dari sahabatnya, tetapi lambat merespons panggilan Allah. Mereka segera membuka pesan yang masuk ke telepon genggamnya, tetapi menunda membaca ayat-ayat Rabbnya. Mereka takut kehilangan teman, tetapi tidak takut kehilangan kedekatan dengan Allah. Padahal tidak ada sahabat yang lebih setia selain Allah, dan tidak ada kasih sayang yang lebih besar daripada kasih sayang-Nya.

Hati yang tidak lagi merasakan Allah biasanya tidak langsung mati. Ia sakit terlebih dahulu. Tanda-tandanya sederhana: malas beribadah, sulit khusyuk, berat menghadiri majelis ilmu, ringan melakukan maksiat, dan tidak lagi merasa bersalah ketika melanggar perintah Allah. Dosa yang dulu membuatnya menangis, kini hanya dianggap hal biasa.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka ditorehkan satu titik hitam pada hatinya.” (HR. Tirmidzi)

Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina

Titik demi titik terus bertambah. Awalnya hanya noda kecil. Lama-kelamaan menjadi lapisan tebal yang menutupi cahaya iman. Hati masih hidup secara fisik, tetapi kehilangan kepekaan spiritual. Mata masih melihat, tetapi tidak mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Telinga masih mendengar, tetapi tidak lagi mendengar panggilan hidayah.

Fenomena ini semakin marak di akhir zaman. Manusia mengenal banyak tokoh dunia tetapi tidak mengenal Rabbnya. Hafal jadwal artis, atlet, dan influencer, tetapi lupa kapan terakhir kali menangis karena takut kepada Allah. Mampu menghabiskan berjam-jam menatap layar, tetapi tidak sanggup menghabiskan beberapa menit untuk bermunajat kepada Sang Pencipta.

Allah menggambarkan keadaan seperti ini dalam firman-Nya, “Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.” (QS. Al-A’raf: 179)

Sungguh mengerikan jika seseorang masih hidup, tetapi fungsi hatinya telah mati. Ia berjalan di bumi, namun tidak lagi merasakan keagungan Allah. Ia melihat langit yang luas, tetapi tidak teringat kepada Sang Pencipta langit. Ia menikmati nikmat yang tak terhitung jumlahnya, tetapi jarang bersyukur kepada Pemberi nikmat tersebut.

Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi

Padahal setiap detik hidup kita adalah bukti kasih sayang Allah. Nafas yang keluar masuk tanpa biaya, jantung yang berdetak tanpa diperintah, udara yang gratis, kesehatan, keluarga, makanan, dan kesempatan bertaubat—semuanya adalah hadiah dari Allah. Namun karena terlalu sering menerima nikmat, manusia lupa menghargainya. Ia terbiasa dengan karunia sehingga tidak lagi merasakan kehadiran Sang Pemberi Karunia.

Ketika hati mulai jauh dari Allah, dunia terasa semakin sempit meskipun harta melimpah. Jabatan tinggi tidak mampu mengusir kegelisahan. Popularitas tidak dapat membeli ketenangan. Sebab ketenangan bukan berasal dari banyaknya dunia yang dimiliki, tetapi dari dekatnya hati dengan Allah.

Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa hati tenteram dengan uang, kedudukan, atau pujian manusia. Allah menegaskan bahwa ketenteraman sejati hanya lahir dari dzikir, dari hubungan yang hidup antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang  Mengikat Hati Orang Beriman

Kabar baiknya, selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu kembali kepada Allah masih terbuka. Hati yang keras masih bisa dilembutkan. Hati yang gelap masih bisa diterangi. Hati yang jauh masih bisa dipulangkan. Mulailah dengan taubat yang jujur, memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, menjaga shalat berjamaah, memperbanyak dzikir, dan berkumpul dengan orang-orang saleh yang mengingatkan kita kepada Allah.

Jangan tunggu hati benar-benar mati. Sebab hati yang mati tidak lagi merasa kehilangan Allah. Ia tidak lagi merindukan surga. Ia tidak lagi takut kepada neraka. Ia tidak lagi menangis saat mendengar ayat-ayat Allah. Dan inilah kerugian terbesar yang dapat menimpa seorang manusia di dunia sebelum kerugian yang lebih besar di akhirat.

Maka malam ini, sebelum tidur, cobalah bertanya kepada diri sendiri: kapan terakhir kali aku benar-benar merasakan Allah dekat denganku? Kapan terakhir kali aku menangis dalam sujud? Kapan terakhir kali aku bersyukur dengan sungguh-sungguh atas nikmat-Nya? Jika pertanyaan-pertanyaan itu terasa berat untuk dijawab, mungkin itulah tanda bahwa hati kita sedang memanggil untuk kembali kepada Rabbnya.

Karena pada akhirnya, bukan dunia yang akan menyelamatkan kita. Bukan manusia yang akan menemani kita di dalam kubur. Yang akan menerangi perjalanan panjang menuju akhirat hanyalah iman yang hidup, hati yang mengenal Allah, dan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya. Maka jangan biarkan hati kehilangan Rabbnya. Sebab ketika hati kehilangan Allah, ia akan kehilangan segalanya. Tetapi ketika hati menemukan Allah, meskipun dunia tidak berada di tangannya, ia telah menemukan segala yang dibutuhkannya.[]

Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Tausiyah
Hikmah
Hikmah
Tausiyah
Artikel