TIDAK ada satu pun manusia yang tahu kapan tirai hidupnya akan ditutup. Kita berangkat pagi dengan rencana, pulang sore dengan harapan, tidur malam dengan angan, seakan esok masih milik kita. Padahal Allah mengingatkan dengan tegas dan jujur, “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Pertanyaannya bukan apakah kita akan mati, tetapi kapan dan dalam keadaan apa kita mati.
Ajal tidak pernah menunggu kesiapan. Ia tidak menyesuaikan jadwal, tidak meminta izin, dan tidak peduli apakah kita sedang sibuk mengejar dunia atau menunda taubat. Betapa banyak orang yang pagi hari masih bercanda, siang hari terbaring, sore hari dishalatkan, dan malam hari sudah ditanamkan ke tanah. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi). Karena mengingat mati bukan untuk melemahkan hidup, tetapi untuk meluruskan arah hidup.
Jika hari ini ajal menjemput, apa yang kita bawa? Jabatan tidak ikut. Harta tertinggal. Popularitas memudar. Yang menemani hanyalah amal. Dalam hadis disebutkan, “Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua kembali, satu tinggal. Keluarga dan hartanya kembali, amalnya yang tinggal.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka betapa ruginya orang yang hidupnya dihabiskan untuk sesuatu yang tak ikut masuk ke liang lahat.
Muhasabah menjadi keharusan, bukan pilihan. Sudahkah shalat kita benar-benar menjadi penyejuk jiwa, atau hanya rutinitas tanpa rasa? Sudahkah Al-Qur’an kita baca dengan tadabbur, atau sekadar hiasan rak dan aplikasi ponsel? Sudahkah lisan kita lebih banyak berdzikir daripada mengeluh dan menyakiti? Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata, “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Banyak orang menunda taubat dengan alasan klasik: masih muda, masih ingin menikmati hidup, nanti saja kalau sudah tua. Padahal kematian tidak mengenal usia. Betapa banyak liang kubur yang diisi oleh orang-orang yang usianya masih muda. Allah berfirman, “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31). Taubat bukan tanda kita buruk, tetapi bukti bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Allah.
Ulama besar Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi.” Jika setiap hari berlalu tanpa amal, tanpa taubat, tanpa perbaikan diri, maka sejatinya kita sedang berjalan menuju kematian dalam keadaan rugi.
Pertanyaan penting yang harus kita ajukan pada diri sendiri: jika hari ini adalah hari terakhir, apakah kita siap bertemu Allah dengan keadaan hati yang bersih? Ataukah masih penuh dendam, iri, dan kebencian? Apakah hak-hak manusia sudah kita tunaikan? Ataukah masih ada hutang, kezaliman, dan janji yang kita abaikan? Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela, menuduh, memakan harta orang lain, dan menumpahkan darah…” (HR. Muslim).
Kematian sejatinya adalah cermin kejujuran. Di hadapannya, topeng dunia runtuh. Tidak ada lagi pencitraan. Tidak ada lagi alasan. Yang ada hanya perjumpaan dengan Allah Yang Maha Adil. Karena itu para ulama terdahulu hidup dengan kesadaran akhirat yang tinggi. Mereka bekerja keras, namun hati mereka selalu terikat dengan akhir perjalanan.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata, “Dunia telah pergi meninggalkan kita, dan akhirat sedang datang menghampiri. Maka jadilah anak akhirat, jangan menjadi anak dunia.” Bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkannya di tangan, bukan di hati.
Muhasabah tentang kematian bukan untuk membuat kita pesimis, tetapi agar hidup lebih bermakna. Orang yang ingat mati akan lebih jujur, lebih rendah hati, lebih sungguh-sungguh beramal, dan lebih lembut kepada sesama. Ia tidak mudah sombong karena tahu semuanya akan ditinggal. Ia tidak mudah putus asa karena tahu hidup ini sementara.
Jika hari ini ajal menjemput, semoga kita dipanggil dalam keadaan beriman. Semoga lisan kita terbiasa berdzikir, hati kita hidup dengan Al-Qur’an, dan amal kita menjadi saksi kebaikan. Karena kebahagiaan sejati bukan panjangnya usia, tetapi kesiapan bertemu Allah. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27–28).
Maka sebelum ajal benar-benar menjemput, mari kita jemput taubat, perbaiki niat, benahi amal, dan luruskan tujuan hidup. Karena kesempatan terbesar dalam hidup bukan umur yang panjang, tetapi kesempatan untuk pulang kepada Allah dalam keadaan siap.[]
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
















Mina Indonesia
Mina Arabic