Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersyukur Tak Bertapi, Bersabar Tak Bertepi

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:15 WIB

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:15 WIB

23 Views ㅤ

Ilustrasi: Berdoa (Gambar AI)

DALAM kehidupan ini, seringkali kita mendengar kalimat yang terasa begitu akrab di telinga, namun seringkali pula menjadi penghalang bagi hati untuk melangkah lebih jauh.

Kita kadang berkata, “Alhamdulillah, kabar baik.”

Namun tak lama kemudian disusul dengan kata “tapi….”.

“Tapi, kok begini?”

Baca Juga: Sesama Muslim Bersaudara: Merawat Ukhuwah, Membela yang Tertindas

“Tapi, kok belum lunas juga?”

“Tapi, mengapa masih terasa berat?”

Begitu pula ketika berbicara tentang kesabaran. Kita sering mendengar ungkapan, “Sabar itu ada batasnya.”

Padahal, jika kita renungkan lebih dalam, kalimat tersebut sesungguhnya adalah bisikan halus yang menjauhkan kita dari hakikat sabar yang sesungguhnya.

Baca Juga: Membaca Ulang Resolusi Jihad dan Makna Hari Santri Nasional

Sabar yang Memiliki Batas, Bukanlah Sabar

Jika sabar itu memiliki batas, maka ia bukanlah sabar. Ia hanyalah sebuah penantian yang diukur oleh kesanggupan manusia yang serba terbatas.

Sabar yang sejati adalah sabar yang tidak bertepi. Ia mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, mengakar seperti pohon yang akarnya menghunjam ke dasar bumi, tak tergoyahkan oleh badai.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an, sebuah janji yang seharusnya membuat hati kita bergetar dan mata kita basah:

Baca Juga: Alhamdulillah di Ufuk Pagi: Mensyukuri Terbukanya Mata

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Allah tidak mengatakan “dengan pahala yang besar,” tetapi “tanpa batas” (bi ghairi hisab).

Ini adalah isyarat yang sangat jelas. Jika balasan bagi orang yang sabar itu tanpa batas, maka sudah sepatutnya sabar itu sendiri tidak boleh dibatasi oleh keinginan kita yang serba instan.

Baca Juga: Pentingnya Tabayun dan Relevansinya di Era Digital

Sabar yang bertepi hanya akan menghasilkan pahala yang bertepi pula. Namun, sabar yang tak bertepi akan menuai ganjaran yang melampaui perhitungan manusia.

Keajaiban Seorang Mukmin

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan sebuah gambaran yang begitu indah tentang keajaiban seorang mukmin.

Sebuah gambaran yang seharusnya menjadi kacamata kita dalam melihat setiap peristiwa hidup:

Baca Juga: Ketika Kemarau Panjang Melanda: Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Shalat Istisqa

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak akan terjadi kecuali pada diri seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Inilah keajaiban iman. Bagi seorang mukmin, tidak ada ruang untuk “tapi”. Ketika nikmat datang, ia tidak perlu ragu untuk bersyukur. Ketika musibah datang, ia tidak perlu menawar untuk bersabar.

Keduanya adalah jalan menuju kebaikan. Syukur bukanlah sekadar mengucapkan “Alhamdulillah” ketika hati senang, melainkan sebuah pengakuan bahwa segala nikmat adalah karunia Allah yang harus digunakan untuk taat kepada-Nya.

Baca Juga: Rizky Ridho Selebrasi dengan Sujud Syukur, Ini Maknanya dalam Islam

Syukur yang Menambah, Sabar yang Menyempurnakan

Allah telah menjanjikan sebuah transaksi yang sangat menguntungkan bagi hamba-Nya yang bersyukur. Dalam QS. Ibrahim ayat 7, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu’.”

Baca Juga: 2 Oktober 1187: Ketika Panglima Shalahuddin Membebaskan Masjid Al-Aqsa

Bersyukur adalah tali yang mengikat nikmat agar tidak lepas. Ketika kita bersyukur, kita tidak hanya mempertahankan apa yang ada, tetapi kita membuka pintu bagi turunnya nikmat yang baru. Syukur adalah magnet yang menarik datangnya kebaikan.

Namun, di sisi lain, ketika ujian datang menghampiri, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian. Dia menyertai orang-orang yang sabar.

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 46).

Kebersamaan Allah adalah segalanya. Jika Allah sudah bersama kita, apa lagi yang perlu kita takutkan? Musibah mungkin terasa berat, tetapi kebersamaan Allah membuatnya terasa ringan. Duka mungkin menyakitkan, tetapi janji Allah bahwa pahala sabar itu tanpa batas membuat hati menjadi lapang.

Baca Juga: Seruan untuk Menjaga Planet dan Taubat Global Untuk Lingkungan Hidup

Marilah kita renungkan kembali. Betapa seringnya kita menuntut batas pada sesuatu yang seharusnya tidak dibatasi. Kita menuntut sabar memiliki batas, padahal pahala sabar tidak terbatas. Kita menuntut syukur hanya pada saat senang, padahal syukur yang sejati adalah ketika kita tetap bisa melihat kebaikan Allah bahkan di tengah badai.

Seorang mukmin sejati adalah ia yang hatinya telah diajari oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk tidak mengenal kata “tapi” dalam menerima ketetapan Allah.

Ketika senang, langsung bersyukur.

Ketika susah, langsung bersabar.

Baca Juga: Doa Menyambut Turunnya Hujan yang Membasahi Bumi

Tidak ada tawar-menawar, tidak ada keluhan yang berkepanjangan. Karena ia tahu, semua yang datang dari Allah adalah untuk kebaikannya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur dan kuat dalam bersabar.

Hamba yang tidak pernah membatasi nikmat-Nya dengan keluhan, dan tidak pernah membatasi kesabarannya dengan keinginan duniawi. Aamiin. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ketika Bulan Sabit dan Venus Berdampingan di Ufuk Barat

Rekomendasi untuk Anda

Hikmah
Hikmah
Hikmah
Tausiyah
Hikmah
Dunia Islam