Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

JK: Eskalasi Konflik Timteng Berdampak pada Perekonomian Nasional

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 1 Maret 2026 - 17:38 WIB

Ahad, 1 Maret 2026 - 17:38 WIB

21 Views ㅤ

Muhammad Jusuf Kalla (foto: Wiki)

Jakarta, MINA – Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) mengingatkan publik Indonesia akan potensi dampak serius dari eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel, terutama pada sektor energi dan perekonomian nasional.

Menurut JK, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia yang akan langsung dirasakan oleh masyarakat Indonesia yang sangat bergantung pada impor energi.

JK menekankan bahwa kenaikan harga minyak global bukanlah ancaman abstrak, tetapi risiko nyata yang bisa memperberat beban ekonomi rumah tangga.

Ia mencatat gejolak militer di kawasan Teluk Persia dapat mengganggu pasokan dan rantai logistik energi global, sehingga berdampak pada ketersediaan dan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik.

Baca Juga: Menko Yusril: Kasus Penyadapan Presiden Belum Mengarah ke Makar

Lebih jauh, JK juga menyoroti potensi gangguan pada ekspor Indonesia ke pasar Eropa akibat meningkatnya ketakutan investor dan ketidakpastian pasar global. Kondisi ini, menurutnya, dapat memperlambat arus perdagangan dan menekan pertumbuhan ekonomi nasional jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang kuat.

Pengamat energi menyatakan konflik tersebut memang telah membuat harga minyak mentah dunia bergerak naik. Pasokan global yang terganggu dengan ancaman penutupan jalur kunci seperti Selat Hormuz yang menghubungkan produksi minyak Timur Tengah ke pasar internasional, bisa mendorong harga Brent crude hingga menembus level di atas US$100 per barel jika konflik berkepanjangan.

Situasi ini juga memperkuat kekhawatiran para ekonom tentang kemungkinan lonjakan inflasi di Indonesia, terutama pada komoditas yang sensitif terhadap harga energi. Selain itu, tekanan pada nilai tukar rupiah dan biaya logistik diprediksi akan meningkat seiring harga minyak global yang terus naik akibat eskalasi konflik tersebut.

Konflik bersenjata antara Iran dan Israel, yang melibatkan dukungan militer AS, telah memicu gelombang reaksi di pasar energi global sejak awal tahun. Kawasan Teluk Persia dikenal sebagai salah satu pusat produksi minyak dunia, dan setiap ancaman terhadap jalur pasokan, seperti penutupan Selat Hormuz.

Baca Juga: Listyo Sigit Ditahan di Mabes Polri, Kasus Penyadapan HP Presiden Prabowo

Ekskalasi militer terbaru telah membuat kelompok negara eksportir minyak (OPEC+) mempertimbangkan peningkatan produksi untuk meredam tekanan pasar, namun ketidakpastian masih mendominasi pasar global.

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Mantan Kapolri Listyo Sigit dan Dua Jenderal Polri Ditangkap Terkait Penyadapan Nomor Telepon Presiden

Rekomendasi untuk Anda